PERILAKU ANARKIS DALAM CERPEN JAKARTA, SUATU KETIKA KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA

A. PENDAHULUAN
1. Latar belakang

Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium yang menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Selain itu, peristiwa-peristiwa dalam batin seseorang sering menjadi bahan sastra karena hal itu merupakan pantulan hubungan seseorang dengan orang lain dan masyarakat. Masyarakat, budaya, politik, kemiskinan, kekuasaan dan jabatan merupakan cerminan kehidupan yang ada di dunia ini.

Cerita yang terdapat dalam cerpen Jakarta, Suatu Ketika karya Seno Gumira Ajidarma merupakan gambaran perilaku masyarakat yang terjadi pada masa peralihan orde baru ke masa reformasi yang terjadi pada tahun 1998. Karena kondisi negara yang carut marut masyarakat melakukan aksi-aksi anarkis untuk menentang pemerintah pada masa itu. Cerpen ini perlu dikupas lebih dalam lagi untuk mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan anarkisme dan perilaku-perilaku yang berkaitan dengannya. Hal ini dimaksudkan agar memberi pencerahan kepada masyarakat tentang anarkisme dan perilaku-perilaku anarkis.

Cerpen ini ditelaah melalui pendekatan sosiologi sastra karena pada dasarnya cerpen ini bercerita tentang keadaan masyarakat pada saat itu. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa sosiologi adalah telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat; telaah tentang lembaga dan proses sosial (Damono: 1979: 7). Sementara sastra merupakan suatu karya yang dibuat melalui realita pada masyarakat yang ada. Sosiologi dan sastra bukanlah dua bidang yang sama sekali berbeda garapan, melainkan dapat dikatakan saling melengkapi. Senada dengan pernyataan Levin (Elizabeth dan burns, 1973:31) dalam Endaswara (2008: 79) “Literature is not only the effect of social causes but also the cause of social effect”. Hal ini memberikan arah bahwa sosiologi sastra mempunyai pengaruh hubungan yang timbale balik antara sosiologi dan sastra.

Hal penting dalam sosiologi sastra adalah konsep cermin yang dalam kaitan ini sastra dianggap sebagai mimesis (tiruan) masyarakat. Sastra bukan sekedar copy kenyataan, melainkan kenyataan yang telah ditafsirkan. Kenyataan tersebut bukanlah jiplakan yang kasar, melainkan sebuah refleksi halus dan estetis. Itulah sebabnya Hall menatakan bahwa “The concept of literature a social referent is, however, perfectly visible since it takes into account the writer’s active concern to understand hid society” (Endaswara: 2008: 78).

Karya sastra yang akan dibahas dalam makalah dalam cerpen ini menggunakan konsep cermin seperti yang ada pada sosiologi sastra. Istilah cermin sendiri merujuk pada berbagai perubahan dalam masyarakat. Menurut Lowenthal (Laurenson dan Swingewood, 1972: 16-17) dalam Endaswara (2008:88) sastra sebagai cermin nilai dan perasaan, akan merujuk pada tingkatan perubahan yang terjadi dalam masyarakat yang berbeda dan juga cara individu menyosialisasikan diri melalui structure sosial.

Konsep cermin telah dikembangkan oleh Abrams dalam bukunya The Mirror and The Lamp bahwa karya sastra adalah cermin kehidupan. Senada dengan ini, Ian Watt (1964: 300-313) dalam artikelnya yang berjudul Literature and Society mengemukakan tiga pendekatan, yaitu: (a) pendekatan cermin, yang mencoba meniliti karya sastra dapat mencerminkan keadaan masyarakat pada waktu karya ditulis, (b) pendekatan konteks sosial pengarang dan (c) pendekatan fungsional sastra (Endaswara: 2008: 89).
Untuk memahami karya sastra ini akan dilakukan melalui konsep pendekatan cermin agar dapat diketahui lebih dalam lagi apa saja perilaku yang terjadi, khususnya menyoroti perilaku anarkis yang terjadi dalam cerpen ini.

2. Landasan Teori
Seperti yang sudah dikemukakan di atas bahwa sastra merupakan cerminan masyarakat yang disampaikan dengan penuh nilai estetika. Karya sastra cenderung memantulkan keadaan masyarakat, mau tidak mau akan menjadi saksi zaman. Dalam kaitan ini, pengarang ingin berupaya untuk mendokumentasikan zaman dan sekaligus alat komunikasi antara pengarang dan pembacanya. Hal ini juga diakui olehBert van Heste bahwa karya sastra merupakan alat komunikasi kelompok dan juga individu (Endaswara: 2008: 89).

Hal itulah yang dilakukan oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya Jakarta, Suatu Ketika. Seno mencerminkan keadaan negeri ini yang sedang kacau balau dan penuh dengan aksi-aksi anarkis yang terjadi di setiap sudut kota. Dalam cerpen ini akan kita lihat perilaku anarkis seperti apasaja yang dilakukan oleh massa pada saat itu.

Sebelum mengetahui makna perilaku anarkis kita perlu mengetahui makna dari perilaku dan juga makna anarkisme. Perilaku merupakan aktifitas yang di lakukan manusia dengan motif dan tujuan tertentu. Dalam sosiologi, perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak ditujukan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang sangat mendasar (Wikipedia.org). Perilaku yang dilakukan oleh manusia bisa dipengaruhi faktor dari dalam serta faktor dari luar diri manusia. Baik buruknya perilaku ditentukan oleh baik atau buruknya faktor yang mempegaruhinya. Baik buruknya perilaku juga di pengaruhi kondisi fikiran seseorang ketika dia sedang menampilkan prilaku tersebut. Jadi prilaku manusia akan muncul sebagai hasil atau realisasi dari apa yang ada dalam fikiran manusia dengan motif dan tujuan tertentu.
Sedangkan kata ‘anarki’ berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti tidak adanya pimpinan, tidak adanya pemerintahan. Anarkisme juga berarti kacau balau, huru hara dan kekacauan. Etimologi kata ini menandai hal yang khas dari anarkisme: penolakan terhadap akan otoritas tersentral atau negara tunggal (Sheehan: 2003: 23). Menurut Peter Kropotkin, anarki berarti “melawan penguasa” dan “Anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. ia dimulai diantara manusia, dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan manusia (Kropotkin dalam http:/ /anarkisme/Berux_xXx Anarkisme.htm).

Secara politik, anarkisme bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (politik, ekonomi, maupun sosial). Para anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Para anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Seperti yang dikatakan Bakunin :

“Bahwa kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidak adilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan”

Perilaku anarkis adalah wujud paham yang memandang bahwa pemerintahan dan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menindas masyarakat sehingga harus dihancurkan (Wikipedia.org). Dalam sejarahnya, para anarkis dalam berbagai gerakannya kerap kali menggunakan kekerasan sebagai metode yang cukup ampuh dalam memperjuangkan ide-idenya, seperti para anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz, grup N17 di Yunani.

Perusakan atas aset negara, melukai individu lainnya merupakan perbuatan yang dibenarkan oleh pelaku anarkis sebagai cara metode propaganda by the deed yaitu untuk menggerakkan massa untuk memberontak (Bakunin dalam http:/ /anarkisme/Strategi Pelembagaan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Mencegah Sikap Anarkis Pada Budaya Demokrasi _ Offisial Website Kongres Pancasila.htm). Penggunaan kekerasan dalam anarkisme sebagai aksi langsung (perbuatan yang nyata) sebagai jalan yang ditempuh, yang berarti juga melegalkan pengrusakan, kekerasan, maupun penyerangan (https://sites.google.com/site/nimusinstitut/cinta-dalam-anarkisme-kontemporer).

Adapun beberapa jenis anarkis adalah sebagai berikut:
• Anarkisme- kolektif : diasosiasikan sebagai anti otoritarian (penghapusan bentuk negara)
• Anarkisme komunis : menekankan pada persamaan, penghapusan kelas, distribusi kesejahteraan, serta produksi kolektif.
• Anarko sindikalisme : menekankan pada kebebasan individual
• Anarkisme Instruksioner : menentang segala bentuk organisasi formal

Sikap anarkis ini muncul dikarenakan beberapa faktor, yaitu faktor internal maupun faktor eksternal dari individu suatu masyarakat. Secara internal dikarenakan ketidakmampuan seseorang dalam mengelola emosinya pada saat mengalami masalah ataupun ketidakberdayaan, sehingga tidak dapat memisahkan emosi dan logika pada saat berfikir, menganggap pendapat paling benar, karakteristik masyarakat yang mudah terprovokrasi. Faktor eksternal dikarenakan tidak adanya respon dari stakeholder/ pemerintah ketika demonstrasi terjadi, terdapat provokator yang memiliki kepentingan tersembunyi, tatacara demonstrasi yang tidak kondusif memicu emosi, solidaritas menyimpang, serta pengaruh media (http://anarkisme/Strategi Pelembagaan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Mencegah Sikap Anarkis Pada Budaya Demokrasi _ Offisial Website Kongres Pancasila.htm).

Anarkis dalam bentuk apapun merupakan ancaman sosial yang apabila meluas menjadi ancaman nasional terhadap pertahanan keamanan negara sehingga diperlukan cegah awal, tangkal awal, dan tanggap awal. Selain itu, dampak dari perilaku anarkis tentu akan menjadi traumatik bagi penderitanya. Perilaku anarkis juga menimbulkan kerugian materil yang sangat besar. Besar harapan untuk menghapuskan atau setidaknya mengurasi perilaku-perilaku anarkis yang dilakukan sekelompok orang untuk kepentingan pribadi.

B. PEMBAHASAN
Dalam cerpen Jakarta, Suatu Ketika karya Seno Gumiro Ajidarma diceritakan tentang gambaran keadaan kota Jakarta melalui bidikan kamera seorang jurnalis. pada shoot yang diambilnya banyak tergambar perilaku-perilaku anarkis. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, perilaku anarkis dapat berupa penjarahan, tindak kerusuhan dan huru-hara, pembakaran dan pengerusakan fasilitas umum. Berikut ini merupakan analisis perilaku-perilaku anarkis yang terdapat dalam cerpen.
(a) Orang-orang berteriak dan berlari dengan wajah ketakutan. Mobil-mobil berbalik ke selatan dengan panik… “Kembali! Mereka membakar mobil! mereka membakar apa saja”.
(b) …. Belum sempat saling memaki, massa tiba. Para pengemudinya disuruh keluar. Ketiga mobil itu di bakar.
(c) Aku berlari keluar. Kulihat orang-orang mulai membakar toko-toko di sepanjang jalan. Para pemilik toko tidak bisa berbuat apa-apa…
(d) Aku berlari dengan sisa tenaga. Sepanjang jalan semua toko dibakar tanpa sisa. …
(e) …, dibantingnya boneka itu, di injak-injaknya, lantas ia menyulut korek api, mengangkat boneka itu dari lantai dan membakarnya di depan wajah Sari.
(f) …Sayup-sayup kudengar juga jeritan orang-orang yang terbakar.
Dalam cuplikan teks di atas perilaku anarkis yang dilakukan yaitu membuat kerusuhan dengan cara membakar mobil, toko, gedung-gedung dan membakar apa saja yang bisa mereka bakar. Pelaku aksi anarkis ini adalah sekelompok massa yang tak dikenal yang sedang dalam keadaan emosi yang tak terkontrol.
(g) TELE SHOOT. Seorang pemuda mulutnya menganga dan mengepalkan tinjunya. ….
(h) TELE SHOOT. Para pelajar SMA menyandera sebuah bis kota. Sopirnya disuruh turun, lantas seseorang menggantikannya. …. Mereka naik keatap dan meneriakkan yel-yel….
(i) Orang-orang berlari di jalanan. “Bakar! Bakar! Bakar!”
Diberbagai pojok terlihat kerumunan dan orang-orang meneriakkan yel-yel
Dalam cuplikan di atas terlihat seseorang yang mungkin adalah seorang orator yang mendukung aksi anarkis yang terjadi. Jadi, dalam suatu aksi anarkis pastinya ada orang-orang yang dikhususkan untuk menjadi provokatornya. Sementara para pelajar SMA merupakan pengikut yang telah terprovokasi. Perilaku anarkis yang mereka lakukan adalah menimbulkan kekacauan dan huru-hara dengan meneriakkan yel-yel untuk memprovokasi.
(j) CLOSE UP. Dinding-dinding kaca pecah.
(k) LONG SHOOT. Gedung terbakar. Mengapa ia menuang bensin, menyalakan korek api dan membakar gedung itu?
Cuplikan diatas memperlihatkan akibat dari perilaku anarkis yaitu gedung-gedung yang kacanya pecah dan rusak serta aksi anarkis seseorang dengan tanpa berdosanya membakar gedung itu dengan tujuan yang tidak tahu pasti untuk apa.
(l) … Pembakaran dirayakan seperti sebuah pesta tahunan. Asap hitam mengepul dimana-mana membuat langit menjadi gelap…. Api menghanguskan setiap benda hasil kerja manusia selama ini. Aku berada di tengah para penjarah. Mereka memasuki gedung-gedung yang terbakar. Mereka masuk menembus api dan keluar lagi dengan barang-barang jarahan….
(m) Tolong saya terjebak api! tolong!
Orang-orang mendengar tapi seperti tidak mendengarnya. Mereka mengangkat pesawat TV, menyeret kulkas, ….. Seorang anak kecil menyeret kasur spring bed. Aku memotret.
(n) …Orang-orang berlari keluar mengangkut barang jarahan. Dari lantai atas orang-orang melempar kardus ke bawah. Di bawah orang-orang menangkap dengan sigap,…
(o) …Semua orang tidak ingin ketinggalan melakukan penjarahan.
Cuplikan teks di atas menggambarkan perilaku anarkis orang-orang yang melakukan penjarahan di toko-toko. Mereka bahkan tidak memperhatikan keselamatan sendiri apalagi memperhatikan orang lain yang butuh pertolongan. Semua toko dijarah tanpa ampun oleh para penjarah. Sementara pemilik toko hanya pasrah menyaksikan tokonya dijarah massa. Akibat dari perilaku anarkis ini adalah kerugian materil pada para pemilik toko.
(p) Disana-sini terdengar jeritan campur aduk dengan raung kemarahan dan teriak kegembiraan. Antara yang membakar dan merusak campur aduk dengan yang menjarah dengan kebahagian habis-habisan.
Cuplikan teks di atas menggambarkan keseluruhan perilaku anarkis yang terjadi pada cerpen Jakarta, Suatu Ketika.Yakni, kerusuhan dan huru hara dengan melakukan aksi pembakaran, penjarahan dan pengerusakan.
Perilaku anarkis yang tergambar pada cerpen ini dilakukan untuk melawan pemerintahan pada masa itu. Hal ini dapat dilihat dari tahun dimana karya ini lahir dan juga melihat sejarah bangsa yang pada saat itu terjadi demonstrasi besar-besaran hampir di seluruh kota besar di Indonesia. Faktor terjadinya perilaku anarkis ini disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal perilaku ini terjadi karena mereka tidak dapat mengontrol emosi diri mereka sendiri, hal ini terlihat pada cuplikan teks (e), (g) dan (k). Sedangkan faktor eksternal terjadi karena adanya provokator, tampak pada cuplikan teks (h), (i) dan (n). Sedangkan dampak dari dari perilaku anarkis ini dapat dilihat pada cuplikan teks (a), (j) dan (p), ada yang menjadi trauma, menderita kerugian materil karena toko yang dibakar dan dijarah. Sementara dari keseluruhan cerita tampk bahwa perilaku anarkisme yang terjadi adalah untuk melawan pemerintah yang otoriter sehingga dinamakan anarkisme kolektif.

C. KESIMPULAN

Perilaku anarkis yaitu perilaku yang menimbulkan kekacauan dan huru-hara. Perilaku ini sangat identik dengan tindak kekerasa. Perilaku anarkis yang dapat dilihat dari cerpen Jakarta, Suatu Ketika karya Seno Gumira Ajidarma adalah perilaku penjarahan toko-toko, pengerusakan fasilitas pemerintah dan umum, dan melumpuhkan segala kegiatan dengan melakukan kerusuhan dimana-mana. Lebih kurang ada 16 cuplikan yang menggambarkan perilaku anarkis yang terjadi pada cerpen ini. Sedangkan jenis anarkisme yang paling menonjol secara tersirat terdapat pada cerpen ini adalah anarkisme kolektif, yaitu sikap yang anti terhadap otoritarian pemerintah. Sebagaimana diketahui bahwa pada saat itu pemerintah sangat keras dan otoriter terhadap aturannya yang sangat baku.

Bahasa, Belajar dan Pengajaran Bahasa

A. BAHASA
1.1. Hakikat Bahasa
Aitchinson (2003: 13) mendefinisikan bahasa sebagai sistem bunyi khusus yang terprogram secara genetik untuk berkembang pada diri manusia. Hal ini sesuai dengan teori Universal Grammar Chomsky yang menyatakan bahwa manusia telah terprogram dengan pengetahuan dasar tentang bahasa dan bagaimana cara kerjanya. Manusia terlahir dengan perangkat bahasa yang dikenal dengan Language Acquisition Device (LAD) yang memungkinkan manusia menguasai dan memproduksi bahasa.
Menurut Kridalaksana dalam Chaer (2007: 32), ”Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Tak jauh berbeda dengan definisi bahasa menurut Dardjowidjojo (2008: 16) yaitu, “Bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama”.
Djojosuroto dalam bukunya Filsafat Bahasa (2007: 61 & 62) merincikan bahasa sebagai berikut:
1. Kumpulan kata kata, arti kata kata yang standar, dan bentuk bentuk ucapan yang digunakan sebagai metode komunikasi.
2. Cara apa saja yang menyatakan isi isi kesadaran (rasa perasaan, emosi, keinginan, pikiran) dan pola arti yang konsisten.
3. Kegiatan universal insani untuk membentuk sistem tanda tanda sesuai dengan aturan aturan asosiasi yang diterima umum.
4. Bentuk bentuk ucapan manusia yang dikondisikan secara historis dan sosial. Hal ini berkaitan dengan bahasa bahasa tertentu.
5. Sistem simbol simbol yang dapat digunakan untuk menyatakan atau menerangkan hal hal seperti (1) objek material eksternal; (2) hal mental internal; (3) kualitas.
Sedangkan Brown (2007: 6) membuat definisi gabungan tentang bahasa yang tak lebih dari 25 kata, yaitu:
1. Bahasa itu sistematis.
2. Bahasa adalah seperangkat simbol manasuka.
3. Simbol simbol itu utamanya adalah vokal, tetapi bisa juga visual.
4. Simbol mengonvensionalkan makna yang dirujuk
5. Bahasa dipakai untuk berkomunikasi
6. Bahasa beroperasi dalam sebuah komunitas atau budaya wicara.
7. Bahasa pada dasarnya untuk manusia, walaupun bisa jadi tak hanya terbatas untuk manusia.
8. Bahasa dikuasai oleh semua orang dalam cara yang sama.
Dari berbagai definisi bahasa yang dijabarkan di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah suatu sistem bunyi berupa simbol manasuka yang terprogram pada diri manusia yang digunakan untuk berinteraksi dengan suatu masyarakat pengguna bahasa.

1.2. Ciri Ciri Bahasa
Dari beberapa definisi bahasa di atas, dapat dijabarkan ciri ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa. Ciri ciri ini jugalah yang membedakan bahasa manusia dengan komunikasi pada binatang. Dengan kata lain, walaupun binatang juga menghasilkan bunyi untuk berkomunikasi dengan kawanannya, bunyi tersebut bukanlah bahasa. Berikut uraian lebih rinci tentang ciri ciri bahasa dari berbagai sumber.
1) Bahasa sebagai Sistem
Bahasa terdiri dari pola yang berarti. Bahasa manusia bukan sekumpulan kata yang diucapkan atau dituliskan secara sembarang melainkan dengan susunan dan aturan tertentu yang membentuk suatu kesatuan yang bermakna. Dengan kata lain, pengoperasian bahasa adalah structure dependant, artinya tergantung pada struktur internal kalimat daripada jumlah elemen yang tercakup di dalamnya. (Aichinson: 2003:20). Jadi, sebanyak apa pun morfem yang ada dalam kalimat, kalimat dapat diterima selama diucapkan atau dituliskan sesuai dengan struktur yang benar.
Contoh: a. Adik sedang menggambar di ruang belajar.
b. Belajar sedang menggambar di ruang belajar adik.
Sebagai penutur bahasa Indonesia, kita akan mengetahui bahwa kalimat (b) bukanlah kalimat yang baik dan benar karena tidak tersusun sesuai dengan kaidah kalimat bahasa Indonesia seperti kalimat (a). Kalimat (b) juga tidak dapat menyampaikan arti sejelas kalimat (a).

