Hakikat Kurikulum, Silabus, Materi Ajar dan Asal Usul Pengembangan Kurikulum

I. PENDAHULUAN

Kurikulum berperan penting dalam menciptakan pendidikan yang efektif bagi masyarakat. Di dalamnya dijelaskan tentang tujuan, isi, dan segala perencanaan yang menentukan arah dan proses pendidikan. Sebagai suatu rencana, kurikulum perlu penerapan pada dunia nyata. Kurikulum diimplementasikan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, kurikulum dan pembelajaran tidak dapat dipisahkan karena merupakan suatu kesatuan yang saling memengaruhi. Dalam penerapannya, kurikulum membutuhkan praktisioner yang akan menjalankan rencana – rencana yang tertulis dalam dokumen kurikulum tersebut. Untuk itu, guru adalah faktor penting dalam pengimplikasian kurikulum karena guru yang berinteraksi langsung dengan siswa. Guru juga berperan dalam pengembangan kurikulum itu sendiri.
Seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan dari masyarakat, maka dunia pendidikan harus melakukan inovasi dalam pendidikan. Inovasi pendidikan akan berjalan dan mencapai sasarannya jika progam pendidikan tersebut dirancang dan di implementasikan sesuai dengan kondisi dan tuntutan zaman. Karena itu, kurikulum di Indonesia, begitu pula kurikulum bahasa, telah mengalami beberapa kali perubahan dan pengembangan dari waktu ke waktu. Harapannya, kurikulum mampu menyusun suatu pedoman pengajaran yang membentuk manusia – manusia yang mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungannya, baik secara internal maupun eksternal demi terwujudnya kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik
Untuk membahas lebih lanjut tentang kurikulum dan aspek – aspek yang terkait dengan kurikulum, pada Bab II makalah ini akan dijelaskan tentang hakikat kurikulum, silabus, materi ajar, peranan guru dalam pengembangan kurikulum, pengembangan kurikulum, dan asal usul pengembangan kurikulum bahasa.

