Prinsip-prinsip Pengajaran Bahasa

A. PENDAHULUAN
Mengajar adalah sebuah proses yang dilakukan seseorang (dalam hal ini adalah guru) yang memungkinkan terjadinya pembelajaran pada siswa. Pengajaran tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran. Oleh karena itu, guru dituntut untuk dapat memfasilitasi siswa secara efektif agar terjadi pembelajaran dimana siswa berperan aktif dalam mengembangkan dirinya untuk mencapai berbagai kecakapan.
Namun, sering kali seorang guru, khususnya yang belum memiliki banyak pengalaman mengajar, memilih metode pengajaran secara acak tanpa mengetahui teori yang mendasarinya dan tanpa mempertimbangkan karakteristik siswa. Padahal, apabila guru mengetahui prinsip prinsip pengajaran bahasa dan menerapkannya dalam pengajarannya, maka proses belajar mengajar akan menjadi lebih baik.
Makalah ini berisi dua belas prinsip pengajaran bahasa yang dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu: kognitif, afektif, dan linguistik. Prinsip prinsip ini diambil dari pendekatan pengajaran bahasa.

B. ISI
Menurut Brown (2001) ada dua belas prinsip pengajaran bahasa dan keduabelas prinsip tersebut dipetakan menjadi tiga bagian, yaitu: Kognitif, Afektif, dan Linguistik

Prinsip Prinsip Kognitif

Dikatakan prinsip kognitif karena pada umumnya berkaitan dengan fungsi mental dan intelektual. Menurut pandangan kognitif proses belajar yang terjadi dalam diri individu adalah suatu proses penerimaan informasi. Belajar dimulai dari input yang datang dari lingkungan diterima oleh panca indera, kemudian diproses dan disimpan di dalam memori dan output dari pembelajaran adalah berbagai kemampuan atau competencies. (Jamaris: 2010)
Ada lima prinsip kognitif, yaitu: Otomatisasi, Pembelajaran Bermakna, Antisipasi Penghargaan, Motivasi Intrinsik, dan Strategi Investasi. Berikut adalah uraian lebih detail tentang kelima prinsip kognitif tersebut.

Prinsip 1: Otomatisasi
Anak biasanya memperoleh bahasa dari lingkungan. Pada awalnya anak anak mendengarkan dan mengamati orang lain yang menggunakan suatu bahasa dan tanpa disengaja apa yang didengar dan diamatinya tersebut akan masuk ke alam bawah sadarnya. Ketika akhirnya dia siap menggunakan bahasa maka dia akan mempraktekkan apa yang didengar atau diamatinya tersebut. Anak anak sering kali tidak memikirkan apa yang diucapkannya, dalam artian, mereka menggunakan bahasa secara otomatis tanpa takut membuat kesalahan.
Pembelajar bahasa, baik anak anak maupun orang dewasa, diharapkan dapat mengadaptasi cara seorang anak memperoleh bahasa dari lingkungan. Artinya, mereka harus mampu memproduksi bahasa tanpa memikirkan kata per kata, atau berfokus pada struktur dan bentuk kalimat. Dimulai dari memproses bahasa yang sepatah demi sepatah lambat laun menjadi lebih lancar dan otomatis. Dengan begitu bahasa yang dipelajari tidak hanya berupa pengetahuan tetapi merupakan kompetensi.
Yang perlu diperhatikan pada prinsip otomatisasi antara lain:
• Penyerapan bahasa secara tak sadar melalui komunikasi langsung di dalam kelas.
Pembelajar perlu difasilitasi dengan bahasa target dalam berbagai kesempatan. Belajar bahasa dimulai dengan mendengar, maka guru disini berperan sebagai Language Model. Guru menyampaikan pelajaran dengan bahasa target sekaligus menunjukkan bahasa yang benar pada siswa. Apabila terjadi pengulangan beberapa kata atau kalimat dalam pembelajaran, misalnya guru mengatakan, ”Clean the white board, please!”, ”Open your book page 21”, ”Be quiet, please!” pada awalnya mungkin siswa tidak mengetahui artinya, namun, apabila guru sering mengulang kalimat tadi, secara tidak sadar kalimat tadi akan masuk ke ingatan jangka panjangnya dan bertahan disana. Siswa juga akan menggunakan kalimat kalimat tersebut ketika berada pada situasi yang mirip atau serupa. Hal ini juga berlaku pada pembelajaran bahasa Indonesia.
• Penggunaan bahasa yang efisien dan lancar difokuskan pada maksud daripada bentuk.
Jane Willis dalam Hammer () mengatakan, ”Terkadang kami mempelajari bentuk kalimat setelah siswa menyelesaikan tugas mereka, hal ini dilakukan untuk memperbaiki kesalahan struktur yang dilakukan siswa dalam penggunaan bahasa ketika melakukan tugas, atau ketika dirasa siswa akan lebih leluasa menggunakan bahasa apabila tidak mengetahui struktur bahasa tertentu”. Dapat disimpulkan mengapa Jane Willis memberi penjelasan tentang struktur atau bentuk (grammar) adalah agar siswa lebih fokus pada penyampaian maksud daripada hanya berdiam diri karena takut membuat kesalahan.
• Menghindari analisis bentuk bahasa ketika memproduksi ujaran.
Prinsip otomatisasi tidak mengatakan bahwa berfokus pada bentuk bahasa akan berbahaya atau menghambat kelancaran penggunaan bahasa namun prinsip ini lebih menganjurkan pada pembelajaran yang bermakna dengan lebih menggunakan bahasa sebagaimana fungsinya (menyampaikan maksud, berkomunikasi) pada konteks otentik.

