Feminisme dalam Sastra

A. Pendahuluan
Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan baik dilihat dari sisi biologis maupun psikologis dan kultural. Sehubungan dengan hal itu, terdapat dua istilah untuk menjelaskan perbedaan tersebut, yaitu: male dan female yang mengacu pada seks, dan masculine dan feminine yang mengacu pada gender.
Male dan female merupakan sesuatu yang kodrati, yang secara biologis membedakan laki-laki dan perempuan secara fisik dimana laki-laki lebih kuat dari perempuan, perempuan mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, tetapi tidak laki-laki. Sedangkan feminine dan masculine ditentukan secara kultural dimana secara psikologis manusia bukannya terlahir ’sebagai’ laki-laki atau perempuan tetapi ’menjadi’ laki-laki dan perempuan. Sejak awal sekali, masyarakat telah membedakan asumsi dan anggapan terhadap dua gender tersebut. Dalam sebagian besar masyarakat di seluruh dunia, laki-laki sering kali dianggap sebagai kaum superior dan perempuan sebagai kaum inferior. ”Anak laki-laki, lebih lebih dalam sistem kekeluargaan partiarkhat selalu menjadi satu satunya harapan dalam melanjutkan keturunan.” (Ratna: 2004: 183). Laki-laki dianggap figur otoritas sedangkan perempuan dikenal sebagai makhluk lembut, setia, dan penuh pengabdian.
Perbedaan secara kultural juga ditunjukkan oleh bahasa dimana terdapat kedudukan tertentu yang sepertinya hanya hak laki-laki, contohnya kata tuan tanah, tetapi tidak ada nyonya tanah, chairman dan tiak ada chairwoman. Begitu pula sapaan ’tuan’ dapat digunakan ketika menyapa laki-laki baik yang sudah menikah atau pun lajang. Berbeda dengan panggilan ’nona’ atau ’nyonya’ kepada perempuan yang berbeda sebagai akibat ketergantungannya dengan laki-laki.
Perbedaan biologis yang kodrati seringkali dijadikan alasan untuk memandang perempuan sebagai warga kelas dua (second sex). Dengan sendirinya perempuan dianggap sebagai makhluk lemah yang selalu tunduk pada kekuasaan laki-laki. Padahal menurut Dagun (dalam Ratna: 2004: 187) belum ada penelitian yang menunjukkan adanya korelasi antara kondisi biologis dengan perbedaan perilaku. Sebaliknya, dapat dipastikan bahwa perilaku dipengaruhi bahkan ditentukan oleh ciri ciri kebudayaan tertentu.
Apabila dilihat dari sisi kesusastraan, karya sastra kerap kali menunjukkan hegemoni laki-laki terhadap perempuan dan bahwa perempuan adalah objek erotik laki-laki. ”Dalam sastra Jawa kuna, terutama dalam wiracarita dan kakawin tampak jelas bahwa pencitraan perempuan cenderung sebagai sosok pujaan. Perempuan adalah figur yang patut diperebutkan oleh laki-laki, terutama karena kecantikan dan kebolehannya. Poin pentingnya: perempuan harus setia kepada laki-laki (Endraswara: 2011: 144).
Gejala kultural yang seringkali membedakan kedua gender atas dasar kepentingan kelompok tertentu, dalam hal ini kelompok laki-laki, dan karya sastra yang sering menjadikan wanita sebagai objek dan semata makhluk lemah yang berada di bawah dominasi laki-laki, memunculkan teori feminis yang mencoba memberikan jalan tengah agar keduanya memiliki kedudukan seimbang sesuai dengan kondisinya dalam masyarakat.
Jadi, teori feminis merupakan alat bagi kaum wanita untuk memperjuangkan hak haknya demi memperoleh kesetaraan kedudukan dengan pria dalam bidang politik, sosial, dan ekonomi. Apabila dikaitkan dengan penelitian sastra, maka feminisme sastra adalah kajian sastra dengan pendekatan teori feminis. Dalam melakukan penelitian dengan pendekatan ini, sudut pandang yang seharusnya digunakan peneliti adalah reading as women atau membaca sebagai wanita, agar tumbuh kesadaran bahwa perbedaan jenis kelamin akan mempengaruhi pemaknaan cipta sastra. Berikut akan dibahas tentang teori teori feminis dan fokus kajian feminisme dalam sebuah karya sastra.