By treating language as system, we are merely acknowledging that each unit of language, from a single sound to a complex word to a large text, spoken or written, has a character of its own, and each is, in some principled way, delimited by and dependent upon its co occurring units. (Kumaravadivelu : 2006: 4)

Kumaravadivelu menjelaskan bahwa dengan memperlakukan bahasa sebagai sistem, kita dapat mengenali bahwa tiap unit bahasa, dari bunyi tunggal sampai kumpulan kata yang kompleks yang membentuk teks, baik lisan atau pun tulisan, memiliki karakter tersendiri dan masing masing terbatasi dan bergantung pada unit unitnya.
2) Bahasa sebagai Simbol
Dalam kehidupannya, manusia memang selalu menggunakan lambang atau simbol. Oleh karena itulah, Earns Cassier, seorang sarjana dan filosof mengatakan manusia adalah makhluk bersimbol (animal symbolicum). (Chaer: 2007: 39). Bahasa sendiri adalah sistem lambang dalam wujud bunyi bahasa.
3) Bahasa adalah Bunyi
Bunyi yang dimaksud disini adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa yang pertama kali muncul adalah yang dilisankan (primer), sedangkan bahasa tulis merupakan rekaman atau transkrip dari bahasa lisan (sekunder).
4) Bahasa itu Arbitrer
Arbitrer atau manasuka artinya tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut (Chaer: 2007: 45). Tidak ada penjelasan mengapa binatang berbelalai disebut “gajah” dan tempat tinggal ternak disebut “kandang”. Namun, lambang bahasa tersebut telah disepakati oleh pengguna bahasa Indonesia. Dengan kata lain bahasa itu konvensional.
5) Bahasa itu Bermakna
Bahasa merupakan lambang. Suatu lambang tentu saja memiliki objek yang dilambangkannya. Seperti disebutkan di atas bahwa “gajah” adalah lambang bahasa untuk hewan berbelalai dan “kandang” adalah lambang untuk tempat tinggal ternak. Lambang lambang ini mengacu pada objek fisiknya yang ada di dunia nyata. ”Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa, ………………. sebab fungsi bahasa adalah menyampaikan pesan, konsep, ide, atau pemikiran”. (Chaer: 2007: 45)
6) Bahasa itu Produktif
Manusia dapat menghasilkan ungkapan baru kapanpun mereka mau. Seseorang dapat mengucapkan kalimat yang belum pernah diucapkan oleh orang lain sebelumnya dan ucapan tersebut tetap dapat dimengerti. (Aitchinson: 2003: 17). Dengan keproduktifan berbahasa, manusia dapat mengatakan kembali atau menyampaikan apa yang didengar dan dibacanya dengan kalimat lain yang baru tetapi tidak mengubah arti (kreatif). Bahasa juga dapat digunakan untuk alasan estetik seperti penciptaan karya sastra.

1.3. Komponen Bahasa
Komponen bahasa ada 3, yaitu:
1) Tata Bahasa (Grammar)
Tata bahasa adalah kaidah kaidah bahasa yang berupa struktur dan aturan aturan yang berlaku pada suatu bahasa. Agar dapat menghasilkan bahasa yang baik dan benar maka seorang pengguna bahasa perlu mempelajari tata bahasa terlebih dahulu. Tata bahasa juga perlu diikuti agar ungkapan yang diproduksi dapat diterima dengan baik atau tidak terjadi salah pengertian.
Contoh: (a) I have sent the assignment. (Saya telah mengirim tugas.)
(b) I have been sent the asssinment. (Saya telah dikirim tugas)
Penutur asli bahasa Inggris akan dengan mudah mengerti kalimat (a) karena struktur kalimat sesuai dengan kaidah bahasa Inggris dan menghasilkan kalimat yang lebih bermakna (masuk akal) dibandingkan dengan kalimat (b).
2) Kosa Kata (Vocabulary)
Kosa kata adalah kumpulan kata dari suatu bahasa. Kosa kata dapat digunakan dalam berkomunikasi antara masyarakat bahasa. Semakin banyak kosa kata yang diketahui, semakin banyak pula ucapan atau kalimat yang dapat diproduksi.
3) Pelafalan (Pronunciation)
Pelafalan adalah cara pengucapan kata kata dalam suatu bahasa. Dalam pelafalan juga termasuk intonasi, jeda, nada, dan penekanan (stressing). Pelafalan juga penting untuk menghindari salah tafsir.
Contoh: Kata ”rebel” dalam bahasa Inggris memiliki dua pelafalan. / / dengan penekanan pada awal suku kata yang berarti pemberontak dan / / dengan penekanan pada suku kata kedua yang berarti memberontak.
Apabila penutur bahasa melafalkan kata tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkannya, atau terjadi kesalahan dalam pelafalan, maka akan terjadi salah pengertian. Pelafalan sangat penting dikuasai oleh penutur atau pembelajar bahasa bernada seperti bahasa mandarin.

B. BELAJAR
2.1. Hakikat Belajar
Belajar merupakan unsur yang sangat mendasar dalam pelaksanaan pendidikan. Berhasil atau gagalnya suatu tujuan pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami siswa. Belajar merupakan perubahan perilaku, pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil dari pengalaman (Santrock: 2001: 266). Proses perubahan yang relatif permanen pada pengetahuan atau tingkah laku yang disebabkan oleh suatu pengalaman juga disebut belajar (Woolfolk: 2007: 206).
Menurut Witherington dalam Purwanto (2007: 83) belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian. Hilgard and Bower mengemukakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang.
Gagne menyatakan bahwa belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan sisi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi. Sementara Reber dalam Syah (2010: 89) membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar merupakan proses memperoleh pengetahuan. Kedua, belajar sebagai suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil praktik yang diperkuat.
Ringkasnya, belajar adalah menguasai atau memperoleh. Belajar juga mengingat informasi atau keterampilan. Belajar melibatkan perhatian aktif-sadar pada dan bertindak menurut peristiwa-peristiwa di luar serta di dalam organism. Belajar melibatkan berbagai bentuk latihan, mungkin latihan yang ditopang oleh imbalan dan hukuman. Belajar adalah sebuah perubahan dalam perilaku (Brown: 2007: 8).
Dari berbagai definisi diatas dapat dikemukakan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku individu yang terjadi melalui latihan atau pengalaman dan interaksi dengan lingkungan.

2.2. Teori-teori Belajar
Terdapat beberapa teori besar yang berhubungan erat dengan belajar, yaitu: Teori Behavioral, Teori Kognitif dan Teori konstruktivisme.
a. Teori Behavioral
Menurut pandangan behavioral, belajar merupakan fenomena perilaku yang dapat diobservasi. Belajar sebagai pembentukan atau perubahan tingkah laku disebabkan oleh faktor eksternal. Hal ini menyebabkan seseorang itu menjadi apa dan siapa tergantung pada lingkungannya.
Pendekatan behavioral menekankan arti penting dari bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku. Ada dua teori perubahan tingkah laku dalam pendekatan behavioristik :
– Classical Conditioning
Pengkondisian klasik yang dicetuskan oleh Pavlov adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan stimuli. Dalam pengkondisian netral dikaitkan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respon yang sama.
Dalam pengkondisian klasik terdapat dua tipe respon, yaitu: Unconditioned stimulus (US) ialah sebuah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respons tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu, unconditioned response (UR) ialah respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US, conditioned stimulus (CS) adalah stimulkus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan conditioned response setelah diasosiasikan dengan US, dan conditioned response (CR) adalah respons yang dipelajari, yakni response terhadap stimulus yang terkondisikan yang muncul setelah terjadi pasangan US-CS.
Sebagai contoh, percobaan ini dilakukan pada seekor anjing untuk mengetahui respons melalui air liurnya. Berikut ini gambaran eksperimen pengkondisian klasik (Syah: 2010: 105).
Sebelum eksperimen
Pemberian makanan (UCS) Air liur keluar (CR)
Bunyi bel (CS) Tidak ada respons
Eksperimen/Latihan
Bunyi bel (CS) pemberian makanan (UCS)
Setelah eksperimen
Bunyi bel (CS) Air liur keluar (CR)

– operant conditioning/instrumental conditioning

Pengkondisian operan dinamakan juga pengkondisian instrumental adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. Tokoh yang berperan penting dalam pengkondisian operan adalah B.F Skinner yang berpandangan berdasarkan pandangan E.L. Thorndike.
Dalam pengkondisian operan dikenal hukum efek (law effect) Thorndike yang menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah. Penguatan (reinforcement) merupakan konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Misalnya, memberikan rewarding kepada murid agar lebih bersemangat dan memberikan hukuman kepada siswa yang melanggar peraturan agar tidak mengulanginya lagi. Namun pemberian hukuman bagi siswa lebih baik dihindari.

b. Teori kognitif
Pendekatan kognitif lebih menekankan arti penting proses internal, mental manusia. Dalam pandangan ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental seperti: motivasi, keyakinan dan sebagainya.
Teori belajar yang berasal dari pandangan kognitif menelaah bagaimana orang berpikir, mempelajari konsep dan menyelesaikan masalah. Pandangan kognitif melihat pembelajaran sebagai proses aktif dimana peserta didik tidak hanya menerima pengetahuan tetapi juga menggunakan pengetahuan sebelumnya untuk memecahkan masalah dan mereorganisasi apa yang mereka sudah tahu untuk mencapai wawasan baru.
Menurut pendekatan kognitif, elemen terpenting dalam proses belajar adalah pengetahuan yang dibawa individu kedalam situasi belajar. Dengan kata lain apa yang telah kita diketahui akan sangat menentukan apa yang akan menjadi perhatian dan fokus kita. Pengetahuan bukan hanya hasil dari proses belajar sebelumnya, tapi juga sebagai jembatan kepada proses belajar berikutnya.
Dapat disimpulkan bahwa teori belajar kognitif menekankan pentingnya kognisi dalam belajar, baik sebagai proses maupun hasil.

c. Teori Konstruktivisme
Menurut pandangan konstruktivisme sosial, siswa mengkonstruksi pengetahuan dan belajar melalui interaksi sosial. Pendekatan konstruktivis sosial menekankan pada konteks sosial dari pembelajaran dan bahwa pengetahuan itu dibangun dan dikonstruksi secara bersama.
Menurut de Kock dkk dalam Woolfolk (2007: 344), konstruktivisme memandang belajar lebih dari sekedar menerima dan memproses informasi yang disampaikan oleh guru atau teks. Sedangkan, pembelajaran adalah konstruksi pengetahuan yang bersifat aktif dan personal.
Konstruktivisme terbagi dua, yaitu: konstruktivisme psikologi dan konstruktivisme sosial. Konstruktivis psikologi memfokuskan pada bagaimana individu-individu menggunakan informasi, sumber daya dan bantuan dari orang lain untuk membangun dan meningkatkan model mental dan strategi problem solvingnya, sedangkan kontruktivis sosial melihat belajar sebagai meningkatkan kemampuan kita untuk berpartisipasi bersama orang lain dalam kegiatan-kegiatan yang bermakna dalam budaya (Windschitl dalam Woolfolk: 2007: 345).
Konstruktivisme sosial menurut Piaget, siswa mengkosntruksi pengetahuan dengan cara mentransformasi, mengorganisasi dan mereorganisasi pengetahuan dengan informasi sebelumnya. Sementara menurut Vygotsky siswa mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial. Dalam model Piaget dan Vygotsky sendiri, guru berfungsi sebagai fasilitator dan membimbing ketimbang sebagai pengatur dan pembentuk pembelajaran anak.
Berikut ini merupakan prinsip-prinsip pembelajaran konstruktivisme:
1. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun sosial.
2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
3. Murid aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap dan sesuai dengan konsep ilmiah.
4. Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses kontruksi siswa berjalan mulus.
2.3. Gaya belajar
Gaya belajar dapat dideskripsikan dalam berbagai cara. Pada umumnya, gaya belajar adalah mengenai cara unik seseorang dalam belajar. Gaya belajar mendeskripsikan bagaimana siswa belajar bukan seberapa baik atau seberapa banyak siswa belajar.
Menurut DePorter dan Hernacki dalam Slavin (2006: 115), gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Terdapat tiga jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses informasi (perceptual modality), yaitu:
1. Pelajar Visual
Pelajar visual belajar dari menonton, melihat, mengimajinasikan, dan sering sekali berpikir tentang gambar. Mereka lebih mengingat wajah daripada nama dan biasanya menuliskan sesuatu untuk mengingatnya.
2. Pelajar Auditorial
Pelajar auditorial belajar dengan mendengar atau menyimak. Mereka mengingat nama tapi mungkin tidak mengingat wajah. Mereka mengingat dengan mengulang ulang sesuatu. Mereka suka diskusi kelas dan mengalami kesulitan dalam menulis.
3. Pelajar Kinestetik
Pelajar kinestetik belajar dengan memanipulasi dan melakukan. Mereka berorientasi pada tindakan dan suka aktivitas fisik dan suka bergerak. Mereka lebih mudah mengingat apabila melakukan langsung ketimbang mendengar dan melihat. Mereka bukan pendengar yang baik dan menggunakan bahasa tubuh ketika berbicara.
Menurut Wood (2010: 10), ada lima jenis gaya belajar. Setiap orang setidaknya memiliki satu gaya belajar yang dominan. Sebagian orang mengkombinasikan beberapa gaya belajar, dan sebagian memilih gaya belajar sesuai aktifitas yang dilakukan.
1. Eye. Jika kamu suka menonton film, menggambar, atau mewarnai, atau menggunakan penglihatan dalam banyak kesempatan, kemungkinan kamu adalah pelajar visual. Pebelajar visual atau visual learner pada umumnya menggunakan mata untuk belajar.
2. Ear. Apabila kamu lebih suka mendengar radio daripada membaca koran, lebih suka mendengar musik atau kuliah, atau bergantung pada pendengaran kamu adalah pebelajar auditori. Pelajar auditori atau auditory learner pada umumnya menggunakan telinga mereka untuk belajar.
3. Order. Jika kamu suka mengerjakan teka teki, mengisi formulir, menyelesaikan masalah matematika, dan melakukan sesuatu secara sistematis, kamu mungkin pelajar sekuensial.
4. Picture. Apabila kamu sering melukiskan apa yang kamu lihat dan dengar, dan kamu suka belajar melalui gambar, kamu adalah pelajar global.
5. Doing. Apabila kamu terus bergerak, baik melakukan gerakan seperti olah raga ataupun menari, bermain alat musik, belajar dengan bergerak, kamu adalah pelajar kinestetik.
Brown membedakan gaya belajar siswa menjadi tiga, yaitu:
1. Pelajar visual, cenderung lebih suka membaca, mempelajari bagan atau grafik, dan menggambar.
2. Pelajar auditori, lebih suka mendengarkan rekaman ataupun ceramah.
3. Pelajar kinestetik, cenderung lebih suka melakukan demonstrasi dan aktivitas fisik yang meliputi gerakan anggota tubuh.

Selanjutnya Hannel (2007: 16) membedakan gaya belajar melalui pendekatan intelejensi (multiple intelegences), yaitu:
1. Intelejensi Verbal Linguistik. Siswa dengan intelejensi kinestetik suka mendengar, berbicara, membaca, dan berbicara.
2. Intelejensi Interpersonal. Siswa dengan intelejensi ini suka berhubungan dengan siswa lain dan suka bekerja dalam kelompok.
3. Intelejensi Kinestetik. Aktivitas dan gerakan tubuh sangat penting bagi siswa ini.
4. Intelejensi Naturalis. Siswa dengan intelejensi naturalis suka berhubungan dengan alam.
5. Intelejensi Musikal. Musik dan ritme punya arti bagi siswa ini.
6. Intelejensi Intrapersonal. Siswa ini suka belajar dan berpikir secara individual dan memiliki tingkat kesadaran diri yang tinggi.
7. Intelejensi Spasial. Siswa ini suka belajar dengan gambar, bagan, grafik, konstruksi dan pola.
8. Intelejensi Logikal Matematikal. Siswa ini suka bekerja dengan matematika, sistem, dan keteraturan (logical order).
9. Intelenji Estetik. Warna, bentuk, tekstur, aroma berperan penting dalam pembelajaran siswa ini.Dari kelima definisi belajar di atas, secara garis besar ada tiga kesamaan gaya belajar dan pelajarnya, yaitu: Gaya belajar visual, gaya belajar, auditorial, dan gaya belajar kinestetik.

2.4. Pembelajaran Bahasa
Pembelajaran adalah penguasaan atau pemerolehan pengetahuan tentang suatu hal atau keterampilan dengan belajar, pengalaman atau instruksi. Menurut Slavin dalam Brown pembelajaran adalah sebuah perubahan dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalaman. David Ausubel (Brown: 2007: 97) berpendapat bahwa pembelajaran terjadi dalam diri manusia melalui proses bermakna yang berkaitan dengan peristiwa atau hal baru dengan konsep kognitif atau dalil-dalil yang sudah ada.
Jenis pembelajaran sangat bervariasi menurut konteks dan materi yang harus dipelajari, akan tetapi sebuah kegiatan kompleks seperti pembelajaran bahasa dapat melibatkan semua jenis pembelajaran. Pembelajaran versi Gagne dilakukan mulai dari pembelajaran isyarat hingga pemecahan masalah dapat diadaptasi untuk pembelajaran bahasa.
Jenis pembelajaran menurut Gagne dalam pembelajaran bahasa adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran isyarat. Dalam hal ini individu belajar membuat respons umum terhadap sebuah isyarat. Isyarat pada umumnya berlangsung pada proses bahasa total: manusia memberi semacam respons umum (emosional, kognitif verbal ataunonverbal) terhadap bahasa.
2. Pembelajaran stimulus-respon. Pembelajar memperoleh respons terhadap stimulus khusus. Pembelajaran stimulus-respon respon terlihat jelas dalam penguasaan sistem bunyi sebuah bahasa asing; melalui pengkondisian dan proses trial and error, pembelajar semakin mendekati pengucapan mirip penutur aslinya.
3. Perangkaian (Chaining). Merupakan syarat pembelajaran seperti yang dipaparkan Skinner yaitu pembelajaran berupa dua rangkaian atau lebih koneksi stimulus-respons. Perangkaian terlihat jelas dalam pemerolehan rentetan fonologis dan pola-pola sintaksis, penggabungan beberapa respons dan rangkaian-rangkaian verbal tidak mesti linier.
4. Asosiasi verbal. Merupakan pembelajaran rangkaian-rangkaian bersifat verbal. Pada dasarnya kondisi-kondisinya menyerupai apa yang berlaku bagi rangkaian-rangkaian (motor) lain. Keberadaan bahasa dalam diri manusia menjadikan tipe rangkaian ini istimewa karena kaitan-kaitan internalnya bisa diseleksi dari tingkatan pemerolehan bahasa seseorang. Jenis pembelajaran ini membedakan antara rangkaian verbal dan nonverbal, dengan demikian bukan jenis pembelajaran bahasa yang sepenuhnya terpisah.
5. Diskriminasi ganda. Individu belajar membuat sejumlah respons berbeda terhadap stimulus yang berlainan, yang sedikit banyak bisa mirip satu sama lain secara fisik. Dalam pembelajaran bahasa kedua hal ini sangat penting dimana, misalnya sebuah kata harus menyandang beberapa makna, atau sebuah kaidah dalam bahasa asli ditata ulang agar sesuai dengan konteks bahasa kedua.
6. Pembelajaran konsep. Pembelajar memperoleh kemahiran membuat respons umum terhadap suatu kelompok stimulus sekalipun anggota-anggota kelompok itu bisa sangat berbeda satu sama lain. Pembelajaran konsep meliputi gagasan bahwa bahasa dan kognisi saling berkait tak terpisahkan, juga bahwa kaidah-kaidah itu sendiri seperti kaidah sintaksis merupakan konsep linguistik yang harus diperoleh.
7. Pembelajaran prinsip. Secara sederhana dikatakan bahwa prinsip adalah rangkaian –rangkaian konsep. Pembelajaran ini dapat dikatakan mengorganisasi perilaku dan pengalaman. Pembelajaran prisip sendiri merupakan perluasan dari pembelajaran konsep yang menjangkau pembentukan sebuah sistem linguistik, dimana kaidah-kaidah tidak diisolasi dalam memori hafalan, tetapi dikaitkan dan disatukan dalam sebuah sistem total.
8. Pemecahan masalah. Pembelajaran ini sering disebut dengan proses berpikir. Pada tahap ini tampak jelas dalam pembelajaran bahasa kedua ketika pembelajar terus menerus menghadapi berbagai hal yang memang merupakan masalah sulit yang mesti diselesaikan. Pemecahan masalah melibatkan interaksi kreatif dari delapan jenis pembelajaran saat pembelajar memilih dan menimbang informasi terdahulu untuk menentukan dengan tepat makna sebuah kata dalam bahasa kedua.

C. PENGAJARAN
3.1.Hakikat Pengajaran
Pengajaran dapat diartikan sebagai suatu proses mengajar. Mengajar adalah penyampaian ilmu kepada orang yang belajar. Tardif dalam Syah mendefinisikan mengajar (2010: 179) sebagai perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini guru) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (siswa) melakukan kegiatan belajar. Masih dari halaman yang sama, Tyson dan Carol mendefinisikan bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama sama aktif melakukan kegiatan.
Dalam arti yang lebih ideal, mengajar bahkan mengandung konotasi membimbing dan membantu untuk memudahkan siswa dalam menjalani proses perubahannya sendiri, yakni proses belajar untuk meraih kecakapan cipta, rasa, dan karsa yang menyeluruh dan utuh (Syah: 2010: 178).