Beberapa implikasi dari prinsip otomatisasi pada pembelajaran, antara lain:
1. Biasanya pembelajaran bahasa dimulai dengan pengenalan pada sistem bahasa (struktur, fonologi, wacana, dll.) karena tidak ada peraturan yang melarang pembelajaran yang demikian. Namun, jangan sampai karena mempelajari bentuk siswa menjadi tidak otomatis dalam menggunakan bahasa. Beri penekanan lebih pada penyampaian maksud agar dapat menggunakan bahasa dengan lancar.
2. Pastikan pembelajaran bahasa berfokus pada penggunaan bahasa. Gunakan bahasa yang otentik pada setiap kesempatan (Hadley: 2001). Hadley juga menuliskan, ”Siswa harus terus didorong untuk mengekspresikan maksud mereka seawal mungkin setelah keterampilan produktif (berbicara, menulis) dipelajari”. Dengan menggunakan bahasa sesuai konteks (seperti berbicara tentang hobi, cita cita, harapan, dll.), siswa akan lebih leluasa menyampaikan pendapat dan maksud. Pembelajaran yang demikian juga akan bertahan di memori jangka panjang.
3. Otomatisasi tidak dapat dicapai dalam semalam, maka, guru perlu melatih siswa dengan sabar dan terus membantu mereka mencapai kefasihan.

Prinsip 2: Pembelajaran Bermakna
Brown (2007) mengatakan bahwa situasi pembelajaran bisa bermakna jika (1) pembelajar memiliki perangkat pembelajaran bermakna, yaitu sebuah kecenderungan untuk mengaitkan kegiatan pembelajaran baru dengan apa yang telah mereka ketahui, dan (2) kegiatan pembelajaran itu sendiri punya kemungkinan bermakna bagi pembelajar, yaitu bisa dihubungkan dengan struktur pengetahuan pembelajar. Proses pada pembelajaran bermakna mirip dengan pendekatan pemrosesan informasi yang menyatakan bahwa murid mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut. Inti dari pendekatan ini adalah proses berpikir. (Santrock: 2007).
Pembelajaran bermakna merupakan tantangan bagi pembelajaran hafalan yang merupakan proses penguasaan materi secara terpisah pisah dan acak, yang tidak memungkinkan pembentukan makna. Pembelajaran bermakna akan bertahan lebih lama di ingatan siswa.