B. ISI
1. Sejarah Lahirnya Teori Feminisme Sastra
Feminisme lahir pada awal abad ke 20 yang dipelopori oleh Virginia Woolf dalam bukunya yang berjudul A Room for One’s Own (1929). Paham ini mengalami perkembangan yang pesat pada tahun 1960an yaitu sebagai salah satu aspek teori kebudayaan kontemporer dengan model analisis yang mencakup bidang sosial, politik, dan ekonomi. Menurut A Teeuw gerakan feminisme di dunia Barat dipicu oleh beberapa faktor (Ratna: 2004: 183, 184), yaitu:
1. Berkembangnya teknik kontrasepsi, yang memungkinkan perempuan melepaskan diri dari kekuasaan laki-laki.
2. Radikalisasi politik, khususnya sebagai akibat perang Vietnam.
3. Lahirnya gerakan pembebasan dan ikatan ikatan tradisional, misalnya ikatan gereja, ikatan kulit hitam Amerika, ikatan mahasiswa, dan sebagainya.
4. Sekularisasi, menurunnya wibawa agama dalam segala bidang kehidupan.
5. Perkembangan pendidikan yang secara khusus dinikmati oleh perempuan.
6. Reaksi terhadap pendekatan sastra yang mengasingkan karya dari struktur sosial, seperti Kritik Baru dan strukturalisme.
7. Ketidakpuasan terhadap teori dan praktik ideologi Marxis orthodoks.
Gerakan gerakan pembebasan seperti disebutkan di atas memunculkan gerakan feminisme yang ingin memperjuangkan hak hak kaum wanita, mendekonstruksi sistem dominasi dan hegemoni, dan melakukan pertentangan antara kelompok yang lemah dengan kelompok yang dianggap lebih kuat. Teori teori feminis erat kaitannya dengan konflik kelas dan ras, khususnya konflik gender. Feminisme pada umumnya dikaitkan dengan emansipasi, gerakan kaum perempuan untuk menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Pada akhir abad ke 20, khususnya di Barat, feminisme merupakan salah satu gejala yang sangat penting.
Di Indonesia, emansipasi mulai diperhatikan sejak repelita III, ditandai dengan pengangkatan Menteri Negara Urusan Peranan Wanita. Secara akademis ditandai dengan dibukanya Program Studi Kajian Wanita di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. Dalam sastra, sudah diperhatikan sejak tahun 1920an, ditandai dengan hadirnya novel novel Balai Pustaka, dengan mengemukakan masalah masalah kawin paksa, yang kemudian dilanjutkan pada periode 1930an yang diawali dengan Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisjahbana dengan tidak melupakan jasa jasa kepeloporan R.A. Kartini. Secara historis, keberadaan dan perjuangan kaum perempuan di Indonesia ditandai dengan dilangsungkannya Kongres Perempuan Indonesia I tahun 1928 di Yogyakarta, Kongres Perempuan Indonesia II tahun 1935 di Jakarta, dan Kongres Perempuan Indonesia III di tahun 1938 di Bandung, yang sekaligus menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu. (Ratna: 2004: 191, 192). Adapun masuknya teori feminis ke Indonesia dibawa oleh Ateeaw, yaitu seorang pakar sastra dan budaya Indonesia yang berasal dari Belanda.
Sesuai dengan latar belakang kelahirannya, sebagai gerakan politik, sosial, dan ekonomis, analisis feminis dengan demikian termasuk penelitian multi disiplin, melibatkan berbagai ilmu pengetahuan. Dalam kaitannya dengan sastra, bidang studi yang relevan diantaranya: tradisi literer perempuan, ciri ciri khas bahasa perempuan, tokoh tokoh perempuan, novel populer dan perempuan, dan sebagainya. Dalam kaitannya dengan kajian budaya, permasalahan perempuan lebih banyak berkaitan dengan kesetaraan gender (emansipasi) dan dekonstruksi sistem penilaian karya sastra yang biasanya hanya dilihat dari sudut pandang laki-laki.