II. PEMBAHASAN

A. HAKIKAT KURIKULUM
1.1 Definisi Kurikulum
Istilah kurikulum pertama kali digunakan dalam dunia olah raga pada zaman yunani kuno. Kurikulum berasal dari kata curir dan curere yang berarti jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari, mulai dari garis start hingga garis finish. Namun sekarang istilah kurikulum juga digunakan dalam bidang pendidikan. Kurikulum berhubungan erat dengan usaha mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Secara tradisional kurikulum diartikan sebagai apa yang seharusnya guru lakukan dalam pembelajaran. Namun Nunan (1988: 1) mengatakan bahwa kurikulum sebagai sesuatu yang dilakukan guru, bukan hanya rencana yang seharusnya dilakukan dalam pembelajaran. Lain halnya dengan Null (1973: 1) mengemukakan bahwa kurikulum merupakan jantung dari pendidikan karena kurikulum ialah kombinasi pemikiran, tindakan dan tujuan yang kemudian akan diajarkan dalam berbagai institusi, baik sekolah ataupun yang lain.
Sementara Print dalam Sanjaya (2010: 4) memandang sebuah kurikulum sebagai perencanaan pengalaman belajar, program sebuah lembaga pendidikan yang diwujudkan dalam sebuah dokumen serta hasil dari implementasi dokumen yang telah disusun. Namun pada dasarnya kurikulum memliki beberapa konsep, yaitu kurikulum sebagai mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar dan kurikulum sebagai perencanaan program pembelajaran.
Proses pembelajaran di sekolah menggunakan konsep kurikulum sebagai mata pelajaran, penguasaan isi pelajaran merupakan sasaran akhir dari pendidikannya. Seperti yang dikemukakan Saylor dkk. (Sanjaya: 2010: 4) kurikulum merupakan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik, merupakan konsep kurikulum yang sampai saat ini banyak mewarnai teori-teori dan praktik pendidikan. Hal senada juga diungkapkan oleh Hutchins (Sanjaya: 2010: 4) yang menyatakan bahwa kurikulum seharusnya termasuk grammar, membaca, retorika dan logika, matematika dan memperkenalkan buku-buku hebat dari barat pada tingkat menengah. Kurikulum sebagai mata pelajaran pada hakikatnya adalah kurikulum yang berisikan bidang studi.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pandangan kurikulum mulai bergeser. Pandangan kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran mulai bergeser karena pandangan ini dianggap masih tradisional. Sekolah tidak saja dituntut untuk membekali siswa dengan berbagai macam pengatahuan, tetapi dituntut juga untuk mengembangkan bakat dan minat siswa. Tuntutan tersebut membuat pandangan kurikulum menjadi bergeser, kurikulum tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran akan tetapi dianggap sebagai pengalaman belajar siswa.
Tokoh-tokoh yang menganggap kurikulum sebagai pengalaman diantaranya adalah Casswell dan Campbell (Sanjaya: 2010: 6) menyatakan bahwa kurikulum adalah semua pengalaman siswa yang berada dibawah tanggung jawab guru. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Dorris Lee dan Murray Lee bahwa kurikulum merupakan semua pengalaman siswa yang di peroleh disekolah. Lebih jelas lagi dikemukakan Giles dkk. Bahwa kurikulum adalah seluruh pengalaman yang ada di sekolah. Pengertian kurikulum sebagai pengalaman belajar mengandung makna bahwa kurikulum adalah seluruh kegiatan yang dilakukan siswa baik diluar maupun di dalam sekolah asal kegiatan tersebut berasa di bawah tanggung jawab guru (sekolah).
Tidak hanya sebgai mata pelajaran dan pengalaman belajar, kurikulum juga dipandang sebagai rencana atau program belajar. Seperti yang dikemukakan Hilda Taba (1962) dalam Sanjaya (2010: 7) “A curriculum is a plan for learning therefore, whai is know about the learning process and the development of the individual has bearing on the shaping of the curriculum.” Sedangkan Donald E. Orlasky, Othanel Smith (1978) dan Peter F. Olivva (1982) mengemukakan kurikulum pada dasarnya adalah sebuah perencanaan atau program pengalaman siswa yang diarahkan sekolah.
Selanjutnya UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 19 menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, tambahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Dari berbagai definisi yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dengan kata lain kurikulum adalah suatu perencanaan yang disusun secara struktur untuk mendapatkan keluaran yang diharapkan dari suatu pembelajaran.
1.2. Peran dan Fungsi Kurikulum
Kurikulum sebagai suatu rancangan dalam pendidikan memiliki posisi yang strategis, karena seluruh kegiatan pendidikan bermuara kepada kurikulum. Oleh karena itu, kurikulum menempati peran utama dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Menurut Sanjaya (2010: 12) terdapat tiga peranan kurikulum yang sangat penting, yaitu: peranan konservatif, peranan kreatif, peranan kritis dan evaluatif. Ketiga peranan ini sama penting dan harus dilaksanakan secara seimbang.
1) Peranan Konservatif
Peranan ini menekankan bahwa kurikulum sebagai sarana untuk mentrans-misikan nilai-nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa kini kepada generasi muda, dalam hal ini para siswa. Dengan demikian, peranan konservatif ini pada hakikatnya menempatkan kurikulum, yang berorientasi ke masa lampau. Peranan ini sifatnya menjadi sangat mendasar, disesuaikan dengan kenyataan bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan proses sosial. Salah satu tugas pendidikan yaitu mempengaruhi dan membina perilaku siswa sesuai dengan nilai-nilai sosial yang hidup di lingkungan masyarakatnya.
2) Peranan Kreatif
Peranan ini menekankan bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai dengan perkembangan yang terjadi dan kebutuhankebutuhan masyarakat pada masa sekarang dan masa mendatang. Kurikulum harus mengandung hal-hal yang dapat membantu setiap siswa mengembangkan semua potensi yang ada pada dirinya untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru, kemampuan-kemampuan baru, serta cara berpikir baru yang dibutuhkan dalam kehidupannya.
3) Peranan Kritis dan Evaluatif
Peranan Peranan ini dilatarbelakangi oleh adanya kenyataan bahwa nilai-nilai dan budaya yang hidup dalam masyarakat senantiasa mengalami perubahan, sehingga pewarisan nilai-nilai dan budaya masa lalu kepada siswa perlu disesuaikan dengan kondisi yang terjadi pada masa sekarang. Selain itu, perkembangan yang terjadi pada masa sekarang dan masa mendatang belum tentu sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Karena itu, peranan kurikulum tidak hanya mewariskan nilai dan budaya yang ada atau menerapkan hasil perkembangan ba-ru yang terjadi, melainkan juga memiliki peranan untuk menilai dan memilih nilai dan budaya serta pengetahuan baru yang akan diwariskan tersebut. Dalam hal ini, kurikulum harus turut aktif berpartisipasi dalam kontrol atau filter sosial. Nilai-nilai sosial yang tidak sesuai lagi dengan keadaan dan tuntutan masa kini dihilangkan dan diadakan modifikasi atau penyempurnaan.
Disamping memiliki peranan, kurikulum juga memiliki fungsi-fungsi tertentu. Secara umum fungsi kurikulum adalah sebagai alat untuk membantu peserta didik untuk mengembangkan pribadinya ke arah tujuan pendidikan. Kurikulum adalah segala aspek yang mempengaruhi peserta didik di sekolah, termasuk guru dan sarana serta prasarana lainnya. Kurikulum sebagai program belajar bagi siswa, disusun secara sistematis dan logis , diberikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menurut McNeil (Sanjaya: 2010: 12) isi kurikulum memiliki empat fungsi, yaitu:
1) Fungsi Pendidikan Umum (Common and General Education)
Merupakan fungsi untuk mempersiapkan anak didik agar menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab , menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Karena itu kurikulum harus memberikan pengalaman belajar kepada anak didik agar mampu menginternalisaasi nili-nilai dalam masyarakat, memahami hak dan kewajibannya sebagai anggota masyarakat dan makhluk sosial, Fungsi ini harus ada dan diikuti setiap siswa di semua jenis dan jenjang pendidikan.
2) Fungsi Suplementasi (Suplementation)
Kurikulum harus dapat memberikan pelayanan kepada setiap siswa sesuai dengan perbedaan kemampuan, minat, maupun bakat yang ada pada diri masing-masing siswa. Setiap siswa berhak menambah wawasan yang lebih baik sesuai dengan minat dan bakatnya. Siswa yang meiliki kemapuan di atas rata-rata haraus terlayani sehingga dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal, sebaliknya siswa berkemampuan di bawah rata-rata juga harus terlayani sesuai dengan kemampuannya.
3) Fungsi Eksplorasi (Exploration)
Kurikulum harus dapat menemukan dan mengembangkan minat dan bakat masing-masing anak didik, sehingga diharapkan anak didik dapat belajar sesuai dengan minat dan bakatnya tanpa ada paksaan. Fungsi ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah, karena terkadang berlawanan dengan kenyataan, bahwa sering ada pemaksaan dari pihak-pihak tertentu, seperti orangtua, untuk memilih suatu pilihan yang sebenarnya tidak sesuai dengan minat dan bakat siswa. Para pengembang kurikulum harus dapat menggali bakat dan minat anak didik yang terkadang tersembunyi.
4) Fungsi Keahlian (Specialization)
Kurikulum berfungsi untuk mengembangkan kemampuan anak didik dengan keahliannya yang didasarkan atas minat dan bakat anak didik. Kurikulum harus dapat memberikan pilihan berbagai bidang keahlian, seperti perdagangan, pertanian, industri atau disiplin akademik. Dengan bidang-bidang pilihan tersebut anak didik diharapkan memiliki keterampilan sesuai dengan bidangnya. Untuk itu dalam pengembangan kurikulum perlu melibatkan para ahli atau spesialis untuk menentukan kemampuan yang harus dimiliki anak didik yang sesuai dengan bidang keahliannya.
Selain fungsi-fungsi diatas, kurikulum juga berfungsi untuk setiap orang atau lembaga yang berhubungan baik langsung mapun tidak langsung dengan penyelenggaraan pendidikan. Untuk itu, fungsi kurikulum dapat ditinjau dalam berbagai perspektif, antara lain sebagai berikut.
1) Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah
Bagi kepala sekolah kurikulum berfungsi sebagai pedoman untuk mengatur dan membimbing kegiatan sehari-hari di sekolah, baik kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler.
2) Fungsi Kurikulum bagi Guru
Bagi guru kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Dalam praktik, guru merupakan ujung tombak pengembangan kurikulum sekaligus sebagai pelaksana kurikulum. Guru juga sebagai faktor kunci (key factor) dalam keberhasilan kurikulum. Bagaimanapun baiknya suatu kurikulum disusun, pada akhirnya akan sangat bergantung pada kemampuan guru di lapangan. Efektivitas suatu kurikulum tidak akan tercapai, jika guru tidak dapat memahami dan melaksankan kurikulum dengan baik sebagai pedoman dalam proses pembelajaran.
3) Fungsi Kurikulum bagi Siswa
Bagi siswa sendiri, kurikulum berfunsi sebagai pedoman belajar, melalui kurikulum siswa dapat memahami apa tujuan yang hendak di capai, isi atau bahan pelajaran apa yang harus dikuasai dan pengalaman belaajr apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Alexander Inglis (Sanjaya: 2010: 14 ) mengemukakan enam fungsi kurikulum untuk siswa, yaitu kurikulum berfungsi sebagai fungsi penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungsi diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi pemilihan dan fungsi diagnostik.
a. Fungsi Penyesuaian
Lingkungan tempat individu hidup senantiasa berubah dan dinamis, karena itu setiap individu harus mampu menyesuaikan diri secara dinamis. Kurikulum berfungsi sebagai alat pendidikan menuju individu yang well adjusted, yang membekali anak didik dengan kemampuan-kemampuan sehingga setelah selesai pendidikan, diharapkan dapat membawa dirinya untuk berperilaku sesuai dengan hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat, maupun dengan lingkungan yang lain.
b. Fungsi Pengintegrasian
Kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi. Individu merupakan bagian integral dari masyarakat, maka dengan pembentukan pribadi-pribadi yang terintegrasi, akan memberikan sumbangan dalam rangka pembentukan atau pengintegrasian masyarakat.
c. Fungsi Diferensiasi
Kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap perbedaan-perbedaan perorangan dalam masyarakat. Pada dasarnya deferensiasi akan mendorong orang berpikir kritis dan kreatif, dan ini akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat.
d. Fungsi Persiapan
Kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk jangkauan yang lebih jauh atau terjun ke masyarakat. Sekolah tidak mungkin memberikan semua apa yang diperlukan atau semua apa yang menarik minat mereka, tetapi melalui kurikulum harus dapat memberikan kemampuan yang diperlukan anak didik untuk melanjutkan studinya ataupun mencari pekerjaan.
e. Fungsi Pemilihan
Antara perbedaan dan pemilihan mempunyai hubungan yang erat. Pengakuan atas perbedaan berarti pula diberikan kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang dinginkan atas sesuatu yang menarik minatnya. Ini merupakan kebutuhan yang sangat ideal bagi masyarakat yang demokratis, sehingga kurikulum perlu diprogram secara fleksibel, memberikan kesempatan pada semua anak didik untuk memperoleh pendidikan sesuai pilihannya berdasarkan minat dan bakatnya.
f. Fungsi Diagnostik
Salah satu segi pelayanan pendidikan adalah membantu dan mengarahkan para siswa agar mereka mampu memahami dan menerima dirinya sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki. Ini dapat dilakukan bila mereka menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimiliki melalui eksplorasi dan prognosa. Di sini Fungsi kurikulum adalah mendiagnosa dan membimbing anak didik agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal.
4) Fungsi Kurikulum bagi Pengawas
Bagi para pengawas, fungsi kurikulum dapat dijadikan sebgai pedoman, patokan, atau ukuran dalam membimbing kegiatan guru di sekolah. Kurikulum juga dapat digunakan pengawas untuk menetapkan hal-hal apa saja yang memerlukan penyempurnaan atau perbaikan dalam usaha pengembangan kurikulum dan peningkatan mutu pendidikan.
5) Fungsi Kurikulum bagi Orangtua/Masyarakat
Bagi masyarakat, kurikulum dapat memberikan pencerahan dan perluasan wawasan pengetahuan dalam berbagai bidang kehidupan. Melalui kurikulum, masyarakat dapat mengetahui apakah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang dibutuhkannya relevan atau tidak dengan kurikulum sekolah. Orangtua juga perlu memahami kurikulum dengan baik, sehingga dapat dijadikan bahan untuk memberikan bantuan, bimbingan, dan fasilitas lainnya agar anak mencapai hasil belajar yang lebih optimal.