Beberapa implikasi dari prinsip pembelajaran bermakna pada pembelajaran, antara lain:
1. Ajak siswa berbicara tentang bakat, minat, harapan, dan pandangan mereka tentang sesuatu agar mereka terdorong untuk berbicara.
2. memberikan scaffolding, menjembatani siswa dengan pengetahuan sebelumnya sebelum memperkenalkan pengetahuan selanjutnya, agar siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan mudah.
3. Hindari teknik yang sering dipakai pada pembelajaran hapalan, seperti:
a. Terlalu banyak penjelasan tentang struktur atau bentuk bahasa.
b. Terlalu banyak teori dan prinsip bahasa.
c. Terlalu banyak latihan (drilling) dan hafalan.
d. Kegiatan pembelajaran yang tidak jelas.
e. Kegiatan pembelajaran yang hanya merupakan kumpulan pengetahuan dan tidak bermakna.

Prinsip 3: Antisipasi Penghargaan
Manusia secara umum dikendalikan oleh ”reward” tertentu dalam melakukan sesuatu. Manusia melakukan sesuatu karena memiliki maksud dan tujuan. Hal itu adalah hasil dari perilaku seperti teori Skinner tentang operant conditioning. Dalam pembelajaran, penghargaan (reward) seringkali membuat siswa semangat untuk belajar, hanya saja ketika guru tidak lagi memberi suatu reward, maka siswa akan kurang termotivasi. Apabila siswa tidak memiliki motivasi untuk belajar tentu saja tujuan pembelajaran tidak akan tercapai.

Beberapa implikasi dari prinsip ini pada pembelajaran, antara lain:
1. memberikan reinforcement dalam bentuk verbal (pujian) atau nonverbal (acungan jempol) daripada materi. Tapi hindari pujian yang berlebihan karena akan membuatnya menjadi tidak bermakna. Pemberian reinforcement cukup ditujukan untuk membuat siswa tetap termotivasi.
2. Beri dorongan pada siswa untuk saling memuji atau memberikan motivasi.
3. Pada kelas dengan tingkat motivasi yang sangat rendah, guru dapat memberikan reward berupa gambar atau sticker lucu agar siswa lebih termotivasi.
4. Jadilah guru yang dapat menarik perhatian siswa. Menciptakan suasa kelas yang menyenangkan dengan memvariasikan metode pengajaran dan memfasilitasi pengajaran dengan alat bantu belajar yang menimbulkan semangat belajar siswa.
5. Memberitahu siswa kegunaan jangka panjang penguasaan bahasa yang mereka pelajari dengan menunjukkan apa apa saja yang bisa mereka raih dan dapatkan di masa mendatang apabila mereka dapat menggunakan bahasa tersebut dengan baik.

Prinsip 4: Motivasi Intrinsik
Motivasi Intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya, murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu. (Santrok: 2007). Reward yang paling kuat adalah yang berasal dari diri sendiri. Apabila siswa memiliki motivasi intrinsik, maka tanpa ada penghargaan dari guru pun siswa akan tetap belajar. Mereka bahkan tidak butuh guru lagi!.
Untuk itu, peran guru dalam menangani siswa dengan motivasi intrinsik yang tinggi adalah dengan pertama tama mencari tahu apa yang mendasari motivasi intrinsik siswa. Dengan mengetahui alasannya, maka guru akan dapat memilih kegiatan pembelajaran atau metode pengajaran yang merespon kebutuhan siswa sekaligus memupuk motivasi mereka.