2. Tokoh-tokoh Feminis
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa feminisme muncul karena adanya tuntutan persamaan hak antara pria dan wanita. Feminisme tidak begitu lahir begitu saja, ada beberapa tokoh-tokoh yang melatarbelakangi munculnya teori feminisme. Maka, berikut ini akan dibicarakan beberapa tokoh penting feminis, seperti: Luce Irigaray, Julia Kristeva, Helene Cixous dan Dona Haraway.
1. Luce Irigaray
Luce Irigaray yang lahir di Belgia 3 Mei 1930 merupakan salah satu tokoh feminis yang terkenal dengan mengemukakan argumentasinya dengan menolak pendapat Freud dan Lacan yang menganggap bahwa perempuan adalah makhluk yang real, makhluk simbolik dan makhluk imajiner bagi kaum pria. Irigaray sendiri memusatkan perhatiannya pada sizofrenia, yang dianggap sebagai bahasa pribadi atau dialek yang difokuskan pada tatanan simbolik.
Dalam rangka menolak argumentasi Freud dan menolak dominasi laki-laki, Irigaray juga memusatkan perhatiannya pada peranan bahasa, khususnya bahasa perempuan. Menurutnya karena laki-laki punya rumah bahasa, maka perempuan juga harus membangun rumah bahasanya sendiri, rumah yang membebaskannya dari penjara laki-laki, rumah yang akan dimanfaatkan sebagai tempat untuk mengadakan perbaikan nasib secara total. Sehingga pada nantinya perempuan tidak berbicara seperti perempuan melainkan berbicara sebagai perempuan (Sarup dalam Ratna, 2004: 198).
Irigaray juga mengemukakan bahwa untuk menyamai phallus laki-laki, maka perempuan harus berbicara melalui bahasa. Dan untuk membentuk citra dirinya sendiri, perempuan harus mampu tampil bagi diri mereka sendiri, dengan sendirinya dengan cara yang berbeda dari apa yang dilakukan oleh kaum laki-laki.

2. Julia Kristeva
Perempuan kelahiran Bulgaria pada 24 Juni 1941 ini memunculkan feminisme melalui tampilan teks sebagai material produksi yang merupakan dekonstruksi hegemoni budaya barat. Salah satu konsepnya yang paling terkenal yaitu semanalysis, metode yang memusatkan perhatian bukan semata-mata pada fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi, melainkan juga pada material bahasa, seperti: suara, irama dan ciri-ciri grafis. Kristeva sendiri adalah seorang ahli bahasa seperti Irigaray yang terjun kedalam dunia kritik feminis. Dan ketertarikannya pada feminis juga berangkat dari teori Freud dan Lacon yang mengganggap perempuan sebagai makhluk lemah.
Kristeva memberikan perhatian pada subjektivitas dan aspek sosial historis dunia penandaan (semiotika). Semiotik ini disebut sebagai feminis. Menurutnya bahasa bukan sistem yang monolitik, melainkan proses penaandaan yang kompleks, heterogen yang ada di dalam dan di antara subjek, dari struktur homogeny kearah bahasa sebagai proses heterogen.

3. Helene Cixous
Helen Cixous (15 Juni 1937) adalah seorang novelis, penulis drama, sekaligus kritikus feminis. Pusat perhatiannya terhadap feminisme ada dua macam, yaitu: hegemoni oposisi biner dalam kebudayaan Barat dan Praktik Penulisan feminine yang dikaitkan dengan tubuh. Oposisi biner yang dimaksudkan misalnya: father/mother, sun/moon, culture/nature, yang sering dikaitkan dengan oposisi laki-laki dan perempuan.
Untuk menolak hegemoni laki-laki, maka menurut Cixous harus dilakukan dengan praktik menulis feminine, praktik menulis dalam kaitannya dengan tubuh dengan salah satu cirinya adalah kedekatannya dengan suara. Perempuan harus menulis tentang dirinya sendiri, menulis mengenai perempuan dan membawa perempuan kedalam tulisan. Karena tulisan dianggap sebagai ruang yang istimewa untuk mengeksplorasi diri.
Lebih jauh Cixous membicarakan hubungan esensial antara tulisan perempuan dan ibu sebagai sumber asal muasal suara yang terdengar di dalam semua teks perempuan. Feminitas dalam tulisan merupakan hak istimewa suara, tulisan dan suara tak bisa dipisahkan, keseluruhan pembicaraan perempuan adalah suara perempuan. Secara fisikal, perempuan mematerialisasikan apa yang dipikirkan,ia memaknakannya dalam tubuhnya. Perempuan, dengan kata lain secara keseluruhan dan secara fisik hadir dalam suaranya, dan tulisannya merupakan perluasan identitas dirinya sebagai tindak kata.