1.3 Jenis – Jenis Kurikulum
Nasution mengatakan bahwa jenis-jenis kurikulum ada 3 (tiga), yaitu:
1) Separate subject curriculum
Artinya segala bahan pelajaran disajikan dalam subject/mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang satu lepas dari yang lain. Subject atau mata pelajaran ialah hasil pengalaman umat manusia sepanjang masa, atau kebudayaan dan pengetahuan yang dikumpulkan oleh manusia sejak dahulu, lalu disusun secara logis dan sistematis, disederhanakan dan disajikan kepada anak didik sesuai dengan usianya masing-masing.
2) Corelated curriculum
Artinya masing-masing tiap mata pelajaran itu mempunyai hubungan. Di sini mata pelajaran itu dihubungkan antara mata pelajaran satu dengan yang lainnya, sehingga tidak berdiri sendiri-sendiri seperti pada seperete-subject curriculum dan ini dibuat sebagai reaksi terhadapnya yang dianggap masih kurang sempurna.
3) Integrated curriculum
Dalam integrated curiculum meniadakan batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan sehingga diharapkan akan membentuk anak-anak menjadi pribadi yang terintegrated.
1.4 Kurikulum dan Pengajaran
Kurikulum terdiri dari komponen – komponen yang saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain. Komponen yang membentuk system kurikulum akan melahirkan system pengajaran, dan system pengajaran itulah yang kan menjadi pedoman guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar di dalam kelas. Maka dapat dikatakan bahwa system pengajaran merupakan pengmbangan dari sistem kurikulumnya.
Kurikulum dan pengajaran merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan walaupun keduanya memiliki posisi yang berbeda. Kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang memberikan arah dan tujuan pendidikan, serta isi yang harus dipelajari. Sedangkan pengajaran adalah proses yang terjadi dalam interaksi belajar mengajar antara guru dengan siswa. Seperti perumpamaan yang diungkapkan Saylor (Sanjaya: 2010: 17) kurikulum dan pengajaran itu seperti Romeo dan Juliet.artinya berbicara Romeo tidak akan berarti apa-apa tanpa Juliet, begitu pula sebaliknya. Tanpa kurikulum sebagai sebuah rencana, maka pembelajaran dan pengajaran tidak akan efektif; demikian juga tanpa adanya pembelajaran, maka kurikulum tidak berarti apa-apa. Kurikulum berkaitan erat dengan apa yang harus diajarkan, sedangkan pengajaran mengacu pada bagaimana cara mengajarkannya.

Berikut ini gambar keterkaitan antara kurikulum dan pengajaran.

Gambar 1. Keterkaitan kurikulum dan pengajaran
Walaupun antara kurikulum dan pengajaran merupakan dua sisi yang tidak terpisahkan, namun dalam proses pengajaran dan pembelajaran dapat terjadi berbagai kemungkinan hubungan antara keduanya. Olivia (Sanjaya: 2010: 20) menggambarkan kemungkinan hubungan antara keduanya dalam beberapa model seperti berikut.
1) Model dualistis (the dualistic model)
Pada model ini kurikulum dan pengajaran terpisah. Keduanya tidak bertemu kurikulum yang seharusnya menjadi input dalam menata system pengajaran tidak tampak. Demikian juga pengajaran yang semestinya memberikan balikan dalam proses penyempurnaan kurikulum tidak terjadi, karena kurikulum dan pengajaran berjalan sendiri.
2) Model berkaitan (the interlocking model)
Pada model ini kurikulum dan pengajaran dianggap sebagai suatu system yang keduanya memiliki hubungan. Baik antara kurikulum dan pengajaran maupun pengajaran dan kurikulum ada bagian-bagian yang berpadu atau memiliki keterkaitan, sehingga antara keduanya memiliki hubungan.
3) Model konsentris (the concentric nmodel)
Pada model ini kurikulum dam pengajaran memiliki hubungan dengan kemungkinan kurikulum bagian dari pengajaran atau pengajaran bagian dari kurikulum.
4) Model siklus (the cyclical model)
Pada model ini antara kurikulum dan pengajaran memiliki hubungan yang timbal balik. Keduanya saling berpengaruh. Apa yang diputuskan dalam kurikulum akan menjadi dasar dalam proses pelaksanaan pengajaran, begitu juga sebaliknya.
1. 5. Peran Guru dalam Pengembangan Kurikulum
Kurikulum merupakan sebuah dokumen yang berisi tentang perencanaan pembelajaran yang disusun sebagai pedoman guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Suatu perencanaan tentulah harus direalisasikan untuk melihat apakah perencanaan tersebut berhasil mencapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Adapun implementasi dari kurikulum adalah proses pembelajaran. Jadi, kurikulum dan proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Pembelajaran tanpa kurikulum tidak akan efektif dan kurikulum tanpa proses pembelajaran hanyalah sebuah dokumen yang tidak bermakna.
Dalam proses pembelajaran guru merupakan kunci utama yang menggerakkan pembelajaran dan berhubungan langsung dengan peserta didik yang menjadi objek kurikulum. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa guru berperan penting dalam pengimplementasian kurikulum. Peran guru dalam pengembangan kurikulum lebih kepada penerapannya di dalam tataran kelas. Murray Print dalam Wina (2010: 28) menyebutkan bahwa peran guru dalam pengembangan kurikulum adalah sebagai: (1) implementers, (2) adapters, (3) developers, dan (4) researchers.
1. Guru sebagai implementers
Guru sebagai implementer artinya guru sebagai pelaksana kurikulum. Guru merupakan tenaga teknis dimana perannya dalam pengembangan kurikulum hanya mengimplementasikan kurikulum yang telah disusun secara terpusat. Guru tidak memiliki kesempatan untuk menentukan isi maupun target kurikulum. Akibatnya, guru menjadi tidak kreatif dan inovatif dalam merekayasa pembelajaran. Guru cenderung hanya mengikuti apa yang tertulis dalm kurikulum tanpa melakukan pembaharuan. Kesentralan kurikulum juga mengakibatkan terjadinya keseragaman dalam proses pembelajaran yang menyebabkan apa yang dilakukan guru di berbagai daerah yang berbeda di Indonesia mengalami kesamaan, padahal karakteristik dan kebutuhan antar daerah berbeda satu sama lain.
2. Guru sebagai adapters
Peran guru sebagai adapter adalah menyesuaikan kurikulum dengan kondisi lapangan tempat dia mengajar. Berbeda dengan peranannya sebagai implementer yang hanya menjalankan kurikulum yang telah direncanakan, guru sebagai adapter mendapatkan wewenang untuk menyesuaikan kurikulum yang sudah ada dengan karakteristik sekolah dan kebutuhan lokal. Contohnya saja kebijakan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), para perancang kurikulum hanya menentukan standar isi sebagai standar minimal yang harus dicapai, bagaimana implementasinya, kapan waktunya dan hal hal teknis lainnya seluruhnya ditentukan oleh guru. (Wina: 2010:29). Dengan demikian guru akan lebih tertantang untuk memvariasikan kegiatan pembelajaran dan terhindar dari rutinitas yang menjemukan karena berkesempatan mengembangkan kreatifitas dalam mengajar.
3. Guru sebagai developers
Guru sebagai developer artinya guru memiliki wewenang untuk mengembangkan kurikulum sendiri. Guru dapat merancang sebuah kurikulum yang sesuai dengan karakteristik, visi, dan misi sekolah. Guru memiliki hak untuk menentukan tujuan, isi, strategi, dan pengukuran dalam perencanaan pembelajaran. Guru sebagai subjek langsung yang berinteraksi dengan para peserta didik pastinya memiliki gambaran riil tentang pengalaman belajar yang dibutuhkan peserta didik, sehingga dapat menyusun suatu kurikulum yang tepat sasaran. Pelaksanaan peran guru sebagai pengembang kurikulum dapat dilihat dalam pengembangan kurikulum muatan lokal (mulok) yang merupakan bagian dari struktur KTSP. Pengembangan kurikulum muatan lokal diserahkan sepenuhnya kepada tiap tiap satuan pendidikan agar dapat mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan masing – masing sekolah. Oleh sebab itu, Kurikulum muatan lokal bisa saja berbeda antara satu sekolah dengan sekolah yang lain.

4. Guru sebagai researchers
Guru sebagai researcher atau peneliti artinya guru berperan dalam meneliti kurikulum. Guru bertanggung jawab untuk menguji berbagai komponen kurikulum, misalnya menguji bahan bahan kurikulum, menguji efektifitas program, menguji strategi dan model pembelajaran, dan lain sebagainya termasuk mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa dalam mencapai target kurikulum. (Sanjaya: 2010: 30). Metode yang disarankan untuk penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran atau proses penerapan kurikulum. Dengan melaksanakan PTK, guru tidak hanya mengasah kemampuannya dalam meneliti tetapi juga terpacu untuk selalu berupaya mencari pemecahan atas masalah yang dihadapinya ketika mengajar. Dalam hal ini guru tidak hanya melakukan perannya sebagai peneliti kurikulum tetapi sekaligus meningkatkan kinerja profesionalnya. Guru akan menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien bagi peserta didik.