Prinsip 5: Investasi Strategi
Beberapa dekade lalu, pembelajaran bahasa sebagian besar menekankan pada penyampaian bahasa pada siswa. Pembelajaran yang berhasil bergantung pada guru, buku teks, bahkan struktur bahasa. namun, beberapa tahun terakhir, telah banyak penelitian tentang pembelajar yang berhasil dan tidak berhasil dan guru sekarang lebih berfokus pada peran murid dalam pembelajaran. Proses pembelajaran bergeser dari teacher centered menjadi learner centered.
Metode yang digunakan pembelajar dalam usahanya untuk memahami dan menampilkan suatu bahasa sama pentingnya dengan metode yang digunakan guru dalam mengajar. Dapat dikatakan, kesuksesan penguasaan bahasa kedua atau bahasa asing terletak pada “investasi” pembelajar bahasa pada waktu, usaha, dan perhatiannya pada bahasa yang dipelajari. Setiap siswa memiliki atau menggunakan metode atau strategi yang berbeda beda dalam mengirimkan dan menerima suatu bahasa, untuk itu guru perlu memberi perhatian yang sama pada semua siswa agar dapat menyesuaikan kegiatan belajar dengan kebutuhan siswa. Prinsip investasi strategi ini merupakan pengingat bagi guru untuk memberi sebanyak banyaknya perhatian pada tiap tiap siswa.
Beberapa implikasi dari prinsip strategi investasi pada pembelajaran, antara lain:
1. Memberikan perhatian yang sama pada semua siswa.
2. Mengetahui gaya belajar masing masing siswa.
3. Menggunakan teknik pengajaran yang bervariasi disesuaikan dengan gaya belajar para siswa. Teknik yang bervariasi akan ”menggapai” sebagian besar siswa.

Prinsip-prinsip Afektif

Belajar merupakan upaya sadar untuk mencapai perubahan perilaku secara keseluruhan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek afektif memegang peranan yang penting dalam menentukan tingkat kesuksesan dalam belajar, bekerja, ataupun kegiatan yang lainnya.
Afeksi mengacu kepada emosi atau perasaan. Ranah afektif adalah sisi emosional dalam perilaku manusia, dan dapat disandingkan dengan sisi kognitif. Emosi atau perasaan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor kepribadian, perasaan tentang diri sendiri maupun tentang orang lain yang berhubungan dengan dirinya. Banyak variabel yang terlibat dalam mengkaji sisi emosional perilaku manusia dalam proses pembelajaran bahasa seperti rasa harga diri, rasa percaya diri, kenal akan diri sendiri, dan percaya akan kemampuan diri sendiri (Brown, 2008:166-167)
Dalam belajar bahasa, seseorang harus yakin pada dirinya sendiri agar berhasil dengan baik. Jika seseorang merasa dirinya mampu melaksanakan suatu tugas atau memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, ia akan berupaya secara optimal demi mencapai keberhasilan. Sebaliknya, seseorang dengan kepercayaan diri yang rendah cenderung membayangkan kegagalan karena kurangnya kemampuan sejak awal.
Siapapun yang belajar bahasa kedua harus benar-benar menyadari bahwa dalam belajar bahasa tidak boleh takut salah. Karena seperti anak-anak yang sedang belajar bahasa pertama yang mengalami peningkatan kemampuan bahasa atau bahasanya akan menjadi lebih baik dengan belajar dari kesalahan.
Ada empat prinsip yang termasuk ke dalam kelompok prinsip pengajaran bahasa afektif ini. Keempatnya ditandai dengan adanya keterlibatan emosional, baik secara pribadi sebagai pelajar atau yang berhubungan dengan orang lain sebagai makhluk sosial.

Prinsip 6: Ego Bahasa (Language Ego)
Menurut prinsip ini, apabila seseorang belajar untuk menggunakan bahasa kedua, maka ia juga mengembangkan identitas kedua (cara berpikir, merasa, dan bertindak) terkait dengan bahasa kedua yang dia gunakan. Jika siswa belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, mereka akan mengalami krisis identitas karena mereka sedang mengembangkan identitas kedua. Kadang kala siswa merasa bingung karena mereka kurang memahami budaya dan cara hidup penutur asli bahasa kedua tersebut. Misalnya, siswa merasa dirinya konyol atau dipermalukan ketika dia membuat kesalahan dalam pemilihan kata atau tata bahasa dalam berkomunikasi. Dalam hal ini siswa akan merasa rapuh, defensif dan menimbulkan berbagai hambatan.