4. Donna Haraway
Donna Haraway memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai feminisme. salah satu aspek yang dikemukakannya adalah kegairahannya dalam mendukung dan memanfaatkan proyek teknologi modern, yaitu cyborg. meskipun berdampak negative, tetapi demi tercapainya redefefinisi gender, sebagai penciptaan ulang terhadap perempuan, maka cyborg dianggap sebagai salah satu cara untuk memperjuangkan kesetaraan gender. Cyborg dianggap mampu untuk menerobos hakikat biologis dan determinisme sejarah manusia yang sepanjang abad telah didominasi oleh dunia laki-laki.
Sastrra feminisme di Indonesia diperkenalkan pertama kali oleh A. Teew yang merupakan seorang pakar sastra dan budaya Indonesia yang berasal dari Belanda.

3. Fokus Kajian Feminisme
Dalam ilmu sastra, feminisme ini berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisis kepada wanita. Kritik sastra feminis bukan berarti pengeritik wanita, atau kritik tentang wanita, atau kritik tentang pengarang wanita. Arti sederhana yang dikandung adalah pengeritik memandang sastra dengan kesadaran khusus; kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya,sastra, dan kehidupan. Membaca sebagai wanita berarti membaca dengan kesadaran membongkar praduga dan ideologi kekuasaan laki-laki yang androsentris atau patrialkal,yang sampai sekarang masih menguasai penulisan dan pembacaan sastra. Perbedaan jenis kelamin pada diri penyair, pembaca, unsur karya dan faktor luar itulah yang memengaruhi situasi sistem komunikasi sastra.
Endraswara (2003: 146) mengungkapkan bahwa dalam menganalisis karya sastra dalam kajian feminisme yang difokuskan adalah: a. kedudukan dan peran tokoh perempuan dalam sastra, b. ketertinggalan kaum perempuan dalam segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan aktivitas kemasyarakatan, c. memperhatikan faktor pembaca sastra, bagaimana tanggapan pembaca terhadap emansipasi wanita dalam sastra. Kolodny dalam Djajanegara (2000: 20-30) menjelaskan beberapa tujuan dari kritik sastra feminis yaitu: a. dengan kritik sastra feminis kita mampu menafsirkan kembali serta menilai kembali seluruh karya sastra yang dihasilkan di abad silam; b. membantu kita memahami, menafsirkan, serta menilai cerita-cerita rekaan penulis perempuan.
Kuiper (Sugihastuti dan Suharto, 2002:68) juga mengungkapkan tujuan penelitian feminis sastra sebagai berikut: 1. Untuk mengkritik karya sastra kanon dan untuk menyoroti hal-hal yang bersifat standar yang didasarkan pada patriakhar; 2.Untuk menampilkan teks-teks yang diremehkan yang dibuat perempuan; 3.Untuk mengokohkan gynocritic, yaitu studi teks-teks yang dipusatkan pada perempuan, dan untuk mengokohkan kanon perempuan; 4.Untuk mengeksplorasi konstruksi kultural dari gender dan identitas.
Adapun sasaran penting dalam analisis feminism sastra sedapat mungkin berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut:
1. Mengungkap karya-karya penulis wanita masa lalu dan masa kini agar jelas citrawanita yang merasa tertekan oleh tradisi. Dominasi budaya partikal harus terungkap secara jelas dalam analisis.
2. Mengungkap tekanan pada tokoh wanita dalam karya sastra yang ditulis oleh pengarang pria.
3. Mengungkapkan ideologi pengarang wanita dan pria, bagaimana mereka memandang diri sendiri dalam kehidupa nyata.
4. Mengkaji dari aspek ginokritik, yakni memahami bagaimana proses kreatif kaum feminis. apakah penulis wanita akan memiliki kekhasan dalam gaya dan ekspresi atau tidak.
5. Mengungkap aspek psikoanalisa feminis, yaitu mengapa wanita, baik tokoh maupun pengarang lebih suka terhadap hal-hal yang halus, emosional, penuh kasih sayang dan sebagainya.