B. HAKIKAT SILABUS DAN MATERI AJAR
2.1. Hakikat Silabus dan Jenis – Jenis Silabus
Secara umum dapat diartikan bahwa silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
Menurut Mc Kay (Brown: 1995: 7) silabus menyediakan hal-hal yang akan dipelajari nantinya, mencakup isi dan kegiatannya. Mc Kay mengemukakan tiga tipe silabus dalam pengajaran bahasa, yaitu: structural, situational dan notional syllabus. Kemudian Brown (1995 :7) menambahkan empat tipe silabus lainnya. Ketujuhnya dapat dilihat pada table dibawah.
Table. Tipe – tipe Silabus

a. Menurut Mc Kay structural syllabuses focus pada bentuk gramatikal. Selama bertahun-tahun kebanyakan buku teks dan materi diorganisasikan berupa unsure fonologis dan gramatikal. Urutan structural syllabus biasanya dimulai dari yang paling mudah hingga tingkat kesulitan yang tinggi. Dan materi berdasarkan structural syllabus mudah diidentifikasi karena hanya berisi seputar grammar.
Contonhya: Unit 1. Tenses
1. Present Tense….
2. Present Continous…
3. Present Future…
b. Situational syllabus didasarkan pada gagasan bahwa bahasa ditemukan dalam konteks dan situasi yang berbeda. Organisasi pada silabus ini akan berdasarkan pada situasi seperti di pantai, di pesta atau di toko souvenir. Situasi yang dipilih berdasarkan kemungkinan bahwa siswa akan menghadapi situasi tersebut.
Contohnya: Introduction
At the housing office
Deciding to live together
Looking for an apartment
c. Topical syllabus mirip dengan situational syllabus, tetapi pada topical syllabus menjurus lebih kepada tema bukan situasi. Topic yang dipilih oleh pengarang buku teks berdasarkan pentingnya tema yang berhubungan dengan kehidupan siswa. Seperti topic tentang kebahagiaan.
Contohnya: Unit I. Issues in Society
1. Loneliness
2. Can stress make you sick?
3. Care of the erderly: a family Marten
d. Menurut McKay notional syllabus fokus pada penggunaan semantik. Namun Brown menyebutnya functional syllabus karena kata fungsional lebih tepat untuk menunjukkan prinsip seputar materi yang dibahas, seperti: penggunaan semantik atau kumpulan makna, disebut fungsional. Brown memilih fungsi berdasarkan kegunaannya yang dirasakan para siswa dan kemudian mengurutkan mereka atas dasar beberapa gagasan tentang kronologi, frekuensi atau hirarki kegunaan fungsi. Misalnya, urutan logis untuk fungsi seperti yang disebutkan diatas seperti: greeting people, introducing someone, seeking information, giving information, interrupting, changing topics, dan saying good bye.
Contoh functional syllabus:
1. Talking about yourself, starting a conversation, making a date
2. Asking for information: question techniques, answering techniques, getting more information
3. Getting people to do things: requesting, attracting attention, agreeing and refusing.
e. Notional syllabus merupakan silabus yang merupakan gagasan umum. Gagasan umum meliputi konsep-konsep seperti jarak, durasi, kuantitas, kualitas, lokasi dan sebagainya.
Contohnya:
Unit 1 Properties and Shapes
Unit 2 Location
Unit 3 Structure
Unit 4 Measurement I (of solid figures)
Perlu diperhatikan bahwa notional syllabus berbeda dengan functional syllabus. Jenis notional syllabus mengorganisir/menyusun seputar gagasan umum, sementara functional syllabus mengorganisir seputar fungsi bahasa.
f. Sejumlah skill-based syllabus yang berbeda juga banyak bermunculan. Skill based syllabus mengorganisasi materi seputar kemampuan berbahasa tau kemampuan akadmik yang diperlukan siswa untuk belajar bahasa. Misalnya saja dalam membaca termasuk keterampilan seperti membaca skimming untuk ide umum, pemindaian untuk informasi spesifik, menebak kosakata dari conteks, penggunaan prefix, sufiks, menemukan ide pokok dan sebagainya.
Contoh skill-based syllabus:
Scanning
Key Word
Topic Sentence
Reference Words
Connectors
g. Baru-baru ini juga muncul task-based syllabus yang mengorganisir materi seputar berbagai jenis tugas yang akan dilakukan siswa, yang nantinya akan dibutuhkan dalam praktik berbahasa. Seperti reading job ads, making appointment, writing a resume, filling out job application, solving problem dan sebagainya. Task-based syllabus berdasar pada kegunaan yang akan dialami siswa.
Contohnya:
1. Writing notes and memos
2. Writing personal letters
3. Writing telegrams, personal ads and instructions
4. Writing descriptions
5. Reporting experiences
Namun sebuah buku teks tidak hanya dapat berisi satu tipe silabus saja. Bisa saja terdapat dua tipe silabus dalam satu buku teks. penggabungan dua tipe silabus ini dinamakan mixed syllabus. Misalnya penggabungan silabus situational dan topical dalam satu buku teks, ini bisa dinamakan situational-topical syllabus.
Selain mixed syllabus, ada juga yang dinamakan layered syllabus. Silabus kedua dan ketiga membentuk lapisan berada dibawah silabus utama. Kebanyakan materi merupakan bagian dari silabus structural yang berada dibawah silabus utama. Sebagai contoh dari situational syllabus yang digunakan Brinton and Neuman bahwa dibawah situational syllabus ada sebuah structural syllabus yang mengorganisir materi di dalam dan diantara tiap bab. Contohnya,
Perhatikan subjudul untuk Unit 1
Introduction
Nouns
Cardinal number
The Present Tense of Verb Be: statement form
Subject Pronoun
Contraction with be
Article usage: An Introduction
Basic Writing Rules, Part I
2.2. Hakikat Materi Ajar
Materi ajar adalah segala bentuk materi yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Materi yang dimaksud bisa berupa materi tertulis, maupun materi tidak tertulis. Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.
Bahan ajar adalah materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar (Depdiknas, 2003). Materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus diajarkan oleh guru dan harus dipelajari oleh siswa untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Selain itu, materi ajar merupakan seperangkat materi/substansi pelajaran yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dengan materi ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis, sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu. Materi ajar merupakan informasi, alat, dan teks yang diperlukan guru untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.

C. LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
3.1. Hakikat Pengembangan Kurikulum
Kurikulum memiliki peranan penting dalam sistem pendidikan. Oleh sebab itu, pengembangan kurikulum harus didasarkan pada landasan yang kuat dan prinsip – prinsip yang sesuai agar tidak terjadi kesalahan dan kekeliruan dalam implementasi pendidikan. ”Pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya”. (Sanjaya: 2010: 30). ”Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar mengajar, antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber, dan alat pengukur pengembangan kurikulum yang mengacu pada kreasi sumber sumber unit, dan garis pelajaran kurikulum ganda lainnya, untuk memudahkan proses belajar mengajar.” (Hamalik: 2008: 183)
Seller dan Miller dalam Sanjaya (2010: 32) mengemukakan bahwa proses perkembangan kurikulum adalah rangakaian kegiatan yang dilakukan secara terus menerus. Seller berpendapat bahwa pengembangan kurikulum merupakan siklus yang dimulai dari menentukan orientasi kurikulum yang berupa kebijakan kebijakan umum seperti arah dan tujuan pendidikan, pandangan tentang hakikat belajar dan peserta didik, dll. Kemudian, Berdasarkan orientasi tadi dikembangkan kurikulum yang dirancang untuk menjadi acuan pembelajaran. Kurikulum yang telah dikembangkan ini diimplementasikan dalam pembelajaran dan setelah itu dievaluasi. Hasil evaluasi penerapan kurikulum tadi dijadikan masukan untuk menentukan orientasi, dan begitu seterusnya. ”Dengan demikian, maka pengembangan kurikulum memiliki dua sisi yang sama pentingnya, sisi kurikulum sebagai pedoman …….. dan sisi kurikulum sebagai implementasi” (Sanjaya: 2010: 33)
Ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan isi pengembangan kurikulum, yaitu:
1) Rentangan Kegiatan (Range of Activity)
Pengembangan isi kurikulum dimulai dari kegiatan pengembangan yang paling luas yaitu rancangan kebijakan kurikulum yang berisi tentang apa yang harus diajarkan dan sebagai pedoman bagi para pengembang kurikulum lebih lanjut. Menetapkan kebijakan kurikulum perlu dikaji secara hati hati dan komprehensif. Kemudian rancangan program studi yang mencakup kegiatan kegiatan menentukan tujuan, urutan serta kedalaman materi dalam bidang studi. Setelah itu dirancanglah program pengajaran yang mencakup aktivitas belajar dalam setiap bidang studi untuk satu tahun, satu semester, atau satu caturwulan. Selain merancang program, kegiatan pengembangan kurikulum juga berkaitan dengan menghasilkan bahan bahan pengajaran, seperti menyusun buku teks, modul, program program film, rekaman audio, dan lain sebagainya yang menunjang kegiatan pembelajaran.
2) Tujuan Kelembagaan (Instutional Purpose)
Tujuan kelembagaan harus sejalan dengan visi dan misi sekolah. Setiap sekolah memiliki visi dan misi yang berbeda. Misalnya visi dan misi sekolah umum adalah mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sedangkan visi dan misi sekolah kejuruan mempersiapkan siswa untuk memasuki dunia kerja. Dengan demikian, isi kurikulum harus disesuaikan dengan tujuan kelembagaan agar pengalaman belajar yang didapat siswa di sekolah dapat mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan.