Implikasi dalam pengajaran:
1. Guru selalu bersikap mendorong siswa untuk tidak cemas dalam menggunakan bahasa target. Salah satu upaya untuk mengurangi kecemasan siswa yaitu dengan mencoba mengemas materi pelajaran mulai dari yang mudah secara bertahap sampai pada tahap yang sulit ataupun menantang.
2. Brown (2001: 62) menegaskan bahwa karena adanya unsur kerapuhan pada diri siswa dalam belajar bahasa, maka guru seharusnya memperlakukan mereka dengan penuh kelembutan dan sikap yang bijak. Dalam hal ini, kesabaran dan pengertian diperlukan untuk menahan emosi mereka sehingga dapat mempermudah proses penguasaan bahasa kedua tersebut.

Prinsip 7: Percaya Diri (Self Confidence)
Prinsip ini sangat penting dikembangkan dalam diri pembelajar bahasa karena akhir dari keberhasilan yang dicapai siswa tergantung pada prinsip percaya diri sehingga siswa bisa memahami pelajaran tersebut. Dengan kata lain, keyakinan pembelajar akan kemampuannya akan menjadi faktor berhasilnya dalam mencapai tujuan.
Dalam hal ini disampaikan bahwa sangat penting bagi para pembelajar untuk yakin pada diri sendiri agar berhasil mengerjakan serangkaian tugas yang diberikan. Pembelajaran bahasa kedua bisa sangat melelahkan hingga para pembelajar bisa dan sering kehilangan momentum karena dikepung banyaknya keraguan diri. Salah satu peran terpenting dari guru yang baik adalah memudahkan siswa-siswanya meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Implikasinya terhadap pengajaran yaitu:
1. Guru sebaiknya mencoba menemukan apa yang siswa bisa dan apa yang siswa tidak bisa. Ini penting untuk mengembangkan sikap percaya diri pada diri siswa. Salah satu caranya adalah mengajukan pertanyaan yang kira-kira siswa mampu menjawabnya.
2. Materi pelajaran sebaiknya ditata mulai dari yang mudah ke yang sulit agar siswa merasa mampu mengerjakan tugasnya. Guru memulai pelajaran dengan hal-hal yang mudah dan memberikan contoh-contoh yang akrab dengan kehidupan siswa.
Prinsip 8: Pengambilan Resiko (Risk-Taking)
Prinsip ini bermanfaat untuk menumbuhkan keberanian siswa agar tidak takut menggunakan bahasa target. Prinsip ini menyarankan agar siswa dibiasakan untuk berani mengambil resiko dalam menggunakan bahasanya dengan tidak takut berbut salah. Seperti yang dikemukakan oleh Brown (2008: 174) bahwa para pembeljar harus mampu sedikit berjudi, harus bersedia menguji coba firasat tentang kemampuan berbahasa dan mengambil resiko salah. Prinsip ini sering digunakan siswa-siswa yang berhasil dalam belajar bahasa.
Implikasinya dalam pengajaran:
1. Guru harus kreatif dalam menciptakan atmosfir kelas yang kondusif untuk mendorong siswa agar secara tidak sadar memaksa dirinya untuk menggunakan bahasa target. Seperti mengajukan pertanyaan sederhana dalam bahasa target tentang hal-hal yang akrab dengan siswa.
2. Guru juga dapat menyediakan tantangan yang masuk akal yang tidak mudah dan tidak terlalu sulit. Seperti menantang siswa membuat teka-teki menggunakan bahasa target.
3. Guru juga harus memberi penguatan kepada siswa dengan memberikan pujian pada siswa yang berani menggunakan bahasanya.