Sementara itu, Selden (Pradopo dalam Endaswara, 2011: 147) menggolongkan fokus pengkajian feminisme sastra ke dalam lima fokus:
1. Biologi, yang sering menempatkan perempuan lebih inferior, lembut, lemah dan rendah.
2. Pengalaman, sering kali wanita dipandang hanya memiliki pengalaman terbatas, masalah menstruasi, melahirkan, menyusui dan seterusnya.
3. Wacana, biasanya wanita lebih rendah penguasaan bahasa, sedangkan laki-laki memiliki “tuntutan kuat”. Akibat dari semua ini, akan menimbulkan stereotip yang negative pada diri wanita, wanita sekedar kanca winking.
4. Proses ketidaksadaran, secara diam-diam penulis feminis telah meruntuhkan otoritas laki-laki. Seksualitas wanita besifat revolusioner, subversif, beragam, dan terbuka. Namun demikian, hal ini masih kurang disadari oleh laki-laki.
5. Pengarang feminis biasanya sering menghadirkan tuntutan sosial dan ekonomi yang berbeda dengan laki-laki.

Dari berbagai fokus tersebut, peneliti sastra yang berhaluan feminis dapat memusat pada beberapa pilihan saja agar lebih mendalam.
4. Teori Analisis Feminisme
Feminisme sebagai gerakan kaum perempuan untuk memperoleh otonomi atau kebebasan menentukan dirinya sendiri. Feminisme memperjuangkan dua hal yang selama ini tidak dimiliki kaum perempuan pada umumnya, yaitu persamaan derajat mereka dengan laki-laki dan umunya, yaitu persamaan derajat mereka dengan laki-laki dan otonomi untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya. ( Yasa, 2012: 37). Analisis dalam kajian feminisme hendaknya mampu mengungkap aspek-aspek ketindasan wanita atas diri pria. Isu feminis selalu dikaitkan dengan isu persamaan hak dan kesetaraan gender. Namun, isu yang diangkat oleh feminis lebih dari itu. Dalam teori kontemporer, perhatian tidak lagi dipusatkan pada kehidupan perempuan, melainkan meluas ke arah analisis gender. Bagaimana pengaruh gender dalam kehidupan social manusia. Jika kita mampu melihat dengan jeli, politik internasional dan hubungan internasional hanya dipegang oleh lelaki kebanyakan. Perempuan tidak banyak terlibat dalam mengambil keputusan dan membentuk pola politik internasional. Berikut ini adalah asumsi dasar yang dikemukakan kaum Feminis:
o Kaum feminis tidak menganggap sifat dasar manusia sebagai sesuatu yang tidak berubah.
o Dari perspektif seorang feminis, kita tidak bisa membuat suatu perbedaan yang jelas antara ‘fakta’ dan suatu ‘nilai’.
o Ada suatu hubungan erat antara pengetahuan dan kekuasaan dan antara ‘teori-teori’ kita tentang dunia dengan kebiasaan kita, bagaimana cara kita melibatkan diri dengan lingkungan fisik dan social di sekitar kita.
o Kaum feminis postmodern itu tersendiri (para postmodernis menolak klaim universalitas), kaum feminis memiliki suatu komitmen yang sama pad aide kemajuan social dan kebebasan atau emansipasi kaum perempuan.
Pada kenyataan yang ada, asosiasi bela Negara atau pertahanan kepentiangan nasional selalu dilekatkan pada peran lelaki. Sedangkan, perempuan hanya diberikan peran domestic seperti menjadi ‘pemberi rasa aman’ seperti ibu yang baik, istri yang setia, guru, perawat, dan pekerja social. Sehingga, muncullah pemahaman yang sangat kuat dan mengakar bahwa politik internasional diidentikkan dengan maskulinitas seperti kekuasaan, kekuatan, otonomi, kebebasan, dan rasionalitas.