Dari beberapa definisi mengajar di atas, secara singkat dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah sebuah proses yang dilakukan seseorang (guru) yang memungkinkan terjadinya pembelajaran pada siswa. Jadi, guru dituntut untuk dapat memfasilitasi siswa secara efektif agar terjadi pembelajaran dimana siswa berperan aktif dalam mengembangkan dirinya untuk mencapai berbagai kecakapan.
Guru yang efektif adalah guru yang dapat menggunakan waktu secara efisien dan mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu guru perlu memiliki pengetahuan tentang pengelolaan pembelajaran yang termasuk kedalamnya pengetahuan tentang peserta didik, penguasaan metode pengajaran, dan pengelolaan kelas yang baik. Pembelajaran akan terjadi apabila siswa merespon stimulus yang diberikan oleh guru. Untuk itu, guru harus mampu memberikan stimulus yang memunculkan motivasi siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Guru perlu mengenali siswanya secara personal untuk mengetahui gaya belajar atau kecenderungan siswa dalam belajar sehingga nantinya dapat memberikan scaffolding dan memilih metode yang tepat dalam membimbing siswa untuk menggali pengetahuan yang ada dalam dirinya. Menciptakan iklim kelas yang menyenangkan dimana terjalin hubungan baik antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa juga akan mendukung terciptanya pemebelajaran yang efektif.
3.2.Pengajaran Bahasa
Pengajaran bahasa seperti pengajaran lainnya memiliki metodologi yang terdiri dari 4 komponen, yaitu: Pendekatan (Approach), Metode (Method), serta Teknik dan Prosedur (Technique and Procedure).
1. Pendekatan
Menurut Anthony dalam Brown (2003: 14), Pendekatan adalah sekumpulan asumsi yang berhubungan dengan hakikat bahasa, belajar, dan mengajar. Atau dapat dikatakan bahwa pendekatan adalah sekumpulan teori tentang hakikat bahasa, belajar, dan mengajar. Berbagai teori tentang hakikat bahasa, belajar, dan mengajar telah dijelaskan pada poin poin sebelumnya. Pendekatan pendekatan ini digunakan dalam seting pengajaran bahasa.
2. Metode
Masih menurut Anthony, metode adalah rencana keseluruhan untuk pengajaran bahasa yang berdasarkan pada pendekatan tertentu. Metode yang dipilih guru dalam proses Belajar Mengajar didasarkan pada pendekatan yang dipilih guru terkait dengan bahasa, belajar, dan mengajar. Tarigan (2009: 13) menjelaskan, ”Agar suatu pendekatan dapat menuju kepada metode, kita perlu mengembangkan design (rancang bangun) bagi sistem instruksional. Rancang bangun merupakan tingkatan analisis metode.
Menurut tarigan, dalam penyusunan metode, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, yaitu:
a. apa tujuan metode;
b. cara memilih dan menyusun bobot bahasa di dalam metode, yaitu model silabus yang tergabung dalam metode;
c. peranan para pembelajar;
d. peranan para pengajar;
e. peranan bahan pengajaran atau materi instruksional.
Sebelum mengajar, perlu ditentukan apa tujuan umum dan tujuan khusus pembelajaran agar guru dapat menilai apakah pada akhir pembelajaran tujuan yang telah direncanakan sebelumnya tercapai atau tidak. Untuk mencapai tujuan tadi, guru mempertimbangkan metode apa yang paling cocok diimplementasikan sesuai dengan karakteristik siswa dan materi yang akan diajarkan. Di dalam metode terperinci apa yang dilakukan guru, apa yang dilakukan siswa, dan apa materi yang akan dibawakan dalam proses belajar mengajar.
Contoh: Guru memilih pendekatan atau teori yang mengatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Dari pendekatan ini, guru memilih satu metode yang memungkinkan siswa melakukan komunikasi antara satu sama lain (Student Student Interaction). Oleh karena itu, guru memilih metode pembelajaran kooperatif yang dapat mendukung interaksi antara siswa. Dari metode kooperatif yang ada, guru memilih metode Think Pair Share yang menurut guru sesuai dengan berbagai gaya belajar siswa (visual, auditori, dan kinestetik).
3. Teknik dan Prosedur
Teknik adalah aktifitas spesifik yang termanifestasi di dalam kelas yang konsisten terhadap metode yang artinya juga selaras dengan pendekatan. (Anthony dalam Brown: 2003: 14). Aktivitas aktivitas ini memiliki langkah langkah yang tersusun secara kronologis yang disebut prosedur.
Contoh: Metode Think Pair Share yang tadi dipilih guru merupakan aktivitas yang akan dimanifestasikan di alam kegiatan belajar mengajar. Prosedur untuk menjalankan metode ini adalah :
Think : Guru mengajukan pertanyaan atau topic yang terkait dengan pelajaran dan meminta siswa-siswanya untuk memikirkan sendiri jawaban untuk pertanyaan selama 1-3 menit.
Pair : Guru meminta siswa untuk berpasang-pasangan dan mendiskusikan segala hal yang telah mereka pikirkan. Interaksi selama periode ini dapat berupa saling berbagi jawaban atau berbagi ide. Guru memberikan waktu 4-5 menit untul berpasangan.
Share : Pada langkah ini guru meminta pasangan-pasangan siswa berbagi hasil diskusi mereka dengan seluruh kelas. Lebih efektif bagi guru untuk berjalan mengelilingi ruangan, dari satu pasangan ke pasangan lainsampai separuh pasangan berkesempatan melaporkan hasil diskusi mereka. (Suprijono: 2011:91)

3.3.Tujuan Pengajaran Bahasa
Adapun bahasa berfungsi sebagai sarana berpikir ilmiah, menyampaikan pendapat, mengutarakan perasaan, dan berinteraksi dengan masyarakat bahasa. Dalam menggunakan bahasa, ada 4 kompetensi yang harus dikuasai oleh pengguna atau pembelajar bahasa yang oleh Dell Hymes, seorang pakar sosiolinguistik, disebut Kompetensi Komunikatif (Communicative Competence). Oleh karena itu, pengajaran bahasa ditujukan agar siswa mampu mencapai Kompetensi Komunikatif. Empat komponen atau subkategori yang berbeda membangun konsep Kompetensi Komunikatif; dua subkategori pertama mencerminkan penggunaan sistem linguistik itu sendiri; dua yang terakhir menndefinisikan aspek aspek fungsional komunikasi. (Brown: 2007: 241)
1. Kompetensi Gramatikal
“Kompetensi gramatikal adalah pengetahuan tentang komponen leksikal dan kaidah morfologi, sintaksis, semantik tata bahasa kalimat, dan fonologi.” (Canale and Swain dalam Kumaravadivelu: 17). Apabila menguasai kompetensi grammatical, siswa akan mampu menggunakan bahasa sesuai dengan kaidah dan struktur kalimat yang benar dan diterima oleh masyarakat pengguna bahasa.
Contoh: A: “Would you like something to drink?”
B: “I’d like a cup of coffee.”
2. Kompetensi Wacana
Kemampuan untuk menggunakan aspek aspek bahasa sebagai suatu wacana dimana serangkaian kaliamat atau ujaran saling berhubungan dan membentuk suatu kesatuan yang bermakna, baik lisan maupun tulisan. “Jika kompetensi gramatikal berfokus pada tata bahasa taraf kalimat, kompetensi wacana berurusan dengan hubungan antar kalimat”. (Brown: 2007: 242). Siswa yang memiliki kompetensi wacana mampu merangkai kata menjadi kalimat dan kalimat menjadi paragraf yang menyampaikan suatu pesan, informasi, atau cerita yang memiliki arti.
3. Kompetensi Sosiolinguistik
Kompetensi Sosiolinguistik mengacu pada kemampuan penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah kaidah sosial budaya. Jadi, penggunaan bahasa disesuaikan dengan konteks dimana, kapan, dan kepada siapa kita sedang berbicara. Sesuai dengan penjelasan Canale and Swain dalam Kumaravadivelu (2006: 17) yang mengatakan bahwa:
”Kompetensi Sosiolinguistik adalah pengetahuan tentang sejauh mana ujaran diproduksi dan dipahami secara layak dalam konteks sosiolinguistik yang berbeda tergantung pada faktor faktor kontekstual seperti status, maksud dari interaksi, dan norma norma dalam berinteraksi”.

Contoh: A: What’s up man??
B: Nothing much!!
Penggalan percakapan di atas hanya digunakan oleh teman sebaya. Apabila kita ingin berbicara keda orang yang lebih tua, maka digunakan bahasa yang lebih sopan yaitu, ”How are you?”. demikian juga apabila kita ingin orang lain melakukan sesuatu, menggunakan kalimat bermakna implisit akan lebih sopan daripada memerintah secara langsung.
Contoh: A: Wah, sudah kosong gelasnya.
B: Sebentar sya ambilkan air lagi.
Dengan menggunakan pragmatik seperti kalimat A di atas, kita dapat menyampaikan maksud secara tidak langsung seperti yang dilakukan A. Tanpa harus memerintah B untuk mengambilkan air, B dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh A.
Dari kedua contoh di atas, dapat dilihat bahwa penggunaan dan pemilihan komponen bahasa berbeda beda dan disesuaikan pada konteks dimana, kapan, dan kepada siapa kita sedang berbicara. Dengan demikian, akan ada perbedaan cara berbicara antara siswa dengan sesama siswa dan siswa dengan guru, antara atasan dan bawahan, dan orang tua dan anak. Siswa diharapkan dapat mengembangkan Kompetensi Sosiolinguistik agar dapat menggunakan bahasa yang sesuai dalam berbagai konteks sosial.
4. Kompetensi Strategi
Canale dan Swain dalam Kumaravadivelu (2006: 17) menjelaskan bahwa Kompetensi Strategis adalah strategi komunikasi verbal dan nonverbal yang bisa dipakai untuk mengimbangi kemacetan dalam komunikasi karena variabel variabel performa atau kompetensi yang tidak memadai. Sebagai tambahan, Brown (2007: 243) menuliskan, “Bahkan, kompetensi strategis adalah cara kita memanipulasi bahasa untuk memenuhi tujuan tujuan komunikatif tertentu”. Jadi, kompetensi strategi merupakan strategi yang digunakan pengguna bahasa agar pembicaraaan dapat berjalan lancar.
Contoh: A: It is raining cats and dogs, I forget to bring …… what do you call something to protect us while raining?
B: Umbrella.
A: Yes, umbrella.

Daftar Pustaka.

Understanding language teaching from method to post method. B. Kumaravadivelu. LEA: New Jersey. 2006
(Kinayati Djojosuroto, Filsafat Bahasa, 2007, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher)

(Psikolinguistik, pengantar pemahaman bahasa manusia. Edisi kedua, suenjono dardjowidjojo, Yayasan Obor Indonesi, Jakarta, 2008)

Brown. Prinsip Prinsip

Linguistics. Jean Aitchinson. 2003. McGraw Hill

Feminisme dalam Sastra

A. Pendahuluan
Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan baik dilihat dari sisi biologis maupun psikologis dan kultural. Sehubungan dengan hal itu, terdapat dua istilah untuk menjelaskan perbedaan tersebut, yaitu: male dan female yang mengacu pada seks, dan masculine dan feminine yang mengacu pada gender.
Male dan female merupakan sesuatu yang kodrati, yang secara biologis membedakan laki-laki dan perempuan secara fisik dimana laki-laki lebih kuat dari perempuan, perempuan mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, tetapi tidak laki-laki. Sedangkan feminine dan masculine ditentukan secara kultural dimana secara psikologis manusia bukannya terlahir ’sebagai’ laki-laki atau perempuan tetapi ’menjadi’ laki-laki dan perempuan. Sejak awal sekali, masyarakat telah membedakan asumsi dan anggapan terhadap dua gender tersebut. Dalam sebagian besar masyarakat di seluruh dunia, laki-laki sering kali dianggap sebagai kaum superior dan perempuan sebagai kaum inferior. ”Anak laki-laki, lebih lebih dalam sistem kekeluargaan partiarkhat selalu menjadi satu satunya harapan dalam melanjutkan keturunan.” (Ratna: 2004: 183). Laki-laki dianggap figur otoritas sedangkan perempuan dikenal sebagai makhluk lembut, setia, dan penuh pengabdian.
Perbedaan secara kultural juga ditunjukkan oleh bahasa dimana terdapat kedudukan tertentu yang sepertinya hanya hak laki-laki, contohnya kata tuan tanah, tetapi tidak ada nyonya tanah, chairman dan tiak ada chairwoman. Begitu pula sapaan ’tuan’ dapat digunakan ketika menyapa laki-laki baik yang sudah menikah atau pun lajang. Berbeda dengan panggilan ’nona’ atau ’nyonya’ kepada perempuan yang berbeda sebagai akibat ketergantungannya dengan laki-laki.
Perbedaan biologis yang kodrati seringkali dijadikan alasan untuk memandang perempuan sebagai warga kelas dua (second sex). Dengan sendirinya perempuan dianggap sebagai makhluk lemah yang selalu tunduk pada kekuasaan laki-laki. Padahal menurut Dagun (dalam Ratna: 2004: 187) belum ada penelitian yang menunjukkan adanya korelasi antara kondisi biologis dengan perbedaan perilaku. Sebaliknya, dapat dipastikan bahwa perilaku dipengaruhi bahkan ditentukan oleh ciri ciri kebudayaan tertentu.
Apabila dilihat dari sisi kesusastraan, karya sastra kerap kali menunjukkan hegemoni laki-laki terhadap perempuan dan bahwa perempuan adalah objek erotik laki-laki. ”Dalam sastra Jawa kuna, terutama dalam wiracarita dan kakawin tampak jelas bahwa pencitraan perempuan cenderung sebagai sosok pujaan. Perempuan adalah figur yang patut diperebutkan oleh laki-laki, terutama karena kecantikan dan kebolehannya. Poin pentingnya: perempuan harus setia kepada laki-laki (Endraswara: 2011: 144).
Gejala kultural yang seringkali membedakan kedua gender atas dasar kepentingan kelompok tertentu, dalam hal ini kelompok laki-laki, dan karya sastra yang sering menjadikan wanita sebagai objek dan semata makhluk lemah yang berada di bawah dominasi laki-laki, memunculkan teori feminis yang mencoba memberikan jalan tengah agar keduanya memiliki kedudukan seimbang sesuai dengan kondisinya dalam masyarakat.
Jadi, teori feminis merupakan alat bagi kaum wanita untuk memperjuangkan hak haknya demi memperoleh kesetaraan kedudukan dengan pria dalam bidang politik, sosial, dan ekonomi. Apabila dikaitkan dengan penelitian sastra, maka feminisme sastra adalah kajian sastra dengan pendekatan teori feminis. Dalam melakukan penelitian dengan pendekatan ini, sudut pandang yang seharusnya digunakan peneliti adalah reading as women atau membaca sebagai wanita, agar tumbuh kesadaran bahwa perbedaan jenis kelamin akan mempengaruhi pemaknaan cipta sastra. Berikut akan dibahas tentang teori teori feminis dan fokus kajian feminisme dalam sebuah karya sastra.

B. ISI
1. Sejarah Lahirnya Teori Feminisme Sastra
Feminisme lahir pada awal abad ke 20 yang dipelopori oleh Virginia Woolf dalam bukunya yang berjudul A Room for One’s Own (1929). Paham ini mengalami perkembangan yang pesat pada tahun 1960an yaitu sebagai salah satu aspek teori kebudayaan kontemporer dengan model analisis yang mencakup bidang sosial, politik, dan ekonomi. Menurut A Teeuw gerakan feminisme di dunia Barat dipicu oleh beberapa faktor (Ratna: 2004: 183, 184), yaitu:
1. Berkembangnya teknik kontrasepsi, yang memungkinkan perempuan melepaskan diri dari kekuasaan laki-laki.
2. Radikalisasi politik, khususnya sebagai akibat perang Vietnam.
3. Lahirnya gerakan pembebasan dan ikatan ikatan tradisional, misalnya ikatan gereja, ikatan kulit hitam Amerika, ikatan mahasiswa, dan sebagainya.
4. Sekularisasi, menurunnya wibawa agama dalam segala bidang kehidupan.
5. Perkembangan pendidikan yang secara khusus dinikmati oleh perempuan.
6. Reaksi terhadap pendekatan sastra yang mengasingkan karya dari struktur sosial, seperti Kritik Baru dan strukturalisme.
7. Ketidakpuasan terhadap teori dan praktik ideologi Marxis orthodoks.
Gerakan gerakan pembebasan seperti disebutkan di atas memunculkan gerakan feminisme yang ingin memperjuangkan hak hak kaum wanita, mendekonstruksi sistem dominasi dan hegemoni, dan melakukan pertentangan antara kelompok yang lemah dengan kelompok yang dianggap lebih kuat. Teori teori feminis erat kaitannya dengan konflik kelas dan ras, khususnya konflik gender. Feminisme pada umumnya dikaitkan dengan emansipasi, gerakan kaum perempuan untuk menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Pada akhir abad ke 20, khususnya di Barat, feminisme merupakan salah satu gejala yang sangat penting.
Di Indonesia, emansipasi mulai diperhatikan sejak repelita III, ditandai dengan pengangkatan Menteri Negara Urusan Peranan Wanita. Secara akademis ditandai dengan dibukanya Program Studi Kajian Wanita di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. Dalam sastra, sudah diperhatikan sejak tahun 1920an, ditandai dengan hadirnya novel novel Balai Pustaka, dengan mengemukakan masalah masalah kawin paksa, yang kemudian dilanjutkan pada periode 1930an yang diawali dengan Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisjahbana dengan tidak melupakan jasa jasa kepeloporan R.A. Kartini. Secara historis, keberadaan dan perjuangan kaum perempuan di Indonesia ditandai dengan dilangsungkannya Kongres Perempuan Indonesia I tahun 1928 di Yogyakarta, Kongres Perempuan Indonesia II tahun 1935 di Jakarta, dan Kongres Perempuan Indonesia III di tahun 1938 di Bandung, yang sekaligus menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu. (Ratna: 2004: 191, 192). Adapun masuknya teori feminis ke Indonesia dibawa oleh Ateeaw, yaitu seorang pakar sastra dan budaya Indonesia yang berasal dari Belanda.
Sesuai dengan latar belakang kelahirannya, sebagai gerakan politik, sosial, dan ekonomis, analisis feminis dengan demikian termasuk penelitian multi disiplin, melibatkan berbagai ilmu pengetahuan. Dalam kaitannya dengan sastra, bidang studi yang relevan diantaranya: tradisi literer perempuan, ciri ciri khas bahasa perempuan, tokoh tokoh perempuan, novel populer dan perempuan, dan sebagainya. Dalam kaitannya dengan kajian budaya, permasalahan perempuan lebih banyak berkaitan dengan kesetaraan gender (emansipasi) dan dekonstruksi sistem penilaian karya sastra yang biasanya hanya dilihat dari sudut pandang laki-laki.
2. Tokoh-tokoh Feminis
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa feminisme muncul karena adanya tuntutan persamaan hak antara pria dan wanita. Feminisme tidak begitu lahir begitu saja, ada beberapa tokoh-tokoh yang melatarbelakangi munculnya teori feminisme. Maka, berikut ini akan dibicarakan beberapa tokoh penting feminis, seperti: Luce Irigaray, Julia Kristeva, Helene Cixous dan Dona Haraway.
1. Luce Irigaray
Luce Irigaray yang lahir di Belgia 3 Mei 1930 merupakan salah satu tokoh feminis yang terkenal dengan mengemukakan argumentasinya dengan menolak pendapat Freud dan Lacan yang menganggap bahwa perempuan adalah makhluk yang real, makhluk simbolik dan makhluk imajiner bagi kaum pria. Irigaray sendiri memusatkan perhatiannya pada sizofrenia, yang dianggap sebagai bahasa pribadi atau dialek yang difokuskan pada tatanan simbolik.
Dalam rangka menolak argumentasi Freud dan menolak dominasi laki-laki, Irigaray juga memusatkan perhatiannya pada peranan bahasa, khususnya bahasa perempuan. Menurutnya karena laki-laki punya rumah bahasa, maka perempuan juga harus membangun rumah bahasanya sendiri, rumah yang membebaskannya dari penjara laki-laki, rumah yang akan dimanfaatkan sebagai tempat untuk mengadakan perbaikan nasib secara total. Sehingga pada nantinya perempuan tidak berbicara seperti perempuan melainkan berbicara sebagai perempuan (Sarup dalam Ratna, 2004: 198).
Irigaray juga mengemukakan bahwa untuk menyamai phallus laki-laki, maka perempuan harus berbicara melalui bahasa. Dan untuk membentuk citra dirinya sendiri, perempuan harus mampu tampil bagi diri mereka sendiri, dengan sendirinya dengan cara yang berbeda dari apa yang dilakukan oleh kaum laki-laki.

2. Julia Kristeva
Perempuan kelahiran Bulgaria pada 24 Juni 1941 ini memunculkan feminisme melalui tampilan teks sebagai material produksi yang merupakan dekonstruksi hegemoni budaya barat. Salah satu konsepnya yang paling terkenal yaitu semanalysis, metode yang memusatkan perhatian bukan semata-mata pada fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi, melainkan juga pada material bahasa, seperti: suara, irama dan ciri-ciri grafis. Kristeva sendiri adalah seorang ahli bahasa seperti Irigaray yang terjun kedalam dunia kritik feminis. Dan ketertarikannya pada feminis juga berangkat dari teori Freud dan Lacon yang mengganggap perempuan sebagai makhluk lemah.
Kristeva memberikan perhatian pada subjektivitas dan aspek sosial historis dunia penandaan (semiotika). Semiotik ini disebut sebagai feminis. Menurutnya bahasa bukan sistem yang monolitik, melainkan proses penaandaan yang kompleks, heterogen yang ada di dalam dan di antara subjek, dari struktur homogeny kearah bahasa sebagai proses heterogen.