Prinsip 9: Hubungan Bahasa dan Budaya (The Language-Culture Connection)
Prinsip ini berfokus pada hubungan kompleks antara bahasa dan budaya. Dalam kehidupan manusia, bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tak terpisahkan karena bahasa termasuk bagian dari budaya, sehingga menjadi sangat penting dalam pembelajaran bahasa kedua. Sebaliknya, bahasa juga merupakan faktor penting dalam pengembangan dan pemertahanan budaya.
Budaya mengacu kepada gagasan, kebiasaan, keterampilan, seni, dan piranti yang mencirikan sekelompok orang dalam sebuah periode waktu tertentu. Budaya melibatkan sikap, nilai, keyakinan, norma, dan perilaku yang dianut bersama oleh sebuah kelompok tetapi dijaga secara berbeda oleh setiap unit spesifik di dalam kelompok yang bersangkutan, dikomunikasikan lintas generasi, relatif stabil tetapi mempunyai peluang untuk berubah seiring waktu (Matsumoto, 2000 dalam Brown, 2007:206-207).
Pendidikan bahasa kedua masih didominasi oleh pandangan esensialis budaya di mana sikap dan kemampuan bahasa siswa sangat dipengaruhi oleh stereotip, budaya, etnis, regional, atau agama mereka. Untuk mengatasi ini, diperlukan pendekatan desentralisasi dan lokalitas, di mana guru dan siswa mengenali dan memahami keragaman dan kompleksitas budaya mereka.
Apabila seseorang guru mengajarkan suatu bahasa, maka guru juga mengajarkan sistem yang kompleks dari adat, budaya, nilai, dan cara berpikir, merasa, dan bertindak penutur asli bahasa tersebut. Bahasa dan budaya saling terkait, oleh karena itu, jika seseorang berhasil belajar suatu bahasa, dia juga belajar sesuatu dari budaya si penutur asli bahasa itu. Dengan kata lain, pemahaman lintas-budaya merupakan aspek penting dalam belajar bahasa.

Implikasinya dalam pengajaran:
1. Guru bahasa dapat membahas perbedaan lintas-budaya dengan siswa dengan menekankan bahwa tidak ada budaya yang lebih baik daripada budaya yang lain dan menekankan bahwa mempelajari budaya bahasa target adalah penting untuk praktiknya nanti.
2. Guru juga dapat menggunakan bahan-bahan tertentu yang menggambarkan hubungan antara bahasa dan budaya serta membahas aspek sosiolinguistik bahasa. Seperti mengambil bahan untuk materi ajar tentang kebudayaan dari majalah ataupun media lainnya.
3. Untuk membuat pengajaran lebih hidup guru juga dapat menampilkan tayangan yang berkenaan dengan aspek budaya, dan sebagainya. Seperti menampilkan video tentang kebiasaan atau hal-hal yang lazim yang sering dilakukan oleh pengguna bahasa target.
4. Selain memperkenalkan budaya bahasa target guru juga memperkenalkan budaya bahasa sendiri dan membandingkan perbedaan-perbedaannya.

Prinsip-prinsip Linguistik

Kategori ini berpusat pada bahasa itu sendiri dan bagaimana peserta didik memahami sistem linguistik yang kompleks. Berdasarkan teori-teori kebahasaan, dirumuskan prinsip-prinsip mengenai pengajaran bahasa, antara lain kemampuan berbahasa adalah sebuah proses kreatif, maka siswa harus diberi kesempatan yang luas untuk mengkreasi ujaran-ujaran dalam situasi komunikatif yang sebenarnya, bukan sekedar menirukan dan menghafalkan, pemilihan materi pelajaran pada kebutuhan komunikasi dan penguasaan fungsi-fungsi bahasa, dan kaidah-kaidah dapat diberikan sepanjang hal itu diperlukan oleh siswa sebagai landasan untuk dapat mengkreasi ujaran-ujaran sesuai dengan kebutuhan komunikasi.
Ada tiga prinsip pengajaran bahasa yang termasuk ke dalam kelompok linguistik ini, yaitu prinsip pengaruh bahasa ibu, prinsip antarbahasa, dan prinsip kompetensi komunikatif.