Dominasi laki-laki terhadap wanita, telah mempengaruhi kondisi sastra, antara lain: (1) nilai dan konvensi sastra sering didominasi olek kekuasaan laki-laki, sehingga wanita selalu berada pada posisi berjuang terus-menerus ke arah kesataraan gender, (2) penulis laki-laki sering berat sebelah, sehingga menganggap wanita adalah obyek fantastis yang menarik. Wanita selalu dijadikan obyek kesenangan sepintas oleh laki-laki. Karya-karya demikian selalu memihak, bahwa wanita sekadar orang yang berguna untuk melampiaskan nafsu semata, (3) wanita adalah figur yang menjadi bunga-bunga sastra, sehingga terjadi tindak asusila laki-laki, pemerkosaan, dan sejenisnya yang seakan-akan memojokkan wanita pada posisi lemah (tak berdaya).
Dengan kata lain, memang ada perbedaan visi penulis laki-laki dan wanita. Kedua kubu tersebut sering memiliki daya kontra satu sama lain yang tak ada ujung pangkalnya. Bahkan kedua belah pihak sering mengungkapkan adanya sikap saling menyalahkan akibat perbedaan gender. Itulah sebabnya, analisis feminisme seyogyanya mengikuti pandangan Barret (Pradopo, 1991: 142) yakni : (1) peneliti hendaknya mampu membedakan material sastra yang digarap penulis laki-laki dan wanita, (2) ideologi sering mempengaruhi hasil karya penulis. Ideologi dan keyakinan laki-laki dengan wanita tentu saja ada perbedaan yang prinsipil, (3) seberapa jauh kodrat fiksional teks-teks sastra yang dihasilkan pengarang mampu melukiskan keadaan budaya mereka. Perbedaan gender sering mempengaruhi adat dan budaya yang terungkap. Tradisi laki-laki dan perempuan dengan sendirinya memiliki perbedaan yang harus dijelaskan dalam analisis gender.
Secara rinci, menurut Sholwater (1988) ada tiga fase tradisi penulisan sastra oleh wanita, yaitu :
o Para penulis wanita, seperti George Eliot sering meniru dan menghayati standar estetika pria yang dominan, yang mengkehendaki bahwa wanita tetap memiliki posisi terhormat. Latar utama karya mereka adalah lingkungan rumah tangga dan kemasyarakatan.
o Penulis wanita yang telah bersikap radikal. Pada saat ini wanita berhak memilih cara mana yang tepat untuk berekspresi. Begitupula tema-tema garap juga semakin kompleks.
o Hasil tulisan wanita disamping mengikuti pola terdahulu, juga semakin sadar diri. Wanita telah sadar bahwa dirinya bukanlah “bidadari rumah” melainkan harus ada emansipasi.
Sholwater juga menegaskan bahwa dalam analisis feminisme sastra perlu menelusuri lebih jauh tentang : (1) perbedaan hakiki antara bahasa penulis pria dan wanita, perbedaan tersebut akan dipengaruhi oleh konteks budaya yang ditakdirkan berbeda. Apakah wanita lebih banyak menggunakan bahasa estetis yang penuh rasa, penuh daya mistik, berbau kuno, dan seterusnya. Sebaliknya, mungkin laki-laki lebih terbuka dalam menyoroti hal-hal yang negatif, (2) seberapa jauh pengaruh budaya yang melekati pada wanita dan laki-laki dalam sebuah cipta rasa. Apakah laki-laki cenderung ingin mempertahankan budaya yang menghegemoni wanita, dan sebaliknya wanita hanya bersikap pasrah, adalah gambaran yang sangat berarti dalam analisis feminisme. Terdapat beberapa kesalah pahaman dalam memahami Teori Feminism, yaitu:
o Laki-laki tidak bisa menjadi feminis, mereka hanya bisa menjadi simpatisan ataupun pendukung. Gender sama dengan jenis kelamin. Jenis kelamin merujuk pada anatomi biologis antara perempuan dan laki-laki. Sedangkan gender menjelaskan kepentingan atau pengertian social yang dirujukkan pada perbedaan-perbedaan itu.
o Studi gender dalam HI adalah tentang perempuan. Posisi dan status perempuan tidak bisa dipahami tanpa merujuk pad ide-ide umum tentang gender dan bagaimana hubungan gender itu telah diatur dalam masyarakat pada khusunya, maksudnya pola gender telah mengakar di masyarakat dan itulah titik ukur dimana posisi perempuan dalam studi HI.
o Studi tentang gender dan HI hanya penting bagi perempuan. Pada kenyataannya, dalam menganalisis isu gender, kita tetap harus melihat sisi maskulinitas yang terdapat pada kaum laki-laki untuk melihat bagaimana posisi perempuan yang seharusnya.
o Feminism merupakan pandangan atau paradigm dunia seperti yang lain.
o Semua kaum feminis itu lesbian, kecuali para pembenci laki-laki. Feminism adalah lebih mengenai pemahaman dan perlawanan pada aspek-aspek kekuasaan dan kesenjangan tertentu daripada pengecaman yang berpikiran sempit.