3.2. Prinsip – Prinsip Pengembangan Kurikulum
Dalam bukunya yang berjudul Kurikulum dan Pembelajaran, Sanjaya (2010: 39 42) menguraikan lima prinsip pengembangan kurikulum, yaitu: prinsip relevansi, prinsip fleksibilitas, prinsip kontinuitas, efektifitas, dan efisiensi.
1) Prinsip Relevansi
Prinsip relevansi menekankan pada kesesuaian kurikulum dengan nilai – nilai yang ada di masyarakat. Kurikulum harus mampu menyusun pengalaman pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan membekali siswa dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Prinsip relevansi dibedakan menjai dua, yakni relevansi internal dan relevansi eksternal.
Relevansi internal adalah kesesuaian antara komponen – komponen yang ada di dalam kurikulum (tujuan, isi, materi, pengalaman belajar, metode, instrumen penilaian). Sedangkan relevansi eksternal adalah kesesuaian komponen kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Relevansi eksternal dibagi menjadi tiga: pertama, relevan dengan peserta didik, artinya pengembangan kurikulum disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar siswa. Dengan demikian akan berbeda isi kurikulum untuk siswa yang ada di perkotaan dengan siswa yang ada di pedesaan. Atau kurikulum untuk siswa yang berada di kawasan industri dengan kawasan pariwisata. Kedua, relevan dengan perkembangan zaman, artinya kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Hal ini penting agar pengalaman belajar yang dilakukan siswa bermanfaat bagi kehidupannya pada masa datang. Ketiga, relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan, artinya pengalaman yang di dapat siswa di sekolah mempersiapkannya untuk berkecimpung di dunia kerja.
2) Prinsip Fleksibilitas
Artinya kurikulum harus bersifat tidak kaku atau fleksibel dan mudah diterapkan di berbagai situasi dan kondisi lapangan yang berbeda. Prinsip fleksibilitas dibedakan menjadi dua: Pertama, fleksibel bagi guru yang artinya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk mengembangkan program pengajaran sesuai dengan kondisi yang ada. Kedua, fleksibel bagi siswa yang artinya kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai bakat dan minat siswa.
3) Prinsip Kontinuitas
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa dalam pengembangan kurikulum perlu adanya saling keterkaitan dan kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan program pendidikan. Perlu dijaga agar tidak terjadi pengulangan materi ajar dan penyusunan materi dimulai dari tingkat yang dianggap paling mudah ke tingkat yang paling sulit agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien.
4) Efektifitas
Prinsip efektifitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum yang dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Efektifitas dibagi dua: pertama, efektifitas yang guru dalam mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas, contohnya: guru berhasil menyelesaian 12 program pembelajaran sesuai dengan pedoman kurikulum. Kedua, efektifitas siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Contoh: apabila dalam satu caturwulan siswa dapat mencapai semua tujuan pembelajaran sesuai dengan yang telah ditetapkan, dapat dikatakan proses pembelajaran siswa efektif.
5) Efisiensi
Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, suara, dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Sebuah kurikulum yang efisien adalah kurikulum yang dalam segala keterbatasan sarana dan prasarana masih dapat diimplementasikan. Kurikulum dikatakan memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya minimal, dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal. Sebaliknya, kurikulum yang membutuhkan peralatan, sarana dan prasarana yang sangat khusus dengan biaya yang besar dalam penerapannya adalah kurikulum yang tidak praktis dan tidak efisien.