3. Helene Cixous
Helen Cixous (15 Juni 1937) adalah seorang novelis, penulis drama, sekaligus kritikus feminis. Pusat perhatiannya terhadap feminisme ada dua macam, yaitu: hegemoni oposisi biner dalam kebudayaan Barat dan Praktik Penulisan feminine yang dikaitkan dengan tubuh. Oposisi biner yang dimaksudkan misalnya: father/mother, sun/moon, culture/nature, yang sering dikaitkan dengan oposisi laki-laki dan perempuan.
Untuk menolak hegemoni laki-laki, maka menurut Cixous harus dilakukan dengan praktik menulis feminine, praktik menulis dalam kaitannya dengan tubuh dengan salah satu cirinya adalah kedekatannya dengan suara. Perempuan harus menulis tentang dirinya sendiri, menulis mengenai perempuan dan membawa perempuan kedalam tulisan. Karena tulisan dianggap sebagai ruang yang istimewa untuk mengeksplorasi diri.
Lebih jauh Cixous membicarakan hubungan esensial antara tulisan perempuan dan ibu sebagai sumber asal muasal suara yang terdengar di dalam semua teks perempuan. Feminitas dalam tulisan merupakan hak istimewa suara, tulisan dan suara tak bisa dipisahkan, keseluruhan pembicaraan perempuan adalah suara perempuan. Secara fisikal, perempuan mematerialisasikan apa yang dipikirkan,ia memaknakannya dalam tubuhnya. Perempuan, dengan kata lain secara keseluruhan dan secara fisik hadir dalam suaranya, dan tulisannya merupakan perluasan identitas dirinya sebagai tindak kata.

4. Donna Haraway
Donna Haraway memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai feminisme. salah satu aspek yang dikemukakannya adalah kegairahannya dalam mendukung dan memanfaatkan proyek teknologi modern, yaitu cyborg. meskipun berdampak negative, tetapi demi tercapainya redefefinisi gender, sebagai penciptaan ulang terhadap perempuan, maka cyborg dianggap sebagai salah satu cara untuk memperjuangkan kesetaraan gender. Cyborg dianggap mampu untuk menerobos hakikat biologis dan determinisme sejarah manusia yang sepanjang abad telah didominasi oleh dunia laki-laki.
Sastrra feminisme di Indonesia diperkenalkan pertama kali oleh A. Teew yang merupakan seorang pakar sastra dan budaya Indonesia yang berasal dari Belanda.

3. Fokus Kajian Feminisme
Dalam ilmu sastra, feminisme ini berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisis kepada wanita. Kritik sastra feminis bukan berarti pengeritik wanita, atau kritik tentang wanita, atau kritik tentang pengarang wanita. Arti sederhana yang dikandung adalah pengeritik memandang sastra dengan kesadaran khusus; kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya,sastra, dan kehidupan. Membaca sebagai wanita berarti membaca dengan kesadaran membongkar praduga dan ideologi kekuasaan laki-laki yang androsentris atau patrialkal,yang sampai sekarang masih menguasai penulisan dan pembacaan sastra. Perbedaan jenis kelamin pada diri penyair, pembaca, unsur karya dan faktor luar itulah yang memengaruhi situasi sistem komunikasi sastra.
Endraswara (2003: 146) mengungkapkan bahwa dalam menganalisis karya sastra dalam kajian feminisme yang difokuskan adalah: a. kedudukan dan peran tokoh perempuan dalam sastra, b. ketertinggalan kaum perempuan dalam segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan aktivitas kemasyarakatan, c. memperhatikan faktor pembaca sastra, bagaimana tanggapan pembaca terhadap emansipasi wanita dalam sastra. Kolodny dalam Djajanegara (2000: 20-30) menjelaskan beberapa tujuan dari kritik sastra feminis yaitu: a. dengan kritik sastra feminis kita mampu menafsirkan kembali serta menilai kembali seluruh karya sastra yang dihasilkan di abad silam; b. membantu kita memahami, menafsirkan, serta menilai cerita-cerita rekaan penulis perempuan.
Kuiper (Sugihastuti dan Suharto, 2002:68) juga mengungkapkan tujuan penelitian feminis sastra sebagai berikut: 1. Untuk mengkritik karya sastra kanon dan untuk menyoroti hal-hal yang bersifat standar yang didasarkan pada patriakhar; 2.Untuk menampilkan teks-teks yang diremehkan yang dibuat perempuan; 3.Untuk mengokohkan gynocritic, yaitu studi teks-teks yang dipusatkan pada perempuan, dan untuk mengokohkan kanon perempuan; 4.Untuk mengeksplorasi konstruksi kultural dari gender dan identitas.
Adapun sasaran penting dalam analisis feminism sastra sedapat mungkin berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut:
1. Mengungkap karya-karya penulis wanita masa lalu dan masa kini agar jelas citrawanita yang merasa tertekan oleh tradisi. Dominasi budaya partikal harus terungkap secara jelas dalam analisis.
2. Mengungkap tekanan pada tokoh wanita dalam karya sastra yang ditulis oleh pengarang pria.
3. Mengungkapkan ideologi pengarang wanita dan pria, bagaimana mereka memandang diri sendiri dalam kehidupa nyata.
4. Mengkaji dari aspek ginokritik, yakni memahami bagaimana proses kreatif kaum feminis. apakah penulis wanita akan memiliki kekhasan dalam gaya dan ekspresi atau tidak.
5. Mengungkap aspek psikoanalisa feminis, yaitu mengapa wanita, baik tokoh maupun pengarang lebih suka terhadap hal-hal yang halus, emosional, penuh kasih sayang dan sebagainya.
Sementara itu, Selden (Pradopo dalam Endaswara, 2011: 147) menggolongkan fokus pengkajian feminisme sastra ke dalam lima fokus:
1. Biologi, yang sering menempatkan perempuan lebih inferior, lembut, lemah dan rendah.
2. Pengalaman, sering kali wanita dipandang hanya memiliki pengalaman terbatas, masalah menstruasi, melahirkan, menyusui dan seterusnya.
3. Wacana, biasanya wanita lebih rendah penguasaan bahasa, sedangkan laki-laki memiliki “tuntutan kuat”. Akibat dari semua ini, akan menimbulkan stereotip yang negative pada diri wanita, wanita sekedar kanca winking.
4. Proses ketidaksadaran, secara diam-diam penulis feminis telah meruntuhkan otoritas laki-laki. Seksualitas wanita besifat revolusioner, subversif, beragam, dan terbuka. Namun demikian, hal ini masih kurang disadari oleh laki-laki.
5. Pengarang feminis biasanya sering menghadirkan tuntutan sosial dan ekonomi yang berbeda dengan laki-laki.

Dari berbagai fokus tersebut, peneliti sastra yang berhaluan feminis dapat memusat pada beberapa pilihan saja agar lebih mendalam.
4. Teori Analisis Feminisme
Feminisme sebagai gerakan kaum perempuan untuk memperoleh otonomi atau kebebasan menentukan dirinya sendiri. Feminisme memperjuangkan dua hal yang selama ini tidak dimiliki kaum perempuan pada umumnya, yaitu persamaan derajat mereka dengan laki-laki dan umunya, yaitu persamaan derajat mereka dengan laki-laki dan otonomi untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya. ( Yasa, 2012: 37). Analisis dalam kajian feminisme hendaknya mampu mengungkap aspek-aspek ketindasan wanita atas diri pria. Isu feminis selalu dikaitkan dengan isu persamaan hak dan kesetaraan gender. Namun, isu yang diangkat oleh feminis lebih dari itu. Dalam teori kontemporer, perhatian tidak lagi dipusatkan pada kehidupan perempuan, melainkan meluas ke arah analisis gender. Bagaimana pengaruh gender dalam kehidupan social manusia. Jika kita mampu melihat dengan jeli, politik internasional dan hubungan internasional hanya dipegang oleh lelaki kebanyakan. Perempuan tidak banyak terlibat dalam mengambil keputusan dan membentuk pola politik internasional. Berikut ini adalah asumsi dasar yang dikemukakan kaum Feminis:
o Kaum feminis tidak menganggap sifat dasar manusia sebagai sesuatu yang tidak berubah.
o Dari perspektif seorang feminis, kita tidak bisa membuat suatu perbedaan yang jelas antara ‘fakta’ dan suatu ‘nilai’.
o Ada suatu hubungan erat antara pengetahuan dan kekuasaan dan antara ‘teori-teori’ kita tentang dunia dengan kebiasaan kita, bagaimana cara kita melibatkan diri dengan lingkungan fisik dan social di sekitar kita.
o Kaum feminis postmodern itu tersendiri (para postmodernis menolak klaim universalitas), kaum feminis memiliki suatu komitmen yang sama pad aide kemajuan social dan kebebasan atau emansipasi kaum perempuan.
Pada kenyataan yang ada, asosiasi bela Negara atau pertahanan kepentiangan nasional selalu dilekatkan pada peran lelaki. Sedangkan, perempuan hanya diberikan peran domestic seperti menjadi ‘pemberi rasa aman’ seperti ibu yang baik, istri yang setia, guru, perawat, dan pekerja social. Sehingga, muncullah pemahaman yang sangat kuat dan mengakar bahwa politik internasional diidentikkan dengan maskulinitas seperti kekuasaan, kekuatan, otonomi, kebebasan, dan rasionalitas.
Dominasi laki-laki terhadap wanita, telah mempengaruhi kondisi sastra, antara lain: (1) nilai dan konvensi sastra sering didominasi olek kekuasaan laki-laki, sehingga wanita selalu berada pada posisi berjuang terus-menerus ke arah kesataraan gender, (2) penulis laki-laki sering berat sebelah, sehingga menganggap wanita adalah obyek fantastis yang menarik. Wanita selalu dijadikan obyek kesenangan sepintas oleh laki-laki. Karya-karya demikian selalu memihak, bahwa wanita sekadar orang yang berguna untuk melampiaskan nafsu semata, (3) wanita adalah figur yang menjadi bunga-bunga sastra, sehingga terjadi tindak asusila laki-laki, pemerkosaan, dan sejenisnya yang seakan-akan memojokkan wanita pada posisi lemah (tak berdaya).
Dengan kata lain, memang ada perbedaan visi penulis laki-laki dan wanita. Kedua kubu tersebut sering memiliki daya kontra satu sama lain yang tak ada ujung pangkalnya. Bahkan kedua belah pihak sering mengungkapkan adanya sikap saling menyalahkan akibat perbedaan gender. Itulah sebabnya, analisis feminisme seyogyanya mengikuti pandangan Barret (Pradopo, 1991: 142) yakni : (1) peneliti hendaknya mampu membedakan material sastra yang digarap penulis laki-laki dan wanita, (2) ideologi sering mempengaruhi hasil karya penulis. Ideologi dan keyakinan laki-laki dengan wanita tentu saja ada perbedaan yang prinsipil, (3) seberapa jauh kodrat fiksional teks-teks sastra yang dihasilkan pengarang mampu melukiskan keadaan budaya mereka. Perbedaan gender sering mempengaruhi adat dan budaya yang terungkap. Tradisi laki-laki dan perempuan dengan sendirinya memiliki perbedaan yang harus dijelaskan dalam analisis gender.
Secara rinci, menurut Sholwater (1988) ada tiga fase tradisi penulisan sastra oleh wanita, yaitu :
o Para penulis wanita, seperti George Eliot sering meniru dan menghayati standar estetika pria yang dominan, yang mengkehendaki bahwa wanita tetap memiliki posisi terhormat. Latar utama karya mereka adalah lingkungan rumah tangga dan kemasyarakatan.
o Penulis wanita yang telah bersikap radikal. Pada saat ini wanita berhak memilih cara mana yang tepat untuk berekspresi. Begitupula tema-tema garap juga semakin kompleks.
o Hasil tulisan wanita disamping mengikuti pola terdahulu, juga semakin sadar diri. Wanita telah sadar bahwa dirinya bukanlah “bidadari rumah” melainkan harus ada emansipasi.
Sholwater juga menegaskan bahwa dalam analisis feminisme sastra perlu menelusuri lebih jauh tentang : (1) perbedaan hakiki antara bahasa penulis pria dan wanita, perbedaan tersebut akan dipengaruhi oleh konteks budaya yang ditakdirkan berbeda. Apakah wanita lebih banyak menggunakan bahasa estetis yang penuh rasa, penuh daya mistik, berbau kuno, dan seterusnya. Sebaliknya, mungkin laki-laki lebih terbuka dalam menyoroti hal-hal yang negatif, (2) seberapa jauh pengaruh budaya yang melekati pada wanita dan laki-laki dalam sebuah cipta rasa. Apakah laki-laki cenderung ingin mempertahankan budaya yang menghegemoni wanita, dan sebaliknya wanita hanya bersikap pasrah, adalah gambaran yang sangat berarti dalam analisis feminisme. Terdapat beberapa kesalah pahaman dalam memahami Teori Feminism, yaitu:
o Laki-laki tidak bisa menjadi feminis, mereka hanya bisa menjadi simpatisan ataupun pendukung. Gender sama dengan jenis kelamin. Jenis kelamin merujuk pada anatomi biologis antara perempuan dan laki-laki. Sedangkan gender menjelaskan kepentingan atau pengertian social yang dirujukkan pada perbedaan-perbedaan itu.
o Studi gender dalam HI adalah tentang perempuan. Posisi dan status perempuan tidak bisa dipahami tanpa merujuk pad ide-ide umum tentang gender dan bagaimana hubungan gender itu telah diatur dalam masyarakat pada khusunya, maksudnya pola gender telah mengakar di masyarakat dan itulah titik ukur dimana posisi perempuan dalam studi HI.
o Studi tentang gender dan HI hanya penting bagi perempuan. Pada kenyataannya, dalam menganalisis isu gender, kita tetap harus melihat sisi maskulinitas yang terdapat pada kaum laki-laki untuk melihat bagaimana posisi perempuan yang seharusnya.
o Feminism merupakan pandangan atau paradigm dunia seperti yang lain.
o Semua kaum feminis itu lesbian, kecuali para pembenci laki-laki. Feminism adalah lebih mengenai pemahaman dan perlawanan pada aspek-aspek kekuasaan dan kesenjangan tertentu daripada pengecaman yang berpikiran sempit.
Kaum feminis memperjuangkan bagaimana perempuan tidak dijadikan subordinat saja dalam prilaku hubungan internasional dan social masyarakat. Namun lebih kepada bagaimana perempuan dilibatkan dan dijadikan focus utama. Kaum feminis percaya bahwa jika pengambil kebijakan tidak melulu menjadikan perempuan hanya tinggal dalam cakupan domestic saja.
Namun, ada yang miss dari teori ini. Kaum feminis hanya berkonsentrasi pada hubungan gender, lebih tepatnya pada perempuan. Kaum perempuan menggunakan ide-ide tentang gender untuk melegitimasi status tidak setara yang ditujukan untuk perempuan. Kaum feminis juga sangat menguniversalkan perempuan. Maksudnya, kaum feminis melupakan aspek-aspek lain seperti budaya, ras, kelas, dan sebagainya. Padahal kesemua aspek ini sangat berhubungan dengan dinamika social dan internasional. Sementara itu, masih banyak perempuan yang ternyata tidak memiliki ketertarikan-ketertarikan atau ide yang sama dengan apa yang dikoar-koarkan para aktivis feminis ini.
Untuk karya sastra dari aspek feminis, peneliti perlu membaca teks sebagai wanita (Reading a woman) dalam istilah Culler. Membaca sebagai wanita akan lebih demokratis udan tak berpihak pada laki-laki ataupun perempuan. Dari sini, peneliti akan menemukan istilah diegesis dan mimesis dalam teks sastra. Diegesis adalah segala peristiwa yang dilaporkan atau dikisahkan. Sedang mimesis adalah hal-hal yang dipergakan dan dipertunjukkan. Baik diegesis maupun mimesis adalah sekuen-sekuen teks yang dapat dipahami oleh pembaca.
Menurut Yoder ( Sugihastuti, 2002: 139) feminisme diibaratkan sebuah quilt yang dibangun dan dibentuk dari potongan-potongan kain lembut. Paham feminisme ini memang menyangkut soal politik, maksudnya sebuah politik yang langsung mengubah hubungan kekuatan kehidupan antara wanita dan pria dalam sistem komunikasi sastra.
Jadi dalam ilmu sastra, feminisme ini berhubungan dengan konsep kririk sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisisnya pada perempuan. Jika selama ini dianggap dengan sendirinya bahwa yang mewakili pembaca dan pencipta dalam sastra barat adalah laki-laki, maka kririk secara feminis menunjukkan bahwa pembaca perempuan membawa persepsi dan harapan ke dalam pengalaman sastranya.
5. Kritik Sastra Feminisme
Kritik sastra bukan berarti kritik tentang perempuan atau pengkritik perempuan. Kritik sastra feminism adalah pengkritikan terhadap karya sastra, yang mana pengkritik memandang sastra dengan kesadaran khusus bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya sastra dan kehidupan. Jenis kelamin inilah yang membuat perbedaan di antara semuanya yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan pada faktor luar yang mempengaruhi situasi karang-mengarang. Kritik sastra feminisme adalah alasan yang kuat untuk menyatukan pendirian bahwa seorang perempuan dapat membaca sebagai perempuan, mengarang sebagai perempuan, dan menafsirkan karya sastra sebagai perempuan.
Meski perempuan memiliki keseragaman pengalaman, ras, dan budaya. Namun mereka memiliki pandangan yang berbeda mengenai ideologi feminis. Bisa saja sekelompok orang tertentu, memiliki ras yang sama tetapi memiliki perspektif yang berbeda tentang perempuan, maka dari itu, feminis membangkitkan kesadaran terhadap ideologi dan praktek yang rasis dan merugikan kelompok minoritas tertentu. Penelitian feminis tidak dapat dilakukan dalam satu teori saja, karena sebuah penelitian feminis harus melihat perspektif yang berbeda-beda dan mempresentasikan kumpulan metode dan metodologi yang luas. Dalam penelitian feminis, yang menjadi tujuan penelitian bukanlah sekelompok orang tertentu, melainkan secara keseluruhan.
Gilbert dalam Yasa memandang perempuan berdasarkan psikoanalisis Freud bahwa ada suatu revisi atau perbaikan yang harus disadarkan pada perempuan, yakni suatu perubahan lengkap pada semua ide tentang dunia sastra. Pendapat Freud ini mendapat protes keras dari kaum feminis, terutama karena Freud mengungkapkan kekurangan alat kelamin perempuan tanpa rasa malu. Teori psikoanalisa Freud sudah banyak yang didramatisasi terbuka untuk dikritik. Freud tidak sama sekali menyudutkan kaum perempuan. Teorinya lebih banyak didasarkan pada hasil penelitiannya secara ilmiah. Untuk itu teori Freud ini justru dapat dijadikan pijakan dalam mengembangkan gerakan feminisme dalam rangka mencapai keadilan gender. Karena itu, penyempurnaan terhadap teori ini sangat diperlukan agar dapat ditarik kesimpulan yang benar.Kritik ini tidak saja membatasi diri pada karya-karya pengarang perempuan, tetapi meluas untuk semua karya pengarang.
Kritik sastra feminism yang diartikan membaca sebagai perempuan berpandangan bahwa kritik ini tidak mencari model konseptual tunggal, tetapi sebaliknya menjadi faktor dalam teori dan praktiknya, menggunakan kebebasan dalam metodologi dan pendekatan yang dapat membantu perluasan kritiknya. Cara ini berpijak dari sudut pandang yang mampu dan mempertahankannya secara konsisten kesadran pembaca bahwa ada perbedaan jenis kelamin yang mempengaruhi dunia sastra. Hal ini dapat dijelaskan bahwa sastra sebagai produk ilustrasi seluruh kehidupan sosial. Misalnya novel yang dapat dianggap sebagai struktur dan proses budaya. Secara leksikal, feminisme diartikan sebagai gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki.
Ratna dalam Yasa, (2006: 184 juga menyatakan bahwa feminisme dikaitkan dengan cara-cara memahami karya sastra, baik dalam kaitannya dengan proses reproduksi maupun resepsi. Oleh karena itu, feminitas adalah pengertian psikologis kultural, seseorang tidak dilahirkan “sebagai” perempuan melainkan “menjadi” perempuan. Jadi kesimpulannya, yang ditolak oleh kelompok feminis adalah anggapan bahwa perempuan merupakan konstruksi negatif, perempuan sebagai makhluk takluk, perempuan yang terjerat ke dalam dikotomi sentral marginal, superior inferior. Kritik feminism berupaya untuk mengungkap kesalahan-kesalahan berpikir manusia tentang perempuan.