Kaum feminis memperjuangkan bagaimana perempuan tidak dijadikan subordinat saja dalam prilaku hubungan internasional dan social masyarakat. Namun lebih kepada bagaimana perempuan dilibatkan dan dijadikan focus utama. Kaum feminis percaya bahwa jika pengambil kebijakan tidak melulu menjadikan perempuan hanya tinggal dalam cakupan domestic saja.
Namun, ada yang miss dari teori ini. Kaum feminis hanya berkonsentrasi pada hubungan gender, lebih tepatnya pada perempuan. Kaum perempuan menggunakan ide-ide tentang gender untuk melegitimasi status tidak setara yang ditujukan untuk perempuan. Kaum feminis juga sangat menguniversalkan perempuan. Maksudnya, kaum feminis melupakan aspek-aspek lain seperti budaya, ras, kelas, dan sebagainya. Padahal kesemua aspek ini sangat berhubungan dengan dinamika social dan internasional. Sementara itu, masih banyak perempuan yang ternyata tidak memiliki ketertarikan-ketertarikan atau ide yang sama dengan apa yang dikoar-koarkan para aktivis feminis ini.
Untuk karya sastra dari aspek feminis, peneliti perlu membaca teks sebagai wanita (Reading a woman) dalam istilah Culler. Membaca sebagai wanita akan lebih demokratis udan tak berpihak pada laki-laki ataupun perempuan. Dari sini, peneliti akan menemukan istilah diegesis dan mimesis dalam teks sastra. Diegesis adalah segala peristiwa yang dilaporkan atau dikisahkan. Sedang mimesis adalah hal-hal yang dipergakan dan dipertunjukkan. Baik diegesis maupun mimesis adalah sekuen-sekuen teks yang dapat dipahami oleh pembaca.
Menurut Yoder ( Sugihastuti, 2002: 139) feminisme diibaratkan sebuah quilt yang dibangun dan dibentuk dari potongan-potongan kain lembut. Paham feminisme ini memang menyangkut soal politik, maksudnya sebuah politik yang langsung mengubah hubungan kekuatan kehidupan antara wanita dan pria dalam sistem komunikasi sastra.
Jadi dalam ilmu sastra, feminisme ini berhubungan dengan konsep kririk sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisisnya pada perempuan. Jika selama ini dianggap dengan sendirinya bahwa yang mewakili pembaca dan pencipta dalam sastra barat adalah laki-laki, maka kririk secara feminis menunjukkan bahwa pembaca perempuan membawa persepsi dan harapan ke dalam pengalaman sastranya.
5. Kritik Sastra Feminisme
Kritik sastra bukan berarti kritik tentang perempuan atau pengkritik perempuan. Kritik sastra feminism adalah pengkritikan terhadap karya sastra, yang mana pengkritik memandang sastra dengan kesadaran khusus bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya sastra dan kehidupan. Jenis kelamin inilah yang membuat perbedaan di antara semuanya yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan pada faktor luar yang mempengaruhi situasi karang-mengarang. Kritik sastra feminisme adalah alasan yang kuat untuk menyatukan pendirian bahwa seorang perempuan dapat membaca sebagai perempuan, mengarang sebagai perempuan, dan menafsirkan karya sastra sebagai perempuan.
Meski perempuan memiliki keseragaman pengalaman, ras, dan budaya. Namun mereka memiliki pandangan yang berbeda mengenai ideologi feminis. Bisa saja sekelompok orang tertentu, memiliki ras yang sama tetapi memiliki perspektif yang berbeda tentang perempuan, maka dari itu, feminis membangkitkan kesadaran terhadap ideologi dan praktek yang rasis dan merugikan kelompok minoritas tertentu. Penelitian feminis tidak dapat dilakukan dalam satu teori saja, karena sebuah penelitian feminis harus melihat perspektif yang berbeda-beda dan mempresentasikan kumpulan metode dan metodologi yang luas. Dalam penelitian feminis, yang menjadi tujuan penelitian bukanlah sekelompok orang tertentu, melainkan secara keseluruhan.