3.3. Landasan Pengembangan Kurikulum
Masih dari buku yang sama, Sanjaya (2010: 42 61) menjelaskan tentang tiga landasan pengembangan kurikulum, yakni landasan filosofis, psikologis, dan landasan sosio teknologis.
1) Landasan Filosofis
Setiap kelompok masyarakat secara filosofis memiliki pandangan hidup yang berbeda sesuai dengan nilai – nilai yang dianggapnya baik. Ada empat fungsi filsafat dalam pengembangan kurikulum. Pertama, filsafat dapat menentukan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan hendaknya mencerminkan sistem nilai (value system) yang dianut oleh masyarakat seperti yang dikatakan Sanjaya (2010: 44) ”Kurikulum pada hakikatnya berfungsi untuk mempersiapkan anggota masyarakat yang dapat mempertahankan, mengembangkan, dan dapat hidup dalam sistem nilai masyarakatnya sendiri…….”.Tujuan pendidikan harus mencakup tiga hal yaitu: autonomy, artinya memberikan kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan kepada individu dan masyarakat agar mereka dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik dan mandiri secara pribadi maupun bermasyarakat. Equity, artinya memberikan kesamaan pendidikan dasar yang memungkinkan seluruh warga negara berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi dan budaya. Survival, artinya pendidikan tidak hanya memberikan kesempatan bagi setiap bangsa untuk melestarikan dan mewariskan budayanya kepada generasi berikutnya tetapi juga memberikan pemahaman akan saling ketergantungan antara manusia.
Kedua, filsafat dapat menentukan isi atau materi ajar yang akan diberikan kepada peserta didik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Ketiga, filsafat dapat menentukan strategi atau cara pencapaian tujuan. Filsafat dapat dijadikan pedoman dalam merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan sistem nilai masyarakat. Keempat, melalui filsafat dapat ditentukan bagaimana menentukan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan baik dalam bidang pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
2) Landasan Psikologis
Secara psikologis, setiap peserta didik memiliki keunikan dan perbedaan baik dalam segi minat, bakat, maupun potensi lainnya. Untuk itu, pengembang kurikulum perlu memiliki pengetahuan baik tentang psikologi perkembangan anak maupun tentang psikologi belajar.
a. Psikologi Perkembangan Anak
Secara garis besar Piaget membagi perkembangan intelektual (kognitif) setiap individu kedalam empat fase, yakni fase sensori motor, fase praoperasional, fase operasional konkret, dan fase operasional formal.
• Fase sensorimotor (0 sampai 2 tahun)
Anak sejak lahir sampai dengan 0,5 tahun memahami objek sekitarnya melalui sensori dan aktivitas motoriknya karena bulan bulan pertama anak belum mampu bergerak dalam ruangan maka anak mendapatkan pengalaman dari tubuh dan inderanya. Kemampuan berbahasa pada fase ini belum muncul, interaksi dengan lingkungan dilakukan melaui gerakan gerakan. Segala yang dilakukan anak dengan gerakan adalah eksperimennya terhadap lingkungan. Diperkirakan dengan semakin banyaknya pengalaman anak yang diperolehnya dari eksperimen terhadap lingkungan, maka akan semakin baik pula perkembangan intelektual anak tersebut.
• Fase preoperasional (2 sampai 7 tahun)
Fase ini terbagi menjadi dua, yaitu sub tahap simbolis (2 sampai 4 tahun) dimana proses berpikir anak berpusat pada penguasaan simbol simbol seperti bahasa dan gambar, dan sub tahap intuitif (4 sampai 7 tahun) dimana anak menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu jawaban atas semuanya. Pada fase ini, kemampuan anak untuk berbahasa sudah mulai berkembang. Melaui pengalamannya anak dapat mengenal dan memberikan objek dengan nama nama sesuai dengan gagasan yang dibuatnya dalam otak. Anak dalam fase ini cenderung bersifat egocentric artinya menganggap bahwa cara pandang orang lain sama dengan dirinya.
• Fase operasional konkrit (7 sampai 11 tahun)
Pada tahap ini anak sudah mampu menentukan urutan objek, memahami hubungan hubungan logis, mengklasifikasi satu set objek, mampu memecahkan masalah secara konkrit, conservation atau pengekalan kuantitas suatu objek, dan mampu menerima sudut pandang orang lain walaupun pendapat itu dianggapnya salah. Kemampuan anak masih terbatas pada hal hal yang konkret dan anak akan mengalami kesulitan memecahkan masalah tanpa pengalaman langsung dengan objek konkret.
• Fase operasional formal (11 sampai 14 tahun ke atas)
Pada tahap ini anak sudah mampu berpikir tentang hal hal yang abstrak, misalnya menjumlahkan angka dalam benaknya. Pola pikir anak sudah sistematik dan meliputi proses proses yang kompleks. Aktivitas proses berpikir pada fase ini mulai menyerupai cara berpikir orang dewasa karena kemampuannya yang sudah berkembang pada hal hal yang abstrak.
Baik tujuan maupun isi kurikulum harus mempertimbangkan taraf perkembangan anak agar dapat berfungsi secara efektif.
b. Psikologi Belajar
Pengembangan kurikulum tidak terlepas dari teori belajar. Banyak teori belajar yang mengatakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku. Namun demikian, teori tersebut berpangkal pada teori tentang hakikat manusia. John Locke dan Leibnitz memiliki pandangan yang berbeda tentang hakikat manusia.
Menurut Locke, manusia adalah organisme yang pasif. Manusia serupa kertas putih yang kosong, hendak ditulisi apa kertas tersebut tergantung kepada orang yang menulisnya. Dari pandangan Locke ini lahirlah paham behavioristik elementeristik. Menurut aliran behavioristik:
• belajar merupakan fenomena perilaku yang dapat diobservasi.
• belajar sebagai pembentukan atau perubahan tingkah laku yang terutama disebabkan oleh faktor eksternal (stimulus)
• belajar terjadi karena adanya hubungan antara stimulus dan respon. Teori ini juga kerap dikenal dengan teori Stimulus Respons
Sedangkan menurut Leibnits, manusia adalah organisme yang aktif. Manusia bebas berbuat dan bebas melakukan pilihan dalam suatu situasi. Titik pusat kebebasan adalah kesadarannya sendiri. Pandangan hakikat manusia menurut Leibnits melahirkan aliran belajar kognitif wholistik.
Pandangan kognitif menganggap belajar sebagai proses aktif dimana peserta didik bukan hanya menerima pengetahuan tetapi juga menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki untuk memecahkan masalah dan mencapai wawasan baru. Menurut pandangan kognitif, hal yang paling penting adalah pengetahuan karena pengetahuan merupakan modal awal dalam pembelajaran dan membimbing ke proses belajar berikutnya. Dengan pengetahuan dasar yang baik maka proses belajar dan mengingat akan lebih mudah. Belajar merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat tetapi merupakan penggerak utama dalam perubahan tingkah laku.
Adanya perbedaan pendapat tentang teori belajar dapat memberi masukan bagi pengembang kurikulum dalam mengembangkan kurikulum yang efektif.
3) Landasan Sosiologis Teknologis
Sekolah diharapkan dapat mendidik siswa agar siap berperan aktif dalam masyarakat. Dengan kata lain, sekolah harus memberikan pengalaman belajar yang bermafaat bagi siswa dalam kehidupannya bermasyarakat. Untuk mencapai tujuan itu, tentu saja kita kembali kepada kurikulum yang menjadi pedoman dalam proses pendidikan di sekolah. Sesuai dengan prinsip relevansi, kurikulum harus mampu menjawab tuntutan atau kebutuhan masyarakat.
Dalam proses pengembangan dan penyusunan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat inilah perlu dipertimbangkan berbagai hal yang berkaitan dengan asas sosiologis dan teknologis.
a. Kekuatan Sosial yang dapat Mempengaruhi Kurikulum
Masyarakat bersifat dinamis yaitu selalu mengalami pergerakan dan perkembangan kompleks yang berdampak pada perubahan pada sistem nilai, pola kehidupan, struktur sosial, kebutuhan, dan tuntutan masyarakat. Karena hal hal tersebut, muncul berbagai tuntutan terhadap penyelenggaraan dann praktik pendidikan. Tuntutan dan masukan yang berbeda dari berbagai golongan masyarakat memberikan kesulitan bagi pengembang kurikulum dalam menyusun kurikulum yang menjawab semua tuntutan tersebut. Dalam konteks ini, pengembang kurikulum perlu menjalankan peran kritis dan evaluatifnya dalam menentukan muatan kurikulum yang dianggap layak untuk dipelajari oleh peserta didik.
b. Kemajuan IPTEK sebagai Bahan Pertimbangan Penyusunan Kurikulum
Hal penting yang perlu diperhatikan dan diantisipasi oleh para pengembang kurikulum sehubungan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat adalah mengenai perubahan pola hidup dan perubahan sosial politik.
Perubahan pola hidup dapat dilihat dari perbedaan pola kerja, pola hidup yang bergantung pada hasil hasil teknologi, pola hidup dalam sistem perekonomian baru. Kondisi seperti ini memiliki konsekuensi terhadap cara dan strategi pengajaran yang dipersiapkan oleh lembaga pendidikan. Kurikulum didesain agar mampu membentuk manusia yang produktif, tidak gagap teknologi, dan memperkenalkan peserta didik pada fenomena fenomena baru yang akan ditemukannya di lingkungan.
Kehidupan sosial politik Indonesia yang pada masa Orde Baru berkembang pada pola yang kaku dan bersifat linier berdampak pada sistem pendidikan yang sentralistis dan dibawah pengaruh penguasa. Kurikulum kurang berperan sebagai alat pembebasan pendapat dan pencerahan karena digunakan untuk membentuk manusia yang memiliki pola pikir yang seragam dan tunduk dan patuh terhadap kekuasaan.
Dengan munculnya era reformasi, kurikulum dirancang untuk menciptakan manusia yang kritis dan demokratis. Dikeluarkanlah Undang Undang No 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan tentang Perimbangan Pembagian Keuangan. Undang Undang ini memberi kewenangan seluruh urusan pemerintahan termasuk bidang pendidikan dan kebudayaan yang semula berada pada pemerintah pusat kepada pemerintahan daerah.
Sehubungan dengan hal itu maka pengembang kurikulum dalam melaksanakan tugasnya harus melakukan hal hal sebagai berikut:
• mempelajari dan memahami kebutuhan masyarakat seperti yang dirumuskan dalam undang undang, keputusan pemerintah, peraturan peraturan daerah, dan lain sebagainya,
• menganalisis budaya masyarakat tempat sekolah berada,
• menganalisis kekuatan serta potensi daerah, dan
• menganalisis syarat dan tuntutan tenaga kerja.
Dalam konteks dasar sosiologis teknologis, hal hal di atas merupakan hal hal yang sangat penting untuk dipahami oleh pengembang kurikulum.