C. PENUTUP
Feminisme lahir karena perempuan sudah lelah untuk dinomorduakan dalam segala hal. Hal ini secara tradisional disebut emansipasi wanita, dimana perempuan menuntut hak yang setara dalam bidang politik, intelektual, kebudayaan bahkan dalam kesusastraan. Sebagai karya sastra, feminisme dimulai sejak Balai Pustaka dilanjutkan pada periode Pujangga Baru seperti dalam karya Sutan Takdir Alisjahbana melalui novel Layar Terkembang.
Feminisme memusatkan perhatiannya pada kaum perempuan dengan cara membangun teori yang dianggap mampu untuk meredam dominasi laki-laki yang yang sangat kuat. Irigaray (bahasa perempuan), Kristeva (semanalysis), Cixous (praktik menulis feminin) dan Haraway (cyborg) dengan minat masing-masing sangat memberikan sumbangan yang berarti dalam menopang perjuangan kaum perempuan.
Analisis dalam kajian feminisme juga hendaknya mampu mengungkap aspek-aspek ketindasan wanita atas diri pria. Isu feminis selalu dikaitkan dengan isu persamaan hak dan kesetaraan gender. Dan melalui feminisme perempuan mampu menunjukkan ke’aku’annya. perempuan bukan lagi sebagai makhluk lemah dan makhluk imaginer yang selama ini ada dalam benak para lelaki. Namun perempuan juga mampu berkarya dan produktif sama dengan laki-laki.

Analisis Puisi Melalui Pendekatan Hermeneutika

I. PENDAHULUAN
Karya sastra merupakan hal yang indah dan tak kan habis dimakan usia.
Setiap karya sastra memiliki ciri dan keunikan masing-masing. kata-kata indah yang terdapat dalam karya sastra berasal dari gaya bahasa yang diramu secara apik.
Pada makalah ini akan membahas bebrapa karya sastra yang dihasilkan oleh para sastrawan terkemuka yakni Radhar Panca Dahana dan Afrizal Malana. Adapun karya yang akan dianalisis adalah Puisi Sajakku, Cinta dan cerpen Benarkah duri bisa melukai oleh Radhar Panca Dahana dan puisi Gadis Kita oleh Afrizal Malna.
Analisis yang digunakan dalam menganalisis karya sastra yaitu pendekatan Hermeneutika yakni mencari makna dibalik kata dari karya sastra. Dalam pendekatan ini dapat dilakukan dengan menganalisis stilistika atau gaya bahasa dan semiotika atau lambing.

II.ISI
Puisi Karya Afrizal Malna

Penulis memilih puisi berjudul ‘Gadis Kita’ untuk dianalisis. Puisi ini merupakan salah satu puisi yang dibukukan dalam kumpulan puisi karya Afrizal Malna yang berjudul ‘Arsitektur Hujan’, Empat Kumpulan Sajak Afrizal Malna (1995).

Puisi Gadis Kita oleh Afrizal Malna

O gadisku ke mana gadisku. Kau telah pergi ke kota lipstik gadisku. Kau pergi ke kota parfum gadisku. Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku. Tubuhmu keramaian pasar gadisku. Jangan buat pantai sepanjang bibirmu merah gadisku. Nanti engkau dibawa laut, nanti engkau dibawa sabun. Jangan tempel tanda-tanda jalan pada lalulintas dadamu gadisku. Nanti polisi marah. Nanti polisi marah. Nanti kucing menggigit kuning pita rambutmu. Jangan mau tubuhmu adalah plastik warna-warni gadisku. Tubuhmu madu, tubuhmu candu. Nanti kita semua tidak punya tuhan, nanti kita semua dibawa hantu gadisku. Kita semua cinta padamu. Kita semua cinta padamu. Jangan terbang terlalu jauh ke pita-pita rambutmu gadisku, ke renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati.

1985

Analisis Puisi Gadis Kita
Penulis menganalisi puisi Gadis Kita dengan pendekatan stilistika dan semiotika dengan analisis berdasarkan empat hakikat puisi, yaitu: tema, perasaan, nada, dan pesan.

1. Tema
Tema yang terdapat dalam puisi diatas adalah pelukisan dunia modern dan kehidupan urban. Dikaji dari segi semiotik, puisi ini didominasi oleh kata-kata yang mencerminkan kehidupan masyarakat urban dan dunia modern sekarang.
kota lipstik
kota parfum
kemilau neon
Kata-kata diatas mengacu pada kehidupan modern yang serba kemilau seperti yang ada sekarang yang terdapat pada tema puisi. Selain itu, stilistika atau gaya bahasa yang terdapat pada puisi menambah kaya akan bahasa yang disampaikan oleh penulis yang tentunya mendukung pada tema tersebut. adapun gaya bahasa yang terdapat dalamm puisi ini adalah:
Repetisi
Gaya bahasa repetisi ini merupakan pengulangan kata sebagai penegasan, Afrizal Malana dalam puisinya ini ingin menegaskan obyek gadis sehingga pengulangan kata gadisku banyak ditemukan di dalamnya.
O gadisku ke mana gadisku. Kau telah pergi ke kota lipstik gadisku. Kau pergi ke kota parfum gadisku. Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku. Tubuhmu keramaian pasar gadisku. Jangan buat pantai sepanjang bibirmu merah gadisku. Nanti engkau dibawa laut, nanti engkau dibawa sabun. Jangan tempel tanda-tanda jalan pada lalulintas dadamu gadisku. Nanti polisi marah. Nanti polisi marah. Nanti kucing menggigit kuning pita rambutmu. Jangan mau tubuhmu adalah plastik warna-warni gadisku. Tubuhmu madu, tubuhmu candu. Nanti kita semua tidak punya tuhan, nanti kita semua dibawa hantu gadisku. Kita semua cinta padamu. Kita semua cinta padamu. Jangan terbang terlalu jauh ke pita-pita rambutmu gadisku, ke renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati.

Selain itu, pengulangan kata nanti polisi marah juga menegaskan bahwasanya aka nada yang marah melihat tingkah laku yang diperbuat si gadis. kemudian ada juga repetisi kita semua cinta padamu yang dapat ditaksir bahwa semua orang sangat menghargai gadis-gadis yang baik dan tidak ingin melihat mereka terjerumus. Repetisi terakhir yaitu nanti ibu kita mati disebutkan sampai tiga kali, ini mengemukakan bahwa jangan sampai ada penyesalan nantinya.
Metafora
Disamping gaya bahasa repetisi, gaya bahasa lain yang banyak terdapat dalam puisi ini yaitu metafora, yaitu majas yang mengungkapkan ungkapan secara langsung berupa perbandingan analogis.
Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku
Tubuhmu keramaian pasar gadisku
Jangan buat pantai sepanjang bibirmu merah gadisku
Jangan tempel tanda-tanda jalan pada lalulintas dadamu gadisku
Jangan mau tubuhmu adalah plastik warna-warni gadisku
Tubuhmu madu, tubuhmu candu
Jangan terbang terlalu jauh ke pita-pita rambutmu gadisku, ke renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu

Kalimat-kalimat diatas menggambarkan bahwa si gadis telah berubah menjadi gadis yang sangat mengikuti modernisasi baik dari segi penampilan seperti gaya berpakaian, membuat tato bahkan operasi plastik, dalam berperilaku dan bergaul juga sudah sangat bebas dan berlebihan sehingga melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan.

Personifikasi
Ada juga gaya bahasa personifikasi, yaitu majas yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia.
Nanti engkau dibawa laut, nanti engkau dibawa sabun
Kalimat ini mengambarkan bahwa perilaku si gadis dapat membawanya ke jalan yang tidak baik, jalan yang hanya akan membawa kenikmatan sesaat namun menghayutkan pada akhirnya.
Dari penafsiran berbagai gaya bahasa dapat dilihat bahwa tema untuk puisi Gadis kita adalah gambaran kehidupan modern dan urban.

2. Perasaan
Perasaan dalam sebuah puisi adalah suatu ekspresi dari perasaan penyair yang dituangkan dalam puisi tersebut. Perasaan pengarang yang tergambar dari puisi di atas adalah gambaran dari kekhawatiran penyair tentang kehidupan urban dan kehidupan modern yang menarik orang-orang terutama para gadis menjadi lebih bebas dan glamor serta tidak mengindahkan lagi mana aturan dan mana larangan yang harusnya tidak dilakukan.
Kekhawatiran ini tampak jelas dalam keseluruhan puisi yang dibuka oleh bait O gadisku ke mana gadisku yang mengisyaratkan bahwa gadis jaman urban sudah sangat berubah tampilannya.

3. Nada dan Suasana
Nada yang menjadi cara dalam menyampaikan inti cerita, dalam puisi ini penyair mencoba membuka kesadaran manusia tentang efek dari kehidupan modernisasi dan kehidupan urban yang mulai merasuk dalam kehidupan sederhana masyarakat sebelumnya. Penyair tidak menggurui, hanya saja mencoba memberikan nasihat atas gambaran mengenai kehidupan masyarakat modern. Hal ini terbukti dari cara penyair dalam memberikan pengertian dengan mempertanyakan kemana gadisnya yang dulu ada.
Suasana yang ditimbulkan oleh puisi tersebut adalah menyadarkan bahwa kehidupan modern tidak selamanya membawa dampak positif, dampak negatif ternyata jauh lebih besar, khususnya bagi para gadis yang masih lugu yang dengan mudahnya tergiur oleh kehidupan yang gemerlap. Oleh karena itu kita harus memperhatikan pergaulan bukan hanya pergaulan para gadis saja seperti yang difokuskan pada puisis ini, tetapi juga pergaulansiapa saja agar tidak terjerumus dan semakin memperparah keadaan ibu pertiwi.
4. Pesan (Amanat)
Gaya bahasa merupakan hal yang dapat membangkitkan rasa bahasa pada setiap karya sastra. Begitu juga dalam karya Afrizal Malna dalam puisi Gadis Kita. terdapat beberapa jenis gaya bahasa yang memeperindah bait-bait puisinya. Dibalik indahnya bait-bait puisi tentunya ada tersirat pesan yang harus dipahami. Puisi ini menggambarkan kehidupan para gadis jaman sekarang yang mulai berkiblat pada gemerlap dunia.
Puisi ini juga memiliki pesan yang harus diresapi oleh para gadis yang ada di Indonesia mengingat banyaknya perubahan yang dilakukan para gadis pada era modern ini, terutama pada sikap dan perilaku. Jika gadis-gadis berkelakuan tidak pantas, maka ibu pertiwi akan menangis bahkan mati. Karena para gadis sangat berpengaruh dalam segala bidang.

BIOGRAFI

Afrizal Malna lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Sejak menamatkan SLA pada tahun 1976, Afrizal Malna tidak melanjutkan sekolah. Pada tahun 1981, ia belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, sebagai mahasiswa khusus hingga pertengahan dikeluarkan pada tahun 1983. Pada usia 27 tahun, Afrizal Malna menikah. Selama kurang lebih sepuluh tahun ia pernah bekerja di perusahaan kontraktor bangunan, ekspedisi muatan kapal laut, dan asuransi jiwa. Sekarang lebih banyak berkiprah di bidang seni, sebagai sutradara pertunjukan seni, kurator seni instalasi, penyair dan penulis. Bukunya antara lain: Abad Yang Berlari (1984), Perdebatan Sastra kontekstual (1986), Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990), Arsitektur Hujan (1995), Biography of Reading (1995), Kalung Dari Teman (1998), Sesuatu Indonesia, Esei-esei dari pembaca yang tak bersih (2000), Seperti Sebuah Novel yang Malas Mengisahkan Manusia, kumpulan prosa (2003), Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2003), Novel Yang Malas Menceritakan Manusia (2004), Lubang dari Separuh Langit (2005). Penghargaan yang pernah diterima:
– Kincir Perunggu untuk naskah monolog dari Radio Nederland Wereldomroep (1981)
– Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika, harian Republika (1994)
– Esei majalah Sastra Horison (1997)
– Dewan Kesenian Jakarta (1984).

Puisi Karya Radhar Paca Dahana
Penulis memilih puisi berjudul ‘Sajakku, Cinta’ untuk dianalisis. Puisi ‘Sajakku, Cinta’ adalah salah satu puisi yang dibukukan dalam antologi puisi karya Radhar Panca Dahana yang berjudul ‘Lalu Waktu’, sajak dalam tiga kumpulan (1985 1994).
Sajakku, Cinta
: rianti
jika sungai ini cairan waktu
cinta hanyut di dalamnya, hanya,
lebih panjang jarak alirnya
lebih luas batas tepinya
lebih deras kuat arusnya
lebih bening corak warnanya
lebih tak mungkin merumuskannya
tapi, tentang itu
telah terlanjut kita bicara,
“hei kekasih, mana kau senang
tenggelam atau berenang?”

1985
Analisis
Penulis menganalisi puisi Sajakku, Cinta dengan pendekatan stilistika dan semiotika dengan analisis berdasarkan empat hakikat puisi, yaitu: tema, perasaan, nada, dan pesan.
1. Sense (tema, arti)
Salah satu cara untuk mengetahui tema puisi adalah dengan melihat judul puisi. Dari judulnya, puisi ’Sajakku, Cinta’ dapat dikatakan bertemakan cinta. Selain dari judulnya, dapat dilihat juga kata kata yang ada dalam puisi.
: rianti
Jika sungai ini cairan waktu
Cinta hanyut di dalamnya, hanya,
Kutipan puisi di atas semakin menunjukkan kepada pembaca bahwa puisi tersebut bertemakan cinta dan tertuju kepada Rianti. Apabila dikaitkan dengan penulisnya, istri Radhar Panca Dahana bernama Evi Aprianti. Jadi, kemungkinan Rianti pada puisi ini adalah istrinya sendiri. Jadi, puisi ini ditujukan penyair kepada kekasihnya.
2. Feling (perasaan)
Untuk menjelaskan perasaan penyair tentang cinta, penulis mengutip sebagian puisi ‘Sajakku, Cinta’ dan menganalisisnya dengan pendekatan stilistika dan semiotika seperti berikut:
jika sungai ini cairan waktu
Pertama tama penulis menggunakan majas metafora yang mengibaratkan waktu dengan sungai.
cinta hanyut di dalamnya, hanya,
penulis juga menggunakan majas personifikasi, karena cinta tidak dapat hanyut.
lebih panjang jarak alirnya
aliran disini diibaratkan sebagai rasa cinta. Rasa cinta terjalin seiring berjalannya waktu dan dapat bertahan dalam waktu yang lama.
lebih luas batas tepinya
cinta itu tak terbatas, tidak ada yang tau dengan tepat kapan cinta datang dan pergi.
lebih deras kuat arusnya
arus diibaratkan halangan dan rintangan serta gejolak yang timbul dalam menjalin hubungan percintaan.
lebih bening corak warnanya
bening disini diartikan suci. Artinya cinta itu suci.
lebih tak mungkin merumuskannya
cinta itu tidak mudah untuk dijelaskan dengan rumus dan alasan tertentu.

Dari analisis di atas, penulis menyimpulkan bahwa perasaan penyair terhadap cinta adalah bahwa cinta merupakan suatu perasaan yang dapat berlangsung dalam waktu yang panjang, tak tahu pasti kapan bermula dan berakhirnya, perlu perjuangan dalam menghadapi rintangan yang ada didalamnya, namun juga adalah suatu yang suci dan terlalu rumit untuk didefinisikan dengan kata kata.
3. Tone (nada)
Penyair seolah seorang teman yang ingin memberi tahu pembaca tentang cinta menurut pendapatnya, seperti yang telah disebutan di atas, dan secara tidak langsung bertanya kepada pembaca apakah dengan kerumitan cinta tadi, pembaca akan menyerah atau malah berusaha mempertahankannya. Hal tersebut merupakan kesimpulan dari dua baris terakhir puisinya,

“hei kekasih, mana kau senang
tenggelam atau berenang?”
penulis beranggapan bahwa tenggelam disini adalah menyerah dan berenang adalah berjuang mempertahankan cinta.
4. Intention (tujuan, pesan)
Tujuan atau pesan yang penulis tangkap dari puisi dia atas adalah bahawasanya cinta adalah sesuatu yang kompleks dan tidak mudah, butuh perjuangan untuk mendapatkan cinta yang sejati. Untuk itu, kita sendiri yang harus memutuskan untuk menyerah atau berjuang mempertahankannya.
BIOGRAFI
Radhar Panca Dahana merupakan sastrawan Indonesia. Pria kelahiran Jakarta, 26 Maret 1965 ini mengawali karirnya dalam bidang sastra sejak kecil. Sedari dulu ia gemar menulis, cerpen pertamanya “Tamu Tak Diundang” dimuat di Kompas saat usianya menginjak 10 tahun. Sebenarnya ia tak hanya mendapatkan julukan sebagai sastrawan, karena kerap kali ia mendapatkan julukan sebagai esais, kritikus sastra, dan jurnalis.
Minatnya dalam bidang menulis terlihat sejak umur 5 tahun, saat dirinya sering tidak pulang ke rumah dan ditemukan di kawasan Bulungan sedang melihat teater. Kepiawaiannya dalam bidang sastra dan tulis menulis kemudian membawanya menjadi seorang cerpenis dan reporter lepas di sebuah majalah remaja, Zaman. Saat itu, ia sangat giat mengirimkan karya-karyanya di berbagai rubrik majalah. Ia juga sering diminta mengisi kolom di rubrik olahraga, kebudayaan, pendidikan, berita kriminalitas, dan hukum.
Radhar merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Semasa kecil, ia sering memberontak dan tak mengikuti aturan yang ada. Baik itu di sekolah maupun di rumah. Didikan orang tuanya yang otoriter dan kerap memukul membuatnya ingin mengekspresikan diri melalui sendiri dan ia memilih menyalurkan bakat di bidang kesenian meski orang tuanya tak setuju dengan pilihannya, karena orang tuanya menginginkan Radhar untuk menekuni bidang seni lukis.
Radhar yang memberontak rupanya saat itu juga mempunyai rasa takut terhadap ayahnya. Saat ia sering mengirimkan karya di berbagai media, ia takut ketahuan ayahnya dan akhirnya memakai nama samaran, Reza Mortafilini, yang mengibarkan namanya melalui dunia jurnalistik. Namun, tak lama berselang, Radhar kembali menggunakan nama aslinya. Hal inilah yang membuat kemarahan sang ayah semakin menjadi dan akhirnya membuatnya tidak pulang ke rumah dengan mulut berdarah dan teriakan “Tidak ada demokrasi di sini.” Saat itu ia duduk di kelas 2 SMP. Saat ia bekerja sebagai wartawan lepas di majalah Hai.
Perjuangan Suami dari Evi Apriani dalam menunjukkan ‘eksistensinya’ dalam dunia tulis menulis dan sastra pada orang tuanya banyak menemui jalan terjal. Sampai akhirnya, namanya banyak dikenal orang dan membuatnya meraih penghargaan Paramadina Award pada tahun 2005. Tak hanya itu, faktor kesehatan yang nyatanya sangat mengganggu kegiatan ayah dari Cahaya Prima Putra Dahana rupanya tak mampu membendung semangat berkaryanya. Radhar yang dinyatakan terkena penyakit komplikasi ini nyatanya masih asik dan menikmati dunia sastra bagai kulit yang melekat pada tulang. Ia tak gentar dan menyerah dengan penyakit yang mengharuskannya untuk cuci darah setiap bulannya. Ia menikmati hidupnya sebagai orang yang merdeka, karena jika ia dilarang melakukan sesuatu, maka ia akan semakin menjadi untuk melakukan sesuatu tersebut.
Saat ini, Radhar aktif sebagai dosen jurusan Sosiologi Universitas Indonesia di samping sebagai sastrawan sekaligus kritikus dan budayawan.
PENDIDIKAN
• Sosiologi Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Perancis, 2001
• Sosiologi FISIP Universitas Indonesia, 1993
KARIR
• Dosen Sosiologi Universitas Indonesia
• Penulis
• Reporter lepas
• Redaktur tamu
PENGHARGAAN
• Frix de le Francophonie, 2007
• Paramadina Award, 2005
• Duta Terbaik Pusaka Bangsa, Duta Lingkungan Hidup sejak tahun 2004
• Terpilih sebagai satu di antara lima seniman muda masa depan Asia versi NHK, 1996
Buku:
• Kabut Manusia, 2009
• Dalam Sebotol Coklat Cair (esai sastra, 2007)
• Metamorfosa Kosong (kumpulan drama, 2007)
• Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia (esai humaniora, 2006)
• Riwayat Negeri yang Haru, 2006
• Cerita-cerita dari Negeri Asap (kumpulan cerpen, 2005)
• Jejak Posmodernisme (2004)
• Jakarta City Tour: Tragedi, Ironi, dan Teror, 2003
• Lalu Waktu (kumpulan sajak, 2003)
• Menjadi Manusia Indonesia (esai humaniora, 2002)
• Ideologi Politik dan Teater Modern Indonesia, 2001
• Masa Depan Kesunyian, 1997
• Pelajaran Mengarang: Cerpen Pilihan Kompas, 1993
• Lalu Batu (antologi puisi)
http://profil.merdeka.com/indonesia/r/radhar-panca-dahana/

III.PENUTUP
Karya sastra sarat dengan makna yang sangat berguna bagi kehidupan. Makna yang ada dibalik karya sastra juga dapat diambil secara tersurat dan tersirat. Namun untuk mengambil pesan dan makna yang ada dalam karya sastra tidak semudah yang diperkirakan karna banyak sastrawan menggunakan bahasa-bahasa figuratif seperti lambing-lambang dalam menciptakan karya sastra.
Oleh karena itu, menganalisis karyasastra melalui pendekatan semiotika dan stilistika memudahkan kita untuk menganalisis makna dibalik kata-kata yang dirangkai oleh penyair.