Prinsip 10: Pengaruh Bahasa Ibu
Prinsip ini menekankan pentingnya bahasa ibu siswa dalam upaya mempelajari bahasa kedua karena bahasa ibu siswa memberikan pengaruh yang kuat terhadap akuisisi sistem bahasa target. Pengaruh ini dapat bersifat mendukung atau mengganggu proses produksi dan pemahaman bahasa yang baru, dan ternyata efek mengganggu cenderung lebih menonjol.
Ada dua bentuk pengaruh bahasa ibu yaitu interfering and facilitating. Dalam hal ini dimisalkan bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia dan bahasa target adalah bahasa Inggris. kesamaan pola kalimat bahasa Indonesia dan bahasa Inggris membantu siswa dalam menganalisis kalimat-kalimat pada bahasa target. Sebaliknya, perbedaan pola frase nomina yang diterangkan oleh adjektiva yang berlawanan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sering kali menyulitkan bagi siswa yang berbahasa Indonesia mempelajari bahasa Inggris. Misalnya pada kata rumah besar dalam bahasa Indonesia dan big house dalam bahasa Inggris. dengan mengetahui dua bentuk pengaruh ini guru dapat mengidentifikasi kesalah siswa dalam menggunakan bahasa target yang disebabkan oleh pengaruh bahasa ibu.

Implikasi dalam pengajaran:
1. Guru seharusnya mengagap kesalahan siswa sebagai jendela yang menjadi dasar dalam memberikan umpan balik yang tepat kepada siswa. Setiap kesalahan yang dilakukan oleh siswa harus dikomentari oleh guru dan diberi penjelasan tentang hal yang benarnya.
2. Memberi pemahaman kepada siswa bahwa tidak semua sistem bahasa ibu mereka akan menyebabkan kesalahan pada bahasa target. Memberi pemahaman juga bahwa bahasa ibu dapat memfasilitasi mereka menggunakan bahasa target dan mengurangi interferensinya.
3. Mengajak siswa untuk berpikir dalam bahasa kedua, bukan mencari terjemahan kata atau frase, tetapi lebih baik menggunakan langsung dari bahasa kedua.

Prinsip 11: Antar Bahasa (Interlanguage)
Prinsip antarbahasa ini menekankan adanya pengaruh bentuk-bentuk bahasa terhadap bahasa yang lain. Pembelajar bahasa kedua cenderung mendapatkan pengaruh dari bentuk-bentuk bahasa terdahulu saat mereka berusaha untuk menguasai bahasa kedua. Terkadang bahasa asli ditransfer secara negatif, maka terjadilah interferensi. Akan tetapi, penting juga untuk diingat bahwa bahasa asli pembelajar bahasa kedua sering juga ditransfer secara positif sehingga memudahkan dalam belajar bahasa kedua.
Interferensi bahasa merupakan sumber kesalahan yang paling mencolok di kalangan pembelajar bahasa kedua. Sering kali, siswa beranggapan apa yang mereka pahami atau katakan adalah benar, tetapi dari sudut pandang penutur asli, belum tentu benar. Misalnya, seorang pelajar mengatakan “Does John can sing?” Mungkin pelajar ini yakin bahwa dia sudah menggunakan gramatika yang benar karena berdasarkan pemahaman bahwa pertanyaan dalam bahasa Inggris memerlukan auxiliary do. kajian antarbahasa memang sering menghasilkan analisis kesalahan, untuk itu guru harus mampu membedakan setiap kesalahan agar mudah untuk memberikan penjelasan untuk perbaikan nantinya.