3. 4. Asal Usul Pengembangan Kurikulum Bahasa
Sejarah perkembangan kurikulum bahasa berawal dari gagasan model silabus. Model silabus adalah salah satu aspek pengembangan kurikulum tetapi tidak mirip dengan kurikulum. Silabus berisikan materi pempelajaran yang spesifik dan bagian dari apa yang akan diajarkan dan diujikan. Jadi silabus keterampilan berbicara seharusnya memiliki kriteria dalam kemampuan berbicara yang akan diajarkan dan dipraktekan, misalnya fungsi, topik, atau aspek lain yang mendekati pembelajaran. Pengembangan kurikulum adalah suatu proses yang sangat komprehensif dibandingkan silabus. Itu semua terdiri dari proses yang digunakan untuk menentukan kebutuhan siswa baik individu atau kelompok, menentukan silabus yang tepat, struktur pembelajaran, metode, dan materi, serta mengukur hasil dari sebuah proses.
Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami beberapa kali perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan yang sekarang 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Akibatnya, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan juga perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Jika dikaitkan dengan pengajaran bahasa, kurikulum yang kita kenal terdapat dalam lima periode, yakni: Kurikulum tahun 1975, kurikulum tahun 1984, kurikulum tahun 1994, kurikulum tahun 2004, dan Kurikulum 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengacu kepada standar nasional pendidikan.
1) Kurikulum 1975
Pada Kurikulum 1975 pembelajaran bahasa menggunakan pendekatan struktural (formalis), pembelajaran bahasa dimulai dari konsep-konsep. Salah satu bentuk khas dalam Kurikulum 1975 yang berlaku untuk semua bidang studi adalah PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional).
2) Kurikulum 1984
Pada Kurikulum 1984 pembelajaran bahasa menggunakan pendekatan fungsional. Pembelajaran bahasa ditekankan kepada aspek fungsi bahasa : menyimak, berbicara, membaca, menulis/mengarang. Pembelajaran menekankan pada pemerolehan bahasa. Salah satu bentuk khas dalam kurikulum 1984 adalah adanya CBSA (cara belajar siswa aktif) dan penggunaan pendekatan keterampilan proses. Dalam Kurikulum 1984 inilah dimunculkan pembelajaran ‘Pragmatik’. Kontruksi materi pelajaran selalu dimulai dengan membaca, kosakata, struktur, menulis, pragmatik, dan diakhiri dengan apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.
3) Kurikulum 1994
Kurikulum 1994 masih menggunakan pendekatan fungsional. Penekanannya pada aspek kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Dalam kurikulum 1994 ini tidak ada pembelajaran sastra. Materi sastra dimasukkan ke dalam aspek pemahaman yang sangat minim (hanya ada satu pokok bahasan tentang sastra.)
4) Kurikulum 2004
Kurikulum 2004 adalah awal diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum ini sangat ideal. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia juga sangat ideal dalam segala aspek kebahasaan maupun aspek kesastraan. Ada banyak guru yang belum memahami dan belum mampu melaksanakan KBK ini secara ideal, sehingga oleh TIM 9 Depdiknas dibonsai menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
5) Kurikulum 2006
Kurikulum 2006 atau lebih populer dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih fleksibel untuk dilaksanakan. Pembelajaran bahasa tidak lagi harus dirinci dengan indikator-indikator yang sulit. Bahkan pembelajaran Kebahasaan dan Kesastraan diharapkan seimbang dalam aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Penjelasan ini sejalan dengan penjelasan yang dikemukakan oleh Richards. Berdasarkan sejarah perkembangan bahasa 20 abad yang lalu, banyak dorongan perubahan yang mendekati pengajaran bahasa yang berasal dari perubahan metode pengajaran. Banyak metode yang muncul dan hilang diakhir 100 tahun dalam kategori “metode yang baik”, diantaranya sebagai berikut:
1. Grammar Translation Method (1800 – 1900)
2. Direct Method (1890 – 1930)
3. Structural Method (1930 – 1960)
4. Reading Method (1920 – 1950)
5. Audiolingual Method (1950 – 1970)
6. Situational Method (1950 – 1970)
7. Communicative Approach (1970 – present)

Seperti pada pernyataan yang dikemukakan diatas, dijelaskan bahwa dari kelima periode pengembangan kurikulum tersebut, landasan atau pendekatan yang digunakannya hanya mencakup tiga, yakni Pendekatan Audiolingual melandasi kurikulum tahun 1963 hingga kurikulum 1975, Pendekatan Komunikatif Lemah melandasi kurikulum tahun 1986 – 1994, dan pendekatan Komunikatif Kuat melandasi kurikulum tahun 2004 hingga sekarang.
a. Kurikulum tahun 1963 – 1975 menggunakan pendekatan audiolingual
Pendekatan Audiolingual adalah aliran linguistik struktural yang dikembangkan di Amerika Serikat. Aliran struktural ini memandang bahasa sebagai suatu sistem yang secara struktural diantara unsur-unusurnya saling berkaitan. Dalam perspektif ini, unsur fonem secara struktural dapat dikonstruksi menjadi morfem, morfem menjadi kata, kata menjadi frase, frase menjadi kalusa dan klausa menjadi kalimat. Karena itu, aliran struktural mempunyai karakteristik berikut:
(1) Unsur-unsur bahasa secara linier dapat digabungkan menjadi unsur yang lebih besar, unsur bahasa dapat diuraikan secara struktural pada setiap tahap (misalnya, fonem, morfem, dan kata).
(2) Tahapan kebahasaan dipandang sebagai sistem dalam sistem, yakni secara piramidal terstruktur, misalnya fonem dapat dibentuk menjadi mofem dan morfem menjadi kata, dan kata dapat dikonstruksi menjadi frase, klausa dan kalimat. Pandangan lain dari aliran ini adalah bahasa dipandang sebagai tuturan (speech). Maksudnya adalah siswa cenderung belajar berbicara terlebih dahulu sebelum belajar membaca dan menulis.
Kurikulum pada pendekatan audiolingual ini menganut model linier, yakni bahan ajar diorgansisaikan dari mudah ke sulit dengan fokus pada keterampilan berbahasa lisan dan begerak ke keterampilan berbahasa tulis setelah siswa menguasai unsur-unsur bahasa yang diseleksi dan diorganisiskan secara berjenjang dan linier. Karena itu, silabus yang digunakan dalam kurikulum ini adalah gabungan antara silabus berbasis struktural dan keterampilan.

b. Kurikulum tahun 1986 – 1994 menggunakan pendekatan komunikatif (lemah)
Pendekatan pada kurikulum ini dikatakan komunikatif yang lemah karena menggunakan bahasa itu sendiri dan silabus dikembangkan disekitar tema, struktur, fungsi, dan situasi. Jadi pendekatan komunikatif lemah memiliki kriteria silabus gabungan dan pengembangan silabus yang bersifat sintetik. Kurikulum tahun 1986 – 1994 menggunakan silabus gabungan, yakni bertumpu pada tema atau anak tema, fungsi bahasa, situasi, dan struktur bahasa.
c. Kurikulum tahun 2004 hingga sekarang menggunakan pendekatan komunikatif (kuat)
Pendekatan pada kurikulum ini dikatakan komunikatif yang kuat karena saat belajar, siswa menggunakan bahasa itu sendiri, tatabahasa tidak menjadi fokus, silabus diorganisasikan disekitar kegiatan-kegiatan komunikasi (communicative tasks); pendekatan dalam pengembangan silabus bersifat analitik. Analitik dimaksudkan bahwa bahasa harus sesuai dengan konteks penggunaannya dan layak diterapkan dalam pembelajaran dan dapat mencapai sasaran.