Hakikat Kurikulum, Silabus, Materi Ajar dan Asal Usul Pengembangan Kurikulum

I. PENDAHULUAN

Kurikulum berperan penting dalam menciptakan pendidikan yang efektif bagi masyarakat. Di dalamnya dijelaskan tentang tujuan, isi, dan segala perencanaan yang menentukan arah dan proses pendidikan. Sebagai suatu rencana, kurikulum perlu penerapan pada dunia nyata. Kurikulum diimplementasikan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, kurikulum dan pembelajaran tidak dapat dipisahkan karena merupakan suatu kesatuan yang saling memengaruhi. Dalam penerapannya, kurikulum membutuhkan praktisioner yang akan menjalankan rencana – rencana yang tertulis dalam dokumen kurikulum tersebut. Untuk itu, guru adalah faktor penting dalam pengimplikasian kurikulum karena guru yang berinteraksi langsung dengan siswa. Guru juga berperan dalam pengembangan kurikulum itu sendiri.
Seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan dari masyarakat, maka dunia pendidikan harus melakukan inovasi dalam pendidikan. Inovasi pendidikan akan berjalan dan mencapai sasarannya jika progam pendidikan tersebut dirancang dan di implementasikan sesuai dengan kondisi dan tuntutan zaman. Karena itu, kurikulum di Indonesia, begitu pula kurikulum bahasa, telah mengalami beberapa kali perubahan dan pengembangan dari waktu ke waktu. Harapannya, kurikulum mampu menyusun suatu pedoman pengajaran yang membentuk manusia – manusia yang mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungannya, baik secara internal maupun eksternal demi terwujudnya kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik
Untuk membahas lebih lanjut tentang kurikulum dan aspek – aspek yang terkait dengan kurikulum, pada Bab II makalah ini akan dijelaskan tentang hakikat kurikulum, silabus, materi ajar, peranan guru dalam pengembangan kurikulum, pengembangan kurikulum, dan asal usul pengembangan kurikulum bahasa.

II. PEMBAHASAN

A. HAKIKAT KURIKULUM
1.1 Definisi Kurikulum
Istilah kurikulum pertama kali digunakan dalam dunia olah raga pada zaman yunani kuno. Kurikulum berasal dari kata curir dan curere yang berarti jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari, mulai dari garis start hingga garis finish. Namun sekarang istilah kurikulum juga digunakan dalam bidang pendidikan. Kurikulum berhubungan erat dengan usaha mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Secara tradisional kurikulum diartikan sebagai apa yang seharusnya guru lakukan dalam pembelajaran. Namun Nunan (1988: 1) mengatakan bahwa kurikulum sebagai sesuatu yang dilakukan guru, bukan hanya rencana yang seharusnya dilakukan dalam pembelajaran. Lain halnya dengan Null (1973: 1) mengemukakan bahwa kurikulum merupakan jantung dari pendidikan karena kurikulum ialah kombinasi pemikiran, tindakan dan tujuan yang kemudian akan diajarkan dalam berbagai institusi, baik sekolah ataupun yang lain.
Sementara Print dalam Sanjaya (2010: 4) memandang sebuah kurikulum sebagai perencanaan pengalaman belajar, program sebuah lembaga pendidikan yang diwujudkan dalam sebuah dokumen serta hasil dari implementasi dokumen yang telah disusun. Namun pada dasarnya kurikulum memliki beberapa konsep, yaitu kurikulum sebagai mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar dan kurikulum sebagai perencanaan program pembelajaran.
Proses pembelajaran di sekolah menggunakan konsep kurikulum sebagai mata pelajaran, penguasaan isi pelajaran merupakan sasaran akhir dari pendidikannya. Seperti yang dikemukakan Saylor dkk. (Sanjaya: 2010: 4) kurikulum merupakan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik, merupakan konsep kurikulum yang sampai saat ini banyak mewarnai teori-teori dan praktik pendidikan. Hal senada juga diungkapkan oleh Hutchins (Sanjaya: 2010: 4) yang menyatakan bahwa kurikulum seharusnya termasuk grammar, membaca, retorika dan logika, matematika dan memperkenalkan buku-buku hebat dari barat pada tingkat menengah. Kurikulum sebagai mata pelajaran pada hakikatnya adalah kurikulum yang berisikan bidang studi.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pandangan kurikulum mulai bergeser. Pandangan kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran mulai bergeser karena pandangan ini dianggap masih tradisional. Sekolah tidak saja dituntut untuk membekali siswa dengan berbagai macam pengatahuan, tetapi dituntut juga untuk mengembangkan bakat dan minat siswa. Tuntutan tersebut membuat pandangan kurikulum menjadi bergeser, kurikulum tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran akan tetapi dianggap sebagai pengalaman belajar siswa.
Tokoh-tokoh yang menganggap kurikulum sebagai pengalaman diantaranya adalah Casswell dan Campbell (Sanjaya: 2010: 6) menyatakan bahwa kurikulum adalah semua pengalaman siswa yang berada dibawah tanggung jawab guru. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Dorris Lee dan Murray Lee bahwa kurikulum merupakan semua pengalaman siswa yang di peroleh disekolah. Lebih jelas lagi dikemukakan Giles dkk. Bahwa kurikulum adalah seluruh pengalaman yang ada di sekolah. Pengertian kurikulum sebagai pengalaman belajar mengandung makna bahwa kurikulum adalah seluruh kegiatan yang dilakukan siswa baik diluar maupun di dalam sekolah asal kegiatan tersebut berasa di bawah tanggung jawab guru (sekolah).
Tidak hanya sebgai mata pelajaran dan pengalaman belajar, kurikulum juga dipandang sebagai rencana atau program belajar. Seperti yang dikemukakan Hilda Taba (1962) dalam Sanjaya (2010: 7) “A curriculum is a plan for learning therefore, whai is know about the learning process and the development of the individual has bearing on the shaping of the curriculum.” Sedangkan Donald E. Orlasky, Othanel Smith (1978) dan Peter F. Olivva (1982) mengemukakan kurikulum pada dasarnya adalah sebuah perencanaan atau program pengalaman siswa yang diarahkan sekolah.
Selanjutnya UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 19 menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, tambahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Dari berbagai definisi yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dengan kata lain kurikulum adalah suatu perencanaan yang disusun secara struktur untuk mendapatkan keluaran yang diharapkan dari suatu pembelajaran.
1.2. Peran dan Fungsi Kurikulum
Kurikulum sebagai suatu rancangan dalam pendidikan memiliki posisi yang strategis, karena seluruh kegiatan pendidikan bermuara kepada kurikulum. Oleh karena itu, kurikulum menempati peran utama dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Menurut Sanjaya (2010: 12) terdapat tiga peranan kurikulum yang sangat penting, yaitu: peranan konservatif, peranan kreatif, peranan kritis dan evaluatif. Ketiga peranan ini sama penting dan harus dilaksanakan secara seimbang.
1) Peranan Konservatif
Peranan ini menekankan bahwa kurikulum sebagai sarana untuk mentrans-misikan nilai-nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa kini kepada generasi muda, dalam hal ini para siswa. Dengan demikian, peranan konservatif ini pada hakikatnya menempatkan kurikulum, yang berorientasi ke masa lampau. Peranan ini sifatnya menjadi sangat mendasar, disesuaikan dengan kenyataan bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan proses sosial. Salah satu tugas pendidikan yaitu mempengaruhi dan membina perilaku siswa sesuai dengan nilai-nilai sosial yang hidup di lingkungan masyarakatnya.
2) Peranan Kreatif
Peranan ini menekankan bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai dengan perkembangan yang terjadi dan kebutuhankebutuhan masyarakat pada masa sekarang dan masa mendatang. Kurikulum harus mengandung hal-hal yang dapat membantu setiap siswa mengembangkan semua potensi yang ada pada dirinya untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru, kemampuan-kemampuan baru, serta cara berpikir baru yang dibutuhkan dalam kehidupannya.
3) Peranan Kritis dan Evaluatif
Peranan Peranan ini dilatarbelakangi oleh adanya kenyataan bahwa nilai-nilai dan budaya yang hidup dalam masyarakat senantiasa mengalami perubahan, sehingga pewarisan nilai-nilai dan budaya masa lalu kepada siswa perlu disesuaikan dengan kondisi yang terjadi pada masa sekarang. Selain itu, perkembangan yang terjadi pada masa sekarang dan masa mendatang belum tentu sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Karena itu, peranan kurikulum tidak hanya mewariskan nilai dan budaya yang ada atau menerapkan hasil perkembangan ba-ru yang terjadi, melainkan juga memiliki peranan untuk menilai dan memilih nilai dan budaya serta pengetahuan baru yang akan diwariskan tersebut. Dalam hal ini, kurikulum harus turut aktif berpartisipasi dalam kontrol atau filter sosial. Nilai-nilai sosial yang tidak sesuai lagi dengan keadaan dan tuntutan masa kini dihilangkan dan diadakan modifikasi atau penyempurnaan.
Disamping memiliki peranan, kurikulum juga memiliki fungsi-fungsi tertentu. Secara umum fungsi kurikulum adalah sebagai alat untuk membantu peserta didik untuk mengembangkan pribadinya ke arah tujuan pendidikan. Kurikulum adalah segala aspek yang mempengaruhi peserta didik di sekolah, termasuk guru dan sarana serta prasarana lainnya. Kurikulum sebagai program belajar bagi siswa, disusun secara sistematis dan logis , diberikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menurut McNeil (Sanjaya: 2010: 12) isi kurikulum memiliki empat fungsi, yaitu:
1) Fungsi Pendidikan Umum (Common and General Education)
Merupakan fungsi untuk mempersiapkan anak didik agar menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab , menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Karena itu kurikulum harus memberikan pengalaman belajar kepada anak didik agar mampu menginternalisaasi nili-nilai dalam masyarakat, memahami hak dan kewajibannya sebagai anggota masyarakat dan makhluk sosial, Fungsi ini harus ada dan diikuti setiap siswa di semua jenis dan jenjang pendidikan.
2) Fungsi Suplementasi (Suplementation)
Kurikulum harus dapat memberikan pelayanan kepada setiap siswa sesuai dengan perbedaan kemampuan, minat, maupun bakat yang ada pada diri masing-masing siswa. Setiap siswa berhak menambah wawasan yang lebih baik sesuai dengan minat dan bakatnya. Siswa yang meiliki kemapuan di atas rata-rata haraus terlayani sehingga dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal, sebaliknya siswa berkemampuan di bawah rata-rata juga harus terlayani sesuai dengan kemampuannya.
3) Fungsi Eksplorasi (Exploration)
Kurikulum harus dapat menemukan dan mengembangkan minat dan bakat masing-masing anak didik, sehingga diharapkan anak didik dapat belajar sesuai dengan minat dan bakatnya tanpa ada paksaan. Fungsi ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah, karena terkadang berlawanan dengan kenyataan, bahwa sering ada pemaksaan dari pihak-pihak tertentu, seperti orangtua, untuk memilih suatu pilihan yang sebenarnya tidak sesuai dengan minat dan bakat siswa. Para pengembang kurikulum harus dapat menggali bakat dan minat anak didik yang terkadang tersembunyi.
4) Fungsi Keahlian (Specialization)
Kurikulum berfungsi untuk mengembangkan kemampuan anak didik dengan keahliannya yang didasarkan atas minat dan bakat anak didik. Kurikulum harus dapat memberikan pilihan berbagai bidang keahlian, seperti perdagangan, pertanian, industri atau disiplin akademik. Dengan bidang-bidang pilihan tersebut anak didik diharapkan memiliki keterampilan sesuai dengan bidangnya. Untuk itu dalam pengembangan kurikulum perlu melibatkan para ahli atau spesialis untuk menentukan kemampuan yang harus dimiliki anak didik yang sesuai dengan bidang keahliannya.
Selain fungsi-fungsi diatas, kurikulum juga berfungsi untuk setiap orang atau lembaga yang berhubungan baik langsung mapun tidak langsung dengan penyelenggaraan pendidikan. Untuk itu, fungsi kurikulum dapat ditinjau dalam berbagai perspektif, antara lain sebagai berikut.
1) Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah
Bagi kepala sekolah kurikulum berfungsi sebagai pedoman untuk mengatur dan membimbing kegiatan sehari-hari di sekolah, baik kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler.
2) Fungsi Kurikulum bagi Guru
Bagi guru kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Dalam praktik, guru merupakan ujung tombak pengembangan kurikulum sekaligus sebagai pelaksana kurikulum. Guru juga sebagai faktor kunci (key factor) dalam keberhasilan kurikulum. Bagaimanapun baiknya suatu kurikulum disusun, pada akhirnya akan sangat bergantung pada kemampuan guru di lapangan. Efektivitas suatu kurikulum tidak akan tercapai, jika guru tidak dapat memahami dan melaksankan kurikulum dengan baik sebagai pedoman dalam proses pembelajaran.
3) Fungsi Kurikulum bagi Siswa
Bagi siswa sendiri, kurikulum berfunsi sebagai pedoman belajar, melalui kurikulum siswa dapat memahami apa tujuan yang hendak di capai, isi atau bahan pelajaran apa yang harus dikuasai dan pengalaman belaajr apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Alexander Inglis (Sanjaya: 2010: 14 ) mengemukakan enam fungsi kurikulum untuk siswa, yaitu kurikulum berfungsi sebagai fungsi penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungsi diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi pemilihan dan fungsi diagnostik.
a. Fungsi Penyesuaian
Lingkungan tempat individu hidup senantiasa berubah dan dinamis, karena itu setiap individu harus mampu menyesuaikan diri secara dinamis. Kurikulum berfungsi sebagai alat pendidikan menuju individu yang well adjusted, yang membekali anak didik dengan kemampuan-kemampuan sehingga setelah selesai pendidikan, diharapkan dapat membawa dirinya untuk berperilaku sesuai dengan hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat, maupun dengan lingkungan yang lain.
b. Fungsi Pengintegrasian
Kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi. Individu merupakan bagian integral dari masyarakat, maka dengan pembentukan pribadi-pribadi yang terintegrasi, akan memberikan sumbangan dalam rangka pembentukan atau pengintegrasian masyarakat.
c. Fungsi Diferensiasi
Kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap perbedaan-perbedaan perorangan dalam masyarakat. Pada dasarnya deferensiasi akan mendorong orang berpikir kritis dan kreatif, dan ini akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat.
d. Fungsi Persiapan
Kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk jangkauan yang lebih jauh atau terjun ke masyarakat. Sekolah tidak mungkin memberikan semua apa yang diperlukan atau semua apa yang menarik minat mereka, tetapi melalui kurikulum harus dapat memberikan kemampuan yang diperlukan anak didik untuk melanjutkan studinya ataupun mencari pekerjaan.
e. Fungsi Pemilihan
Antara perbedaan dan pemilihan mempunyai hubungan yang erat. Pengakuan atas perbedaan berarti pula diberikan kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang dinginkan atas sesuatu yang menarik minatnya. Ini merupakan kebutuhan yang sangat ideal bagi masyarakat yang demokratis, sehingga kurikulum perlu diprogram secara fleksibel, memberikan kesempatan pada semua anak didik untuk memperoleh pendidikan sesuai pilihannya berdasarkan minat dan bakatnya.
f. Fungsi Diagnostik
Salah satu segi pelayanan pendidikan adalah membantu dan mengarahkan para siswa agar mereka mampu memahami dan menerima dirinya sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki. Ini dapat dilakukan bila mereka menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimiliki melalui eksplorasi dan prognosa. Di sini Fungsi kurikulum adalah mendiagnosa dan membimbing anak didik agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal.
4) Fungsi Kurikulum bagi Pengawas
Bagi para pengawas, fungsi kurikulum dapat dijadikan sebgai pedoman, patokan, atau ukuran dalam membimbing kegiatan guru di sekolah. Kurikulum juga dapat digunakan pengawas untuk menetapkan hal-hal apa saja yang memerlukan penyempurnaan atau perbaikan dalam usaha pengembangan kurikulum dan peningkatan mutu pendidikan.
5) Fungsi Kurikulum bagi Orangtua/Masyarakat
Bagi masyarakat, kurikulum dapat memberikan pencerahan dan perluasan wawasan pengetahuan dalam berbagai bidang kehidupan. Melalui kurikulum, masyarakat dapat mengetahui apakah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang dibutuhkannya relevan atau tidak dengan kurikulum sekolah. Orangtua juga perlu memahami kurikulum dengan baik, sehingga dapat dijadikan bahan untuk memberikan bantuan, bimbingan, dan fasilitas lainnya agar anak mencapai hasil belajar yang lebih optimal.

1.3 Jenis – Jenis Kurikulum
Nasution mengatakan bahwa jenis-jenis kurikulum ada 3 (tiga), yaitu:
1) Separate subject curriculum
Artinya segala bahan pelajaran disajikan dalam subject/mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang satu lepas dari yang lain. Subject atau mata pelajaran ialah hasil pengalaman umat manusia sepanjang masa, atau kebudayaan dan pengetahuan yang dikumpulkan oleh manusia sejak dahulu, lalu disusun secara logis dan sistematis, disederhanakan dan disajikan kepada anak didik sesuai dengan usianya masing-masing.
2) Corelated curriculum
Artinya masing-masing tiap mata pelajaran itu mempunyai hubungan. Di sini mata pelajaran itu dihubungkan antara mata pelajaran satu dengan yang lainnya, sehingga tidak berdiri sendiri-sendiri seperti pada seperete-subject curriculum dan ini dibuat sebagai reaksi terhadapnya yang dianggap masih kurang sempurna.
3) Integrated curriculum
Dalam integrated curiculum meniadakan batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan sehingga diharapkan akan membentuk anak-anak menjadi pribadi yang terintegrated.
1.4 Kurikulum dan Pengajaran
Kurikulum terdiri dari komponen – komponen yang saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain. Komponen yang membentuk system kurikulum akan melahirkan system pengajaran, dan system pengajaran itulah yang kan menjadi pedoman guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar di dalam kelas. Maka dapat dikatakan bahwa system pengajaran merupakan pengmbangan dari sistem kurikulumnya.
Kurikulum dan pengajaran merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan walaupun keduanya memiliki posisi yang berbeda. Kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang memberikan arah dan tujuan pendidikan, serta isi yang harus dipelajari. Sedangkan pengajaran adalah proses yang terjadi dalam interaksi belajar mengajar antara guru dengan siswa. Seperti perumpamaan yang diungkapkan Saylor (Sanjaya: 2010: 17) kurikulum dan pengajaran itu seperti Romeo dan Juliet.artinya berbicara Romeo tidak akan berarti apa-apa tanpa Juliet, begitu pula sebaliknya. Tanpa kurikulum sebagai sebuah rencana, maka pembelajaran dan pengajaran tidak akan efektif; demikian juga tanpa adanya pembelajaran, maka kurikulum tidak berarti apa-apa. Kurikulum berkaitan erat dengan apa yang harus diajarkan, sedangkan pengajaran mengacu pada bagaimana cara mengajarkannya.

Berikut ini gambar keterkaitan antara kurikulum dan pengajaran.