Gilbert dalam Yasa memandang perempuan berdasarkan psikoanalisis Freud bahwa ada suatu revisi atau perbaikan yang harus disadarkan pada perempuan, yakni suatu perubahan lengkap pada semua ide tentang dunia sastra. Pendapat Freud ini mendapat protes keras dari kaum feminis, terutama karena Freud mengungkapkan kekurangan alat kelamin perempuan tanpa rasa malu. Teori psikoanalisa Freud sudah banyak yang didramatisasi terbuka untuk dikritik. Freud tidak sama sekali menyudutkan kaum perempuan. Teorinya lebih banyak didasarkan pada hasil penelitiannya secara ilmiah. Untuk itu teori Freud ini justru dapat dijadikan pijakan dalam mengembangkan gerakan feminisme dalam rangka mencapai keadilan gender. Karena itu, penyempurnaan terhadap teori ini sangat diperlukan agar dapat ditarik kesimpulan yang benar.Kritik ini tidak saja membatasi diri pada karya-karya pengarang perempuan, tetapi meluas untuk semua karya pengarang.
Kritik sastra feminism yang diartikan membaca sebagai perempuan berpandangan bahwa kritik ini tidak mencari model konseptual tunggal, tetapi sebaliknya menjadi faktor dalam teori dan praktiknya, menggunakan kebebasan dalam metodologi dan pendekatan yang dapat membantu perluasan kritiknya. Cara ini berpijak dari sudut pandang yang mampu dan mempertahankannya secara konsisten kesadran pembaca bahwa ada perbedaan jenis kelamin yang mempengaruhi dunia sastra. Hal ini dapat dijelaskan bahwa sastra sebagai produk ilustrasi seluruh kehidupan sosial. Misalnya novel yang dapat dianggap sebagai struktur dan proses budaya. Secara leksikal, feminisme diartikan sebagai gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki.
Ratna dalam Yasa, (2006: 184 juga menyatakan bahwa feminisme dikaitkan dengan cara-cara memahami karya sastra, baik dalam kaitannya dengan proses reproduksi maupun resepsi. Oleh karena itu, feminitas adalah pengertian psikologis kultural, seseorang tidak dilahirkan “sebagai” perempuan melainkan “menjadi” perempuan. Jadi kesimpulannya, yang ditolak oleh kelompok feminis adalah anggapan bahwa perempuan merupakan konstruksi negatif, perempuan sebagai makhluk takluk, perempuan yang terjerat ke dalam dikotomi sentral marginal, superior inferior. Kritik feminism berupaya untuk mengungkap kesalahan-kesalahan berpikir manusia tentang perempuan.

C. PENUTUP
Feminisme lahir karena perempuan sudah lelah untuk dinomorduakan dalam segala hal. Hal ini secara tradisional disebut emansipasi wanita, dimana perempuan menuntut hak yang setara dalam bidang politik, intelektual, kebudayaan bahkan dalam kesusastraan. Sebagai karya sastra, feminisme dimulai sejak Balai Pustaka dilanjutkan pada periode Pujangga Baru seperti dalam karya Sutan Takdir Alisjahbana melalui novel Layar Terkembang.
Feminisme memusatkan perhatiannya pada kaum perempuan dengan cara membangun teori yang dianggap mampu untuk meredam dominasi laki-laki yang yang sangat kuat. Irigaray (bahasa perempuan), Kristeva (semanalysis), Cixous (praktik menulis feminin) dan Haraway (cyborg) dengan minat masing-masing sangat memberikan sumbangan yang berarti dalam menopang perjuangan kaum perempuan.
Analisis dalam kajian feminisme juga hendaknya mampu mengungkap aspek-aspek ketindasan wanita atas diri pria. Isu feminis selalu dikaitkan dengan isu persamaan hak dan kesetaraan gender. Dan melalui feminisme perempuan mampu menunjukkan ke’aku’annya. perempuan bukan lagi sebagai makhluk lemah dan makhluk imaginer yang selama ini ada dalam benak para lelaki. Namun perempuan juga mampu berkarya dan produktif sama dengan laki-laki.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s