Harold Palmer dalam Richard (2005: 4) menjelaskan tentang metode yang struktural pada tahun 1920 dan disimpulkan dalam metode pengajaran bahasa, yaitu:
1. Persiapan yang pertama : Diorientasikan kepada siswa dalam belajar bahasa.
2. Bentuk agenda rutinitas : Membentuk rutinitas yang benar.
3. Ketepatan : Menjauhi bahasa yang tidak akurat.
4. Gradasi :Setiap masing-masing langkah, siswa menyiapkan kegiatan selanjutnya.
5. Usul : Setiap aspek bahasa diberikan penegasan.
6. Dasar : Perubahan dari yang kongkrit menjadi abstrak.
7. Konkrit : Memberikan nilai daya tarik dalam setiap waktu.
8. Berdasarkan urutan : Mendengar sebelum berbicara, dan keduanya sebelum menulis.
9. Pendekatan banyak fungsi : banyak perbedaan arah jalan untuk mengajarkan banyak bahasa.
Nunan (1991:279) menawarkan 5 ciri khas utama Pembelajaran Bahasa Komunikatif, yaitu:
o Penekanan pada pembelajaran untuk berkomunikasi melalui interaksi dalam bahasa sasaran;
o Pengenalan teks otentik dalam situasi pembelajaran;
o Pemberian kesempatan bagi pelajar untuk berfokus bukan saja pada bahasa tetapi juga pada proses belajar itu sendiri;
o Peningkatan pengalaman pribadi pelajar sendiri sebagai unsur yang memberikan sumbangan terhadap hasil belajar di kelas; dan
o Upaya menghubungkan pembelajaran bahasa di kelas dengan pengaktifan bahasa di luar kelas.
Semua bentuk pengajaran pastinya disesuaikan pada pilihan yang konkrit dari seluruh mata pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Hal ini berkaitan dengan dua aspek pilihan utama yang telah ditentukan sejak abad 20, yaitu : seleksi kosakata dan seleksi gramatika. Bagaimanapun, frekuensi dan tingkat merupakan bagian yang tidak cukup dalam pengembangan daftar kata, karena kata memiliki frekuensi yang tinggi dan tingkat yang mendalam pada teks menulis terhadap pengajaran bahasa. Terdapat kriteria-kriteria yang digunakan dalam menentukan daftar kata, yaitu:
1. Dapat diajarkan : Dalam pengajaran bahasa yang menggunakan metode secara langsung seperti TPR (Total Physical Response) mengajarkan kosakata yang konkret karena dalam metode ini kosakata dapat diajarkan melalui sebuah ilustrasi gambar atau demonstrasi.
2. Sama/mirip : Beberapa kata dipilih karena mirip dengan kata-kata yang digunakan oleh penutur asli. Contohnya : Bahasa Inggris dan Bahasa Perancis memiliki bahasa-bahasa yang sama asalnya, seperti: table, page, nation.
3. Tersedia : Beberapa kata mungkin tidak asing tetapi harus tersedia, guna agar mereka dapat berpikir cepat ketika dalam beberapa topik kata-kata tidak mucul kembali. Misalnya: kelas diibaratkan dengan bangku, guru, siswa, dan guru.
4. Ulasan : Kata-kata yang memiliki arti lain (kiasan) dapat digunakan. Misalnya : Tempat duduk bisa diartikan sebagai bangku, dan kursi.
5. Kemampuan yang ditetapkan : Beberapa kata dapat dipilih karena berguna pada kata-kata yang telah ditetapkan, walaupun kata-kata tersebut berada diantara frekuensi kata yang digunakan dalam bahasa. Misalnya pada kata “container” dapat ditetapkan pada kata ember, kendi/guci, dan kardus.
Seleksi Gramatika dan Gradasi (Peningkatan)
Perlunya pendekatan sistematis untuk memilih tata bahasa untuk dalam pengajaran menjadi hal yang diprioritaskan dalam linguistik terapan sejak tahun 1920. Seleksi gramatika dapat digunakan pada ungkapan-ungkapan bahasa, misalnya asking permission, asking opinion, asking help, dan sebagainya. seleksi gramatika dapat dijabarkan pada dua aspek, yaitu : simple (terarah pada pusat), frekuensi, dan dapat dipelajari.
Can I ask you a question?
May I have a piece of cake?
Could I get you to turn off the lights?
Do you mind if I smoke?
Would you mind if I asked you something?
Is it okay if I sit here?
Would it be all right if I borrowed your lawn mower?
Lima buku yang telah ditemukan dalam memperkenalkan 221 item gramatikal yang berbeda, meskipun semuanya sangat bervariasi dalam jumlah item gramatikal yang ada, hal ini tidak diragukan lagi dalam memengaruhi persepsi peserta didik baik yang mudah ataupun sulit pada masing-masing buku. Item-item pada masing-masing buku tersebut, diantaranya: Textbook A = 100 , Textbook B = 148, Textbook C = 74 , Textbook D = 91 , dan Textbook E = 84.
Materi gramatika harus bertingkat. Bahasa dalam sejumlah kasus, bahwa kita belajar bahasa dari seluruh rangkaian preposisi, kegunaan dan kebutuhan, dan semua itu akan dipilih sesuai dengan tingkat kepentingannya. Tentu saja jika kita terdiri dari studi sadar mekanisme bahasa tertentu, maka sesuai dengan prinsip gradasi, kita belajar ini penting agar meninggalkan rincian untuk tahap berikutnya. Tujuannya adalah untuk mengembangkan struktur, dinilai menjadi perkembangan yang logis, yang akan memberikan pengenalan yang bertahap ke tata bahasa bahasa Inggris. Pendekatan yang digunakan adalah analitik. prinsip-prinsip berikut telah digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan silabus tata bahasa, diantaranya:
1. Simplicity and Centrality
Gramatika yang berdasarkan aspek ini dijelaskan bahwa pengajaran gramatika harus simple yang berarti tidak ruwet dan terarah pada pusat gramatika. Misalnya:
The train arrived (Subject Verb)
She is a journalist (Subject Verb Complement)
The Children are in the bedroom (Subject Verb Adverb)
We ate the fruit. (Subject Verb Object)
I put the book in the bag (Subject Verb Object Adverb)
Ada beberapa contoh yang memiliki kriteria yang sama, yaitu:
Having neither money nor time, we decided buying a ticket to the opera was out of the question for her to speak to us like that was something we had never anticipated.
2. Frekuensi : frekuensi yang sering terjadi berpengaruh pada pengembangan silabus gramatika, tetapi memiliki sedikit kemajuan yang relatif dalam struktur gramatika yang akan dianalisis. Contoh dari data yang telah diambil oleh Mc. Carthy and Carter (1995) melaporkan data yang diambil dari bahasa percakapan dan mengidentifikasi sejumlah fitur tata bahasa yang diucapkan, tidak biasanya termasuk dalam silabus pengajaran standar. Contohnya:
Subject dan Verb, such as “ Don’t know” daripada “I don’t know”. Topik yang menjadi sorotan seperti “ That house on the corner, is that where you live? Bagian yang berada di akhir kalimat “You know, don’t they? Diberitakan verba yang terdiri dari “I was saying” they were telling me”
3. Learnability (dapat dipelajari) : bahwa pokok-pokok gramatika termasuk dalam silabus. Gramatika silabus dapat dipelajari dalam pembelajaran bahasa kedua. Misalnya, Dulay dan Burt (1973, 1974) menjabarkan pembentukan kata menjadi sebuah gramatika, berdasarkan data yang diperoleh dari wawancara yang telah dilakukan pada seorang pembelajar bahasa kedua dalam tahap level pendidikan yang berbeda, yaitu:
1. Nouns 11. Wh-Questions
2. Verbs 12. Present Continous
3. Adjectives 13. Directions
4. Verb be 14. Possesive Adjectives
5. Possesive Pronoun 15. Comparatives
6. Personal Pronoun 16. Offers
7. Adverbs of time 17. Simple Future
8. Requests 18. Simple Past
9. Simple present 19. Infinitives/gerunds
10. Futures 20. First Conditional
Meskipun validitas yang menjadi bahan untuk dipertanyakan, terdapat gagasan bahwa struktur gramatikal diperoleh dalam tatanan alam dan informasi yang tepat bahwa bisa menjadi manfaat praktis dalam perencanaan silabus tata bahasa.
Pendekatan gradasi terdiri dari : Arah linguistik, unsur-unsur intrinsik, kebutuhan berkomunikasi, dan frekuensi. Di samping faktor-faktor, dalam merancang pembelajaran dihadapkan dengan pilihan antara dua pendekatan dalam urutan item setiap pembelajaran, yaitu linear atau cyctical atau spiral gradation. Dengan gradasi linear, item diperkenalkan satu per satu waktu dan berlatih secara intensif sebelum item berikutnya muncul. Berdasarkan siklus gradasi, item yang diperkenalkan kembali pada bagian dari keseluruhan pembelajaran.

III. PENUTUP

Kurikulum merupakan sebuah dokumen yang berisi tentang perencanaan pembelajaran yang disusun sebagai pedoman guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Kurikulum terdiri dari komponen – komponen yang saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain. Komponen yang membentuk sistem kurikulum akan melahirkan sistem pengajaran, dan sistem pengajaran itulah yang akan menjadi pedoman guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar di dalam kelas.
Kurikulum sebagai dokumen tidak berarti bila tidak diimplementasikan. Implementasi kurikulum terjadi pada proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran guru memegang peranan penting dalam mengimplementasikan kurikulum. Dengan kata lain, guru adalah salah satu kunci utama keberhasilan penerapan kurikulum. Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah. Adapun peranan guru dalam pengembangan kurikulum antara lain: implementers, adopters, developers, dan researchers.
Pengembangan kurikulum merupakan proses yang sangat penting karena harus dikaji secara mendalam dan komprehensif agar tidak terjadi kesalahan. Kesalahan pada pengembangan kurikulum akan berakibat pada praktik kurikulum di lapangan. Untuk itu, pengembang kurikulum perlu mengetahui prinsip prinsip dan landasan pengembana kurikulum agar dapat menyusun kurikulum yang efisien dan efektif serta menjawab tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang dinamis.
Sampai saat ini, kurikulum di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan. Hal tersebut tentu saja akibat dari sifat masyarakat yang dinamis. Karena hal itu juga, kurikulum bahasa mengalami pengembangan dari waktu ke waktu. Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus adalah upaya penyesuaian kurikulum dengan perkembangan IPTEK dan tuntutan kebutuhan masyarakat.

Oleh: Elriani, Heni Yusnidar Sinaga, Rabithah Sari Siregar (PB NONREG ’12)

DAFTAR PUSTAKA

Brown, James Dean. 1995. The Elements of Language Curriculum. Boston USA: An International Thomson Publishing Company.

Hamalik, Oemar.2005. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Nation, I.S.P and Macalister, J. 2010. Languace Curiculum Design. New York: Routlegde.

Richards, Jack C.2005. Curriculum Develelopment in Language Teaching. New York: Cambridge University Press.

Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s