Gambar 1. Keterkaitan kurikulum dan pengajaran
Walaupun antara kurikulum dan pengajaran merupakan dua sisi yang tidak terpisahkan, namun dalam proses pengajaran dan pembelajaran dapat terjadi berbagai kemungkinan hubungan antara keduanya. Olivia (Sanjaya: 2010: 20) menggambarkan kemungkinan hubungan antara keduanya dalam beberapa model seperti berikut.
1) Model dualistis (the dualistic model)
Pada model ini kurikulum dan pengajaran terpisah. Keduanya tidak bertemu kurikulum yang seharusnya menjadi input dalam menata system pengajaran tidak tampak. Demikian juga pengajaran yang semestinya memberikan balikan dalam proses penyempurnaan kurikulum tidak terjadi, karena kurikulum dan pengajaran berjalan sendiri.
2) Model berkaitan (the interlocking model)
Pada model ini kurikulum dan pengajaran dianggap sebagai suatu system yang keduanya memiliki hubungan. Baik antara kurikulum dan pengajaran maupun pengajaran dan kurikulum ada bagian-bagian yang berpadu atau memiliki keterkaitan, sehingga antara keduanya memiliki hubungan.
3) Model konsentris (the concentric nmodel)
Pada model ini kurikulum dam pengajaran memiliki hubungan dengan kemungkinan kurikulum bagian dari pengajaran atau pengajaran bagian dari kurikulum.
4) Model siklus (the cyclical model)
Pada model ini antara kurikulum dan pengajaran memiliki hubungan yang timbal balik. Keduanya saling berpengaruh. Apa yang diputuskan dalam kurikulum akan menjadi dasar dalam proses pelaksanaan pengajaran, begitu juga sebaliknya.
1. 5. Peran Guru dalam Pengembangan Kurikulum
Kurikulum merupakan sebuah dokumen yang berisi tentang perencanaan pembelajaran yang disusun sebagai pedoman guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Suatu perencanaan tentulah harus direalisasikan untuk melihat apakah perencanaan tersebut berhasil mencapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Adapun implementasi dari kurikulum adalah proses pembelajaran. Jadi, kurikulum dan proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Pembelajaran tanpa kurikulum tidak akan efektif dan kurikulum tanpa proses pembelajaran hanyalah sebuah dokumen yang tidak bermakna.
Dalam proses pembelajaran guru merupakan kunci utama yang menggerakkan pembelajaran dan berhubungan langsung dengan peserta didik yang menjadi objek kurikulum. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa guru berperan penting dalam pengimplementasian kurikulum. Peran guru dalam pengembangan kurikulum lebih kepada penerapannya di dalam tataran kelas. Murray Print dalam Wina (2010: 28) menyebutkan bahwa peran guru dalam pengembangan kurikulum adalah sebagai: (1) implementers, (2) adapters, (3) developers, dan (4) researchers.
1. Guru sebagai implementers
Guru sebagai implementer artinya guru sebagai pelaksana kurikulum. Guru merupakan tenaga teknis dimana perannya dalam pengembangan kurikulum hanya mengimplementasikan kurikulum yang telah disusun secara terpusat. Guru tidak memiliki kesempatan untuk menentukan isi maupun target kurikulum. Akibatnya, guru menjadi tidak kreatif dan inovatif dalam merekayasa pembelajaran. Guru cenderung hanya mengikuti apa yang tertulis dalm kurikulum tanpa melakukan pembaharuan. Kesentralan kurikulum juga mengakibatkan terjadinya keseragaman dalam proses pembelajaran yang menyebabkan apa yang dilakukan guru di berbagai daerah yang berbeda di Indonesia mengalami kesamaan, padahal karakteristik dan kebutuhan antar daerah berbeda satu sama lain.
2. Guru sebagai adapters
Peran guru sebagai adapter adalah menyesuaikan kurikulum dengan kondisi lapangan tempat dia mengajar. Berbeda dengan peranannya sebagai implementer yang hanya menjalankan kurikulum yang telah direncanakan, guru sebagai adapter mendapatkan wewenang untuk menyesuaikan kurikulum yang sudah ada dengan karakteristik sekolah dan kebutuhan lokal. Contohnya saja kebijakan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), para perancang kurikulum hanya menentukan standar isi sebagai standar minimal yang harus dicapai, bagaimana implementasinya, kapan waktunya dan hal hal teknis lainnya seluruhnya ditentukan oleh guru. (Wina: 2010:29). Dengan demikian guru akan lebih tertantang untuk memvariasikan kegiatan pembelajaran dan terhindar dari rutinitas yang menjemukan karena berkesempatan mengembangkan kreatifitas dalam mengajar.
3. Guru sebagai developers
Guru sebagai developer artinya guru memiliki wewenang untuk mengembangkan kurikulum sendiri. Guru dapat merancang sebuah kurikulum yang sesuai dengan karakteristik, visi, dan misi sekolah. Guru memiliki hak untuk menentukan tujuan, isi, strategi, dan pengukuran dalam perencanaan pembelajaran. Guru sebagai subjek langsung yang berinteraksi dengan para peserta didik pastinya memiliki gambaran riil tentang pengalaman belajar yang dibutuhkan peserta didik, sehingga dapat menyusun suatu kurikulum yang tepat sasaran. Pelaksanaan peran guru sebagai pengembang kurikulum dapat dilihat dalam pengembangan kurikulum muatan lokal (mulok) yang merupakan bagian dari struktur KTSP. Pengembangan kurikulum muatan lokal diserahkan sepenuhnya kepada tiap tiap satuan pendidikan agar dapat mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan masing – masing sekolah. Oleh sebab itu, Kurikulum muatan lokal bisa saja berbeda antara satu sekolah dengan sekolah yang lain.

4. Guru sebagai researchers
Guru sebagai researcher atau peneliti artinya guru berperan dalam meneliti kurikulum. Guru bertanggung jawab untuk menguji berbagai komponen kurikulum, misalnya menguji bahan bahan kurikulum, menguji efektifitas program, menguji strategi dan model pembelajaran, dan lain sebagainya termasuk mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa dalam mencapai target kurikulum. (Sanjaya: 2010: 30). Metode yang disarankan untuk penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang didasarkan pada masalah yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran atau proses penerapan kurikulum. Dengan melaksanakan PTK, guru tidak hanya mengasah kemampuannya dalam meneliti tetapi juga terpacu untuk selalu berupaya mencari pemecahan atas masalah yang dihadapinya ketika mengajar. Dalam hal ini guru tidak hanya melakukan perannya sebagai peneliti kurikulum tetapi sekaligus meningkatkan kinerja profesionalnya. Guru akan menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien bagi peserta didik.

B. HAKIKAT SILABUS DAN MATERI AJAR
2.1. Hakikat Silabus dan Jenis – Jenis Silabus
Secara umum dapat diartikan bahwa silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
Menurut Mc Kay (Brown: 1995: 7) silabus menyediakan hal-hal yang akan dipelajari nantinya, mencakup isi dan kegiatannya. Mc Kay mengemukakan tiga tipe silabus dalam pengajaran bahasa, yaitu: structural, situational dan notional syllabus. Kemudian Brown (1995 :7) menambahkan empat tipe silabus lainnya. Ketujuhnya dapat dilihat pada table dibawah.
Table. Tipe – tipe Silabus

a. Menurut Mc Kay structural syllabuses focus pada bentuk gramatikal. Selama bertahun-tahun kebanyakan buku teks dan materi diorganisasikan berupa unsure fonologis dan gramatikal. Urutan structural syllabus biasanya dimulai dari yang paling mudah hingga tingkat kesulitan yang tinggi. Dan materi berdasarkan structural syllabus mudah diidentifikasi karena hanya berisi seputar grammar.
Contonhya: Unit 1. Tenses
1. Present Tense….
2. Present Continous…
3. Present Future…
b. Situational syllabus didasarkan pada gagasan bahwa bahasa ditemukan dalam konteks dan situasi yang berbeda. Organisasi pada silabus ini akan berdasarkan pada situasi seperti di pantai, di pesta atau di toko souvenir. Situasi yang dipilih berdasarkan kemungkinan bahwa siswa akan menghadapi situasi tersebut.
Contohnya: Introduction
At the housing office
Deciding to live together
Looking for an apartment
c. Topical syllabus mirip dengan situational syllabus, tetapi pada topical syllabus menjurus lebih kepada tema bukan situasi. Topic yang dipilih oleh pengarang buku teks berdasarkan pentingnya tema yang berhubungan dengan kehidupan siswa. Seperti topic tentang kebahagiaan.
Contohnya: Unit I. Issues in Society
1. Loneliness
2. Can stress make you sick?
3. Care of the erderly: a family Marten
d. Menurut McKay notional syllabus fokus pada penggunaan semantik. Namun Brown menyebutnya functional syllabus karena kata fungsional lebih tepat untuk menunjukkan prinsip seputar materi yang dibahas, seperti: penggunaan semantik atau kumpulan makna, disebut fungsional. Brown memilih fungsi berdasarkan kegunaannya yang dirasakan para siswa dan kemudian mengurutkan mereka atas dasar beberapa gagasan tentang kronologi, frekuensi atau hirarki kegunaan fungsi. Misalnya, urutan logis untuk fungsi seperti yang disebutkan diatas seperti: greeting people, introducing someone, seeking information, giving information, interrupting, changing topics, dan saying good bye.
Contoh functional syllabus:
1. Talking about yourself, starting a conversation, making a date
2. Asking for information: question techniques, answering techniques, getting more information
3. Getting people to do things: requesting, attracting attention, agreeing and refusing.
e. Notional syllabus merupakan silabus yang merupakan gagasan umum. Gagasan umum meliputi konsep-konsep seperti jarak, durasi, kuantitas, kualitas, lokasi dan sebagainya.
Contohnya:
Unit 1 Properties and Shapes
Unit 2 Location
Unit 3 Structure
Unit 4 Measurement I (of solid figures)
Perlu diperhatikan bahwa notional syllabus berbeda dengan functional syllabus. Jenis notional syllabus mengorganisir/menyusun seputar gagasan umum, sementara functional syllabus mengorganisir seputar fungsi bahasa.
f. Sejumlah skill-based syllabus yang berbeda juga banyak bermunculan. Skill based syllabus mengorganisasi materi seputar kemampuan berbahasa tau kemampuan akadmik yang diperlukan siswa untuk belajar bahasa. Misalnya saja dalam membaca termasuk keterampilan seperti membaca skimming untuk ide umum, pemindaian untuk informasi spesifik, menebak kosakata dari conteks, penggunaan prefix, sufiks, menemukan ide pokok dan sebagainya.
Contoh skill-based syllabus:
Scanning
Key Word
Topic Sentence
Reference Words
Connectors
g. Baru-baru ini juga muncul task-based syllabus yang mengorganisir materi seputar berbagai jenis tugas yang akan dilakukan siswa, yang nantinya akan dibutuhkan dalam praktik berbahasa. Seperti reading job ads, making appointment, writing a resume, filling out job application, solving problem dan sebagainya. Task-based syllabus berdasar pada kegunaan yang akan dialami siswa.
Contohnya:
1. Writing notes and memos
2. Writing personal letters
3. Writing telegrams, personal ads and instructions
4. Writing descriptions
5. Reporting experiences
Namun sebuah buku teks tidak hanya dapat berisi satu tipe silabus saja. Bisa saja terdapat dua tipe silabus dalam satu buku teks. penggabungan dua tipe silabus ini dinamakan mixed syllabus. Misalnya penggabungan silabus situational dan topical dalam satu buku teks, ini bisa dinamakan situational-topical syllabus.
Selain mixed syllabus, ada juga yang dinamakan layered syllabus. Silabus kedua dan ketiga membentuk lapisan berada dibawah silabus utama. Kebanyakan materi merupakan bagian dari silabus structural yang berada dibawah silabus utama. Sebagai contoh dari situational syllabus yang digunakan Brinton and Neuman bahwa dibawah situational syllabus ada sebuah structural syllabus yang mengorganisir materi di dalam dan diantara tiap bab. Contohnya,
Perhatikan subjudul untuk Unit 1
Introduction
Nouns
Cardinal number
The Present Tense of Verb Be: statement form
Subject Pronoun
Contraction with be
Article usage: An Introduction
Basic Writing Rules, Part I
2.2. Hakikat Materi Ajar
Materi ajar adalah segala bentuk materi yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Materi yang dimaksud bisa berupa materi tertulis, maupun materi tidak tertulis. Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.
Bahan ajar adalah materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar (Depdiknas, 2003). Materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus diajarkan oleh guru dan harus dipelajari oleh siswa untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Selain itu, materi ajar merupakan seperangkat materi/substansi pelajaran yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran. Dengan materi ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis, sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu. Materi ajar merupakan informasi, alat, dan teks yang diperlukan guru untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.

C. LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
3.1. Hakikat Pengembangan Kurikulum
Kurikulum memiliki peranan penting dalam sistem pendidikan. Oleh sebab itu, pengembangan kurikulum harus didasarkan pada landasan yang kuat dan prinsip – prinsip yang sesuai agar tidak terjadi kesalahan dan kekeliruan dalam implementasi pendidikan. ”Pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya”. (Sanjaya: 2010: 30). ”Proses ini berhubungan dengan seleksi dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar mengajar, antara lain penetapan jadwal pengorganisasian kurikulum dan spesifikasi tujuan yang disarankan, mata pelajaran, kegiatan, sumber, dan alat pengukur pengembangan kurikulum yang mengacu pada kreasi sumber sumber unit, dan garis pelajaran kurikulum ganda lainnya, untuk memudahkan proses belajar mengajar.” (Hamalik: 2008: 183)
Seller dan Miller dalam Sanjaya (2010: 32) mengemukakan bahwa proses perkembangan kurikulum adalah rangakaian kegiatan yang dilakukan secara terus menerus. Seller berpendapat bahwa pengembangan kurikulum merupakan siklus yang dimulai dari menentukan orientasi kurikulum yang berupa kebijakan kebijakan umum seperti arah dan tujuan pendidikan, pandangan tentang hakikat belajar dan peserta didik, dll. Kemudian, Berdasarkan orientasi tadi dikembangkan kurikulum yang dirancang untuk menjadi acuan pembelajaran. Kurikulum yang telah dikembangkan ini diimplementasikan dalam pembelajaran dan setelah itu dievaluasi. Hasil evaluasi penerapan kurikulum tadi dijadikan masukan untuk menentukan orientasi, dan begitu seterusnya. ”Dengan demikian, maka pengembangan kurikulum memiliki dua sisi yang sama pentingnya, sisi kurikulum sebagai pedoman …….. dan sisi kurikulum sebagai implementasi” (Sanjaya: 2010: 33)
Ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan isi pengembangan kurikulum, yaitu:
1) Rentangan Kegiatan (Range of Activity)
Pengembangan isi kurikulum dimulai dari kegiatan pengembangan yang paling luas yaitu rancangan kebijakan kurikulum yang berisi tentang apa yang harus diajarkan dan sebagai pedoman bagi para pengembang kurikulum lebih lanjut. Menetapkan kebijakan kurikulum perlu dikaji secara hati hati dan komprehensif. Kemudian rancangan program studi yang mencakup kegiatan kegiatan menentukan tujuan, urutan serta kedalaman materi dalam bidang studi. Setelah itu dirancanglah program pengajaran yang mencakup aktivitas belajar dalam setiap bidang studi untuk satu tahun, satu semester, atau satu caturwulan. Selain merancang program, kegiatan pengembangan kurikulum juga berkaitan dengan menghasilkan bahan bahan pengajaran, seperti menyusun buku teks, modul, program program film, rekaman audio, dan lain sebagainya yang menunjang kegiatan pembelajaran.
2) Tujuan Kelembagaan (Instutional Purpose)
Tujuan kelembagaan harus sejalan dengan visi dan misi sekolah. Setiap sekolah memiliki visi dan misi yang berbeda. Misalnya visi dan misi sekolah umum adalah mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sedangkan visi dan misi sekolah kejuruan mempersiapkan siswa untuk memasuki dunia kerja. Dengan demikian, isi kurikulum harus disesuaikan dengan tujuan kelembagaan agar pengalaman belajar yang didapat siswa di sekolah dapat mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan.

3.2. Prinsip – Prinsip Pengembangan Kurikulum
Dalam bukunya yang berjudul Kurikulum dan Pembelajaran, Sanjaya (2010: 39 42) menguraikan lima prinsip pengembangan kurikulum, yaitu: prinsip relevansi, prinsip fleksibilitas, prinsip kontinuitas, efektifitas, dan efisiensi.
1) Prinsip Relevansi
Prinsip relevansi menekankan pada kesesuaian kurikulum dengan nilai – nilai yang ada di masyarakat. Kurikulum harus mampu menyusun pengalaman pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan membekali siswa dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Prinsip relevansi dibedakan menjai dua, yakni relevansi internal dan relevansi eksternal.
Relevansi internal adalah kesesuaian antara komponen – komponen yang ada di dalam kurikulum (tujuan, isi, materi, pengalaman belajar, metode, instrumen penilaian). Sedangkan relevansi eksternal adalah kesesuaian komponen kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Relevansi eksternal dibagi menjadi tiga: pertama, relevan dengan peserta didik, artinya pengembangan kurikulum disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar siswa. Dengan demikian akan berbeda isi kurikulum untuk siswa yang ada di perkotaan dengan siswa yang ada di pedesaan. Atau kurikulum untuk siswa yang berada di kawasan industri dengan kawasan pariwisata. Kedua, relevan dengan perkembangan zaman, artinya kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Hal ini penting agar pengalaman belajar yang dilakukan siswa bermanfaat bagi kehidupannya pada masa datang. Ketiga, relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan, artinya pengalaman yang di dapat siswa di sekolah mempersiapkannya untuk berkecimpung di dunia kerja.
2) Prinsip Fleksibilitas
Artinya kurikulum harus bersifat tidak kaku atau fleksibel dan mudah diterapkan di berbagai situasi dan kondisi lapangan yang berbeda. Prinsip fleksibilitas dibedakan menjadi dua: Pertama, fleksibel bagi guru yang artinya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk mengembangkan program pengajaran sesuai dengan kondisi yang ada. Kedua, fleksibel bagi siswa yang artinya kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai bakat dan minat siswa.
3) Prinsip Kontinuitas
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa dalam pengembangan kurikulum perlu adanya saling keterkaitan dan kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan program pendidikan. Perlu dijaga agar tidak terjadi pengulangan materi ajar dan penyusunan materi dimulai dari tingkat yang dianggap paling mudah ke tingkat yang paling sulit agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien.
4) Efektifitas
Prinsip efektifitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum yang dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Efektifitas dibagi dua: pertama, efektifitas yang guru dalam mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas, contohnya: guru berhasil menyelesaian 12 program pembelajaran sesuai dengan pedoman kurikulum. Kedua, efektifitas siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Contoh: apabila dalam satu caturwulan siswa dapat mencapai semua tujuan pembelajaran sesuai dengan yang telah ditetapkan, dapat dikatakan proses pembelajaran siswa efektif.
5) Efisiensi
Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, suara, dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Sebuah kurikulum yang efisien adalah kurikulum yang dalam segala keterbatasan sarana dan prasarana masih dapat diimplementasikan. Kurikulum dikatakan memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya minimal, dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal. Sebaliknya, kurikulum yang membutuhkan peralatan, sarana dan prasarana yang sangat khusus dengan biaya yang besar dalam penerapannya adalah kurikulum yang tidak praktis dan tidak efisien.

3.3. Landasan Pengembangan Kurikulum
Masih dari buku yang sama, Sanjaya (2010: 42 61) menjelaskan tentang tiga landasan pengembangan kurikulum, yakni landasan filosofis, psikologis, dan landasan sosio teknologis.
1) Landasan Filosofis
Setiap kelompok masyarakat secara filosofis memiliki pandangan hidup yang berbeda sesuai dengan nilai – nilai yang dianggapnya baik. Ada empat fungsi filsafat dalam pengembangan kurikulum. Pertama, filsafat dapat menentukan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan hendaknya mencerminkan sistem nilai (value system) yang dianut oleh masyarakat seperti yang dikatakan Sanjaya (2010: 44) ”Kurikulum pada hakikatnya berfungsi untuk mempersiapkan anggota masyarakat yang dapat mempertahankan, mengembangkan, dan dapat hidup dalam sistem nilai masyarakatnya sendiri…….”.Tujuan pendidikan harus mencakup tiga hal yaitu: autonomy, artinya memberikan kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan kepada individu dan masyarakat agar mereka dapat menciptakan kehidupan yang lebih baik dan mandiri secara pribadi maupun bermasyarakat. Equity, artinya memberikan kesamaan pendidikan dasar yang memungkinkan seluruh warga negara berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi dan budaya. Survival, artinya pendidikan tidak hanya memberikan kesempatan bagi setiap bangsa untuk melestarikan dan mewariskan budayanya kepada generasi berikutnya tetapi juga memberikan pemahaman akan saling ketergantungan antara manusia.
Kedua, filsafat dapat menentukan isi atau materi ajar yang akan diberikan kepada peserta didik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Ketiga, filsafat dapat menentukan strategi atau cara pencapaian tujuan. Filsafat dapat dijadikan pedoman dalam merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan sistem nilai masyarakat. Keempat, melalui filsafat dapat ditentukan bagaimana menentukan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan baik dalam bidang pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
2) Landasan Psikologis
Secara psikologis, setiap peserta didik memiliki keunikan dan perbedaan baik dalam segi minat, bakat, maupun potensi lainnya. Untuk itu, pengembang kurikulum perlu memiliki pengetahuan baik tentang psikologi perkembangan anak maupun tentang psikologi belajar.
a. Psikologi Perkembangan Anak
Secara garis besar Piaget membagi perkembangan intelektual (kognitif) setiap individu kedalam empat fase, yakni fase sensori motor, fase praoperasional, fase operasional konkret, dan fase operasional formal.
• Fase sensorimotor (0 sampai 2 tahun)
Anak sejak lahir sampai dengan 0,5 tahun memahami objek sekitarnya melalui sensori dan aktivitas motoriknya karena bulan bulan pertama anak belum mampu bergerak dalam ruangan maka anak mendapatkan pengalaman dari tubuh dan inderanya. Kemampuan berbahasa pada fase ini belum muncul, interaksi dengan lingkungan dilakukan melaui gerakan gerakan. Segala yang dilakukan anak dengan gerakan adalah eksperimennya terhadap lingkungan. Diperkirakan dengan semakin banyaknya pengalaman anak yang diperolehnya dari eksperimen terhadap lingkungan, maka akan semakin baik pula perkembangan intelektual anak tersebut.
• Fase preoperasional (2 sampai 7 tahun)
Fase ini terbagi menjadi dua, yaitu sub tahap simbolis (2 sampai 4 tahun) dimana proses berpikir anak berpusat pada penguasaan simbol simbol seperti bahasa dan gambar, dan sub tahap intuitif (4 sampai 7 tahun) dimana anak menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu jawaban atas semuanya. Pada fase ini, kemampuan anak untuk berbahasa sudah mulai berkembang. Melaui pengalamannya anak dapat mengenal dan memberikan objek dengan nama nama sesuai dengan gagasan yang dibuatnya dalam otak. Anak dalam fase ini cenderung bersifat egocentric artinya menganggap bahwa cara pandang orang lain sama dengan dirinya.
• Fase operasional konkrit (7 sampai 11 tahun)
Pada tahap ini anak sudah mampu menentukan urutan objek, memahami hubungan hubungan logis, mengklasifikasi satu set objek, mampu memecahkan masalah secara konkrit, conservation atau pengekalan kuantitas suatu objek, dan mampu menerima sudut pandang orang lain walaupun pendapat itu dianggapnya salah. Kemampuan anak masih terbatas pada hal hal yang konkret dan anak akan mengalami kesulitan memecahkan masalah tanpa pengalaman langsung dengan objek konkret.
• Fase operasional formal (11 sampai 14 tahun ke atas)
Pada tahap ini anak sudah mampu berpikir tentang hal hal yang abstrak, misalnya menjumlahkan angka dalam benaknya. Pola pikir anak sudah sistematik dan meliputi proses proses yang kompleks. Aktivitas proses berpikir pada fase ini mulai menyerupai cara berpikir orang dewasa karena kemampuannya yang sudah berkembang pada hal hal yang abstrak.
Baik tujuan maupun isi kurikulum harus mempertimbangkan taraf perkembangan anak agar dapat berfungsi secara efektif.
b. Psikologi Belajar
Pengembangan kurikulum tidak terlepas dari teori belajar. Banyak teori belajar yang mengatakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku. Namun demikian, teori tersebut berpangkal pada teori tentang hakikat manusia. John Locke dan Leibnitz memiliki pandangan yang berbeda tentang hakikat manusia.
Menurut Locke, manusia adalah organisme yang pasif. Manusia serupa kertas putih yang kosong, hendak ditulisi apa kertas tersebut tergantung kepada orang yang menulisnya. Dari pandangan Locke ini lahirlah paham behavioristik elementeristik. Menurut aliran behavioristik:
• belajar merupakan fenomena perilaku yang dapat diobservasi.
• belajar sebagai pembentukan atau perubahan tingkah laku yang terutama disebabkan oleh faktor eksternal (stimulus)
• belajar terjadi karena adanya hubungan antara stimulus dan respon. Teori ini juga kerap dikenal dengan teori Stimulus Respons
Sedangkan menurut Leibnits, manusia adalah organisme yang aktif. Manusia bebas berbuat dan bebas melakukan pilihan dalam suatu situasi. Titik pusat kebebasan adalah kesadarannya sendiri. Pandangan hakikat manusia menurut Leibnits melahirkan aliran belajar kognitif wholistik.
Pandangan kognitif menganggap belajar sebagai proses aktif dimana peserta didik bukan hanya menerima pengetahuan tetapi juga menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki untuk memecahkan masalah dan mencapai wawasan baru. Menurut pandangan kognitif, hal yang paling penting adalah pengetahuan karena pengetahuan merupakan modal awal dalam pembelajaran dan membimbing ke proses belajar berikutnya. Dengan pengetahuan dasar yang baik maka proses belajar dan mengingat akan lebih mudah. Belajar merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat tetapi merupakan penggerak utama dalam perubahan tingkah laku.
Adanya perbedaan pendapat tentang teori belajar dapat memberi masukan bagi pengembang kurikulum dalam mengembangkan kurikulum yang efektif.
3) Landasan Sosiologis Teknologis
Sekolah diharapkan dapat mendidik siswa agar siap berperan aktif dalam masyarakat. Dengan kata lain, sekolah harus memberikan pengalaman belajar yang bermafaat bagi siswa dalam kehidupannya bermasyarakat. Untuk mencapai tujuan itu, tentu saja kita kembali kepada kurikulum yang menjadi pedoman dalam proses pendidikan di sekolah. Sesuai dengan prinsip relevansi, kurikulum harus mampu menjawab tuntutan atau kebutuhan masyarakat.
Dalam proses pengembangan dan penyusunan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat inilah perlu dipertimbangkan berbagai hal yang berkaitan dengan asas sosiologis dan teknologis.
a. Kekuatan Sosial yang dapat Mempengaruhi Kurikulum
Masyarakat bersifat dinamis yaitu selalu mengalami pergerakan dan perkembangan kompleks yang berdampak pada perubahan pada sistem nilai, pola kehidupan, struktur sosial, kebutuhan, dan tuntutan masyarakat. Karena hal hal tersebut, muncul berbagai tuntutan terhadap penyelenggaraan dann praktik pendidikan. Tuntutan dan masukan yang berbeda dari berbagai golongan masyarakat memberikan kesulitan bagi pengembang kurikulum dalam menyusun kurikulum yang menjawab semua tuntutan tersebut. Dalam konteks ini, pengembang kurikulum perlu menjalankan peran kritis dan evaluatifnya dalam menentukan muatan kurikulum yang dianggap layak untuk dipelajari oleh peserta didik.
b. Kemajuan IPTEK sebagai Bahan Pertimbangan Penyusunan Kurikulum
Hal penting yang perlu diperhatikan dan diantisipasi oleh para pengembang kurikulum sehubungan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat adalah mengenai perubahan pola hidup dan perubahan sosial politik.
Perubahan pola hidup dapat dilihat dari perbedaan pola kerja, pola hidup yang bergantung pada hasil hasil teknologi, pola hidup dalam sistem perekonomian baru. Kondisi seperti ini memiliki konsekuensi terhadap cara dan strategi pengajaran yang dipersiapkan oleh lembaga pendidikan. Kurikulum didesain agar mampu membentuk manusia yang produktif, tidak gagap teknologi, dan memperkenalkan peserta didik pada fenomena fenomena baru yang akan ditemukannya di lingkungan.
Kehidupan sosial politik Indonesia yang pada masa Orde Baru berkembang pada pola yang kaku dan bersifat linier berdampak pada sistem pendidikan yang sentralistis dan dibawah pengaruh penguasa. Kurikulum kurang berperan sebagai alat pembebasan pendapat dan pencerahan karena digunakan untuk membentuk manusia yang memiliki pola pikir yang seragam dan tunduk dan patuh terhadap kekuasaan.
Dengan munculnya era reformasi, kurikulum dirancang untuk menciptakan manusia yang kritis dan demokratis. Dikeluarkanlah Undang Undang No 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah dan tentang Perimbangan Pembagian Keuangan. Undang Undang ini memberi kewenangan seluruh urusan pemerintahan termasuk bidang pendidikan dan kebudayaan yang semula berada pada pemerintah pusat kepada pemerintahan daerah.
Sehubungan dengan hal itu maka pengembang kurikulum dalam melaksanakan tugasnya harus melakukan hal hal sebagai berikut:
• mempelajari dan memahami kebutuhan masyarakat seperti yang dirumuskan dalam undang undang, keputusan pemerintah, peraturan peraturan daerah, dan lain sebagainya,
• menganalisis budaya masyarakat tempat sekolah berada,
• menganalisis kekuatan serta potensi daerah, dan
• menganalisis syarat dan tuntutan tenaga kerja.
Dalam konteks dasar sosiologis teknologis, hal hal di atas merupakan hal hal yang sangat penting untuk dipahami oleh pengembang kurikulum.

3. 4. Asal Usul Pengembangan Kurikulum Bahasa
Sejarah perkembangan kurikulum bahasa berawal dari gagasan model silabus. Model silabus adalah salah satu aspek pengembangan kurikulum tetapi tidak mirip dengan kurikulum. Silabus berisikan materi pempelajaran yang spesifik dan bagian dari apa yang akan diajarkan dan diujikan. Jadi silabus keterampilan berbicara seharusnya memiliki kriteria dalam kemampuan berbicara yang akan diajarkan dan dipraktekan, misalnya fungsi, topik, atau aspek lain yang mendekati pembelajaran. Pengembangan kurikulum adalah suatu proses yang sangat komprehensif dibandingkan silabus. Itu semua terdiri dari proses yang digunakan untuk menentukan kebutuhan siswa baik individu atau kelompok, menentukan silabus yang tepat, struktur pembelajaran, metode, dan materi, serta mengukur hasil dari sebuah proses.
Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami beberapa kali perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan yang sekarang 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Akibatnya, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan juga perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Jika dikaitkan dengan pengajaran bahasa, kurikulum yang kita kenal terdapat dalam lima periode, yakni: Kurikulum tahun 1975, kurikulum tahun 1984, kurikulum tahun 1994, kurikulum tahun 2004, dan Kurikulum 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengacu kepada standar nasional pendidikan.
1) Kurikulum 1975
Pada Kurikulum 1975 pembelajaran bahasa menggunakan pendekatan struktural (formalis), pembelajaran bahasa dimulai dari konsep-konsep. Salah satu bentuk khas dalam Kurikulum 1975 yang berlaku untuk semua bidang studi adalah PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional).
2) Kurikulum 1984
Pada Kurikulum 1984 pembelajaran bahasa menggunakan pendekatan fungsional. Pembelajaran bahasa ditekankan kepada aspek fungsi bahasa : menyimak, berbicara, membaca, menulis/mengarang. Pembelajaran menekankan pada pemerolehan bahasa. Salah satu bentuk khas dalam kurikulum 1984 adalah adanya CBSA (cara belajar siswa aktif) dan penggunaan pendekatan keterampilan proses. Dalam Kurikulum 1984 inilah dimunculkan pembelajaran ‘Pragmatik’. Kontruksi materi pelajaran selalu dimulai dengan membaca, kosakata, struktur, menulis, pragmatik, dan diakhiri dengan apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.
3) Kurikulum 1994
Kurikulum 1994 masih menggunakan pendekatan fungsional. Penekanannya pada aspek kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Dalam kurikulum 1994 ini tidak ada pembelajaran sastra. Materi sastra dimasukkan ke dalam aspek pemahaman yang sangat minim (hanya ada satu pokok bahasan tentang sastra.)
4) Kurikulum 2004
Kurikulum 2004 adalah awal diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum ini sangat ideal. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia juga sangat ideal dalam segala aspek kebahasaan maupun aspek kesastraan. Ada banyak guru yang belum memahami dan belum mampu melaksanakan KBK ini secara ideal, sehingga oleh TIM 9 Depdiknas dibonsai menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
5) Kurikulum 2006
Kurikulum 2006 atau lebih populer dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih fleksibel untuk dilaksanakan. Pembelajaran bahasa tidak lagi harus dirinci dengan indikator-indikator yang sulit. Bahkan pembelajaran Kebahasaan dan Kesastraan diharapkan seimbang dalam aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Penjelasan ini sejalan dengan penjelasan yang dikemukakan oleh Richards. Berdasarkan sejarah perkembangan bahasa 20 abad yang lalu, banyak dorongan perubahan yang mendekati pengajaran bahasa yang berasal dari perubahan metode pengajaran. Banyak metode yang muncul dan hilang diakhir 100 tahun dalam kategori “metode yang baik”, diantaranya sebagai berikut:
1. Grammar Translation Method (1800 – 1900)
2. Direct Method (1890 – 1930)
3. Structural Method (1930 – 1960)
4. Reading Method (1920 – 1950)
5. Audiolingual Method (1950 – 1970)
6. Situational Method (1950 – 1970)
7. Communicative Approach (1970 – present)

Seperti pada pernyataan yang dikemukakan diatas, dijelaskan bahwa dari kelima periode pengembangan kurikulum tersebut, landasan atau pendekatan yang digunakannya hanya mencakup tiga, yakni Pendekatan Audiolingual melandasi kurikulum tahun 1963 hingga kurikulum 1975, Pendekatan Komunikatif Lemah melandasi kurikulum tahun 1986 – 1994, dan pendekatan Komunikatif Kuat melandasi kurikulum tahun 2004 hingga sekarang.
a. Kurikulum tahun 1963 – 1975 menggunakan pendekatan audiolingual
Pendekatan Audiolingual adalah aliran linguistik struktural yang dikembangkan di Amerika Serikat. Aliran struktural ini memandang bahasa sebagai suatu sistem yang secara struktural diantara unsur-unusurnya saling berkaitan. Dalam perspektif ini, unsur fonem secara struktural dapat dikonstruksi menjadi morfem, morfem menjadi kata, kata menjadi frase, frase menjadi kalusa dan klausa menjadi kalimat. Karena itu, aliran struktural mempunyai karakteristik berikut:
(1) Unsur-unsur bahasa secara linier dapat digabungkan menjadi unsur yang lebih besar, unsur bahasa dapat diuraikan secara struktural pada setiap tahap (misalnya, fonem, morfem, dan kata).
(2) Tahapan kebahasaan dipandang sebagai sistem dalam sistem, yakni secara piramidal terstruktur, misalnya fonem dapat dibentuk menjadi mofem dan morfem menjadi kata, dan kata dapat dikonstruksi menjadi frase, klausa dan kalimat. Pandangan lain dari aliran ini adalah bahasa dipandang sebagai tuturan (speech). Maksudnya adalah siswa cenderung belajar berbicara terlebih dahulu sebelum belajar membaca dan menulis.
Kurikulum pada pendekatan audiolingual ini menganut model linier, yakni bahan ajar diorgansisaikan dari mudah ke sulit dengan fokus pada keterampilan berbahasa lisan dan begerak ke keterampilan berbahasa tulis setelah siswa menguasai unsur-unsur bahasa yang diseleksi dan diorganisiskan secara berjenjang dan linier. Karena itu, silabus yang digunakan dalam kurikulum ini adalah gabungan antara silabus berbasis struktural dan keterampilan.

b. Kurikulum tahun 1986 – 1994 menggunakan pendekatan komunikatif (lemah)
Pendekatan pada kurikulum ini dikatakan komunikatif yang lemah karena menggunakan bahasa itu sendiri dan silabus dikembangkan disekitar tema, struktur, fungsi, dan situasi. Jadi pendekatan komunikatif lemah memiliki kriteria silabus gabungan dan pengembangan silabus yang bersifat sintetik. Kurikulum tahun 1986 – 1994 menggunakan silabus gabungan, yakni bertumpu pada tema atau anak tema, fungsi bahasa, situasi, dan struktur bahasa.
c. Kurikulum tahun 2004 hingga sekarang menggunakan pendekatan komunikatif (kuat)
Pendekatan pada kurikulum ini dikatakan komunikatif yang kuat karena saat belajar, siswa menggunakan bahasa itu sendiri, tatabahasa tidak menjadi fokus, silabus diorganisasikan disekitar kegiatan-kegiatan komunikasi (communicative tasks); pendekatan dalam pengembangan silabus bersifat analitik. Analitik dimaksudkan bahwa bahasa harus sesuai dengan konteks penggunaannya dan layak diterapkan dalam pembelajaran dan dapat mencapai sasaran.

Harold Palmer dalam Richard (2005: 4) menjelaskan tentang metode yang struktural pada tahun 1920 dan disimpulkan dalam metode pengajaran bahasa, yaitu:
1. Persiapan yang pertama : Diorientasikan kepada siswa dalam belajar bahasa.
2. Bentuk agenda rutinitas : Membentuk rutinitas yang benar.
3. Ketepatan : Menjauhi bahasa yang tidak akurat.
4. Gradasi :Setiap masing-masing langkah, siswa menyiapkan kegiatan selanjutnya.
5. Usul : Setiap aspek bahasa diberikan penegasan.
6. Dasar : Perubahan dari yang kongkrit menjadi abstrak.
7. Konkrit : Memberikan nilai daya tarik dalam setiap waktu.
8. Berdasarkan urutan : Mendengar sebelum berbicara, dan keduanya sebelum menulis.
9. Pendekatan banyak fungsi : banyak perbedaan arah jalan untuk mengajarkan banyak bahasa.
Nunan (1991:279) menawarkan 5 ciri khas utama Pembelajaran Bahasa Komunikatif, yaitu:
o Penekanan pada pembelajaran untuk berkomunikasi melalui interaksi dalam bahasa sasaran;
o Pengenalan teks otentik dalam situasi pembelajaran;
o Pemberian kesempatan bagi pelajar untuk berfokus bukan saja pada bahasa tetapi juga pada proses belajar itu sendiri;
o Peningkatan pengalaman pribadi pelajar sendiri sebagai unsur yang memberikan sumbangan terhadap hasil belajar di kelas; dan
o Upaya menghubungkan pembelajaran bahasa di kelas dengan pengaktifan bahasa di luar kelas.
Semua bentuk pengajaran pastinya disesuaikan pada pilihan yang konkrit dari seluruh mata pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Hal ini berkaitan dengan dua aspek pilihan utama yang telah ditentukan sejak abad 20, yaitu : seleksi kosakata dan seleksi gramatika. Bagaimanapun, frekuensi dan tingkat merupakan bagian yang tidak cukup dalam pengembangan daftar kata, karena kata memiliki frekuensi yang tinggi dan tingkat yang mendalam pada teks menulis terhadap pengajaran bahasa. Terdapat kriteria-kriteria yang digunakan dalam menentukan daftar kata, yaitu:
1. Dapat diajarkan : Dalam pengajaran bahasa yang menggunakan metode secara langsung seperti TPR (Total Physical Response) mengajarkan kosakata yang konkret karena dalam metode ini kosakata dapat diajarkan melalui sebuah ilustrasi gambar atau demonstrasi.
2. Sama/mirip : Beberapa kata dipilih karena mirip dengan kata-kata yang digunakan oleh penutur asli. Contohnya : Bahasa Inggris dan Bahasa Perancis memiliki bahasa-bahasa yang sama asalnya, seperti: table, page, nation.
3. Tersedia : Beberapa kata mungkin tidak asing tetapi harus tersedia, guna agar mereka dapat berpikir cepat ketika dalam beberapa topik kata-kata tidak mucul kembali. Misalnya: kelas diibaratkan dengan bangku, guru, siswa, dan guru.
4. Ulasan : Kata-kata yang memiliki arti lain (kiasan) dapat digunakan. Misalnya : Tempat duduk bisa diartikan sebagai bangku, dan kursi.
5. Kemampuan yang ditetapkan : Beberapa kata dapat dipilih karena berguna pada kata-kata yang telah ditetapkan, walaupun kata-kata tersebut berada diantara frekuensi kata yang digunakan dalam bahasa. Misalnya pada kata “container” dapat ditetapkan pada kata ember, kendi/guci, dan kardus.
Seleksi Gramatika dan Gradasi (Peningkatan)
Perlunya pendekatan sistematis untuk memilih tata bahasa untuk dalam pengajaran menjadi hal yang diprioritaskan dalam linguistik terapan sejak tahun 1920. Seleksi gramatika dapat digunakan pada ungkapan-ungkapan bahasa, misalnya asking permission, asking opinion, asking help, dan sebagainya. seleksi gramatika dapat dijabarkan pada dua aspek, yaitu : simple (terarah pada pusat), frekuensi, dan dapat dipelajari.
Can I ask you a question?
May I have a piece of cake?
Could I get you to turn off the lights?
Do you mind if I smoke?
Would you mind if I asked you something?
Is it okay if I sit here?
Would it be all right if I borrowed your lawn mower?
Lima buku yang telah ditemukan dalam memperkenalkan 221 item gramatikal yang berbeda, meskipun semuanya sangat bervariasi dalam jumlah item gramatikal yang ada, hal ini tidak diragukan lagi dalam memengaruhi persepsi peserta didik baik yang mudah ataupun sulit pada masing-masing buku. Item-item pada masing-masing buku tersebut, diantaranya: Textbook A = 100 , Textbook B = 148, Textbook C = 74 , Textbook D = 91 , dan Textbook E = 84.
Materi gramatika harus bertingkat. Bahasa dalam sejumlah kasus, bahwa kita belajar bahasa dari seluruh rangkaian preposisi, kegunaan dan kebutuhan, dan semua itu akan dipilih sesuai dengan tingkat kepentingannya. Tentu saja jika kita terdiri dari studi sadar mekanisme bahasa tertentu, maka sesuai dengan prinsip gradasi, kita belajar ini penting agar meninggalkan rincian untuk tahap berikutnya. Tujuannya adalah untuk mengembangkan struktur, dinilai menjadi perkembangan yang logis, yang akan memberikan pengenalan yang bertahap ke tata bahasa bahasa Inggris. Pendekatan yang digunakan adalah analitik. prinsip-prinsip berikut telah digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan silabus tata bahasa, diantaranya:
1. Simplicity and Centrality
Gramatika yang berdasarkan aspek ini dijelaskan bahwa pengajaran gramatika harus simple yang berarti tidak ruwet dan terarah pada pusat gramatika. Misalnya:
The train arrived (Subject Verb)
She is a journalist (Subject Verb Complement)
The Children are in the bedroom (Subject Verb Adverb)
We ate the fruit. (Subject Verb Object)
I put the book in the bag (Subject Verb Object Adverb)
Ada beberapa contoh yang memiliki kriteria yang sama, yaitu:
Having neither money nor time, we decided buying a ticket to the opera was out of the question for her to speak to us like that was something we had never anticipated.
2. Frekuensi : frekuensi yang sering terjadi berpengaruh pada pengembangan silabus gramatika, tetapi memiliki sedikit kemajuan yang relatif dalam struktur gramatika yang akan dianalisis. Contoh dari data yang telah diambil oleh Mc. Carthy and Carter (1995) melaporkan data yang diambil dari bahasa percakapan dan mengidentifikasi sejumlah fitur tata bahasa yang diucapkan, tidak biasanya termasuk dalam silabus pengajaran standar. Contohnya:
Subject dan Verb, such as “ Don’t know” daripada “I don’t know”. Topik yang menjadi sorotan seperti “ That house on the corner, is that where you live? Bagian yang berada di akhir kalimat “You know, don’t they? Diberitakan verba yang terdiri dari “I was saying” they were telling me”