Implikasi dalam pengajaran:
1. Guru membedakan antara kesalahan interlanguage dan kesalahan lainnya.
2. Memberi toleransi untuk bentuk kesalahan interlanguage tertentu yang mungkin timbul dari proses perkembangan logis siswa.
3. Tidak membuat siswa merasa bodoh karena kesalahan interlanguage; misalnya dengan mengatakan “I can understand why you said ‘I go to the doctor yesterday’, but try to remember that in English we have to say the verb in the past tense. Okay?”
4. Memberikan umpan balik kepada siswa dan member pesan bahwa melakukan kesalahan bukanlah sesuatu yang buruk. Karena dari kesalahan dapat membuat pemahaman yang kuat pada bahasa target.
5. Menciptakan kegiatan dimana siswa dapat mengoreksi kesalahannya sendiri.
6. Guru sebagai penilai harus mampu menyeleksi tiap kesalahan dan memaparkan kesalahan dengan bijak dan tidak menyudutkan siswa.

Prinsip 12: Kompetensi Komunikatif
Prinsip ini menekankan bahwa kompetensi komunikatif merupakan tujuan dari kelas bahasa. Mengingat bahwa kompetensi komunikatif adalah tujuan dari kelas bahasa, pembelajaran perlu menunjuk ke arah semua komponennya: organisasi, pragmatis, strategis. dan psikomotor. Tujuan komunikatif akan tercapai dengan baik melalui penggunaan bahasa yang tidak hanya untuk tujuan akurasi tetapi juga untuk kefasihan atau kelancaran dan kegunaannya di dunia nyata.

Beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan dalam menerapkan prinsip ini dalam kelas bahasa:
1. Penjelasan tata bahasa hanya bagian dari sebuah pelajaran atau kurikulum, sehingga jangan mengabaikan komponen penting lainnya (misalnya, fungsional, sosiolinguistik, psikomotor, dan strategis) dari kompetensi komunikatif.
2. Jangan lupa mengajarkan kemampuan psikomotor (pengucapan) karena terlalu antusias mengajar aspek fungsional dan sosiolinguistik. Misalnya, melatih pronunciation dan intonasi berbicara dalam bahasa target.
3. Pengajaran bahasa menekankan pada autentisitas, interaksi, dan komunikasi untuk kepentingan sehari-hari. Contohnya mengajarkan bagaimana cara menanyakan informasi dalam bahasa target dan lain sebagainya.
4. Siswa harus memiliki kesempatan untuk mendapatkan kefasihan dalam bahasa Inggris tanpa harus terus waspada terhadap kesalahan-kesalahan kecil karena sesungguhnya mereka belajar dari kesalahan-kesalahan itu.
5. Mempersiapkan siswa menjadi pembelajar mandiri nantinya ketika sudah selesai dari kelas yang guru ajarkan.

III. PENUTUP

Pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulis dalam berbagai konteks komunikasi. Oleh karena itu, pengajaran bahasa memperhatikan prinsi-prinsip belajar bahasa dan kemudian mengimplementasikannya ke dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Prinsip-prinsip yang telah dijelaskan di atas merupakan fondasi utama dalam praktik pengajaran bahasa.

Implementasi prinsip-prinsip pengajaran bahasa dapat disimpulkan sebagai berikut. Siswa akan belajar bahasa dengan baik bila memiliki tujuan dan minat, diberi kesempatan berpartisipasi dalam penggunaan bahasa secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas, bila ia secara sengaja memfokuskan pembelajarannya kepada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa, ia disebarkan dalam data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya yang menjadi bagian dari bahasa target, menyadari akan peran dan hakikat bahasa dan budaya, diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan mereka, dan diberi kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri.
Dengan diimplementasikannya prinsip-prinsip ini dalam pengajaran bahasa, maka akan memudahkan guru dalam mengajar siswa belajar bahasa, khususnya bahasa target yang ingin dicapai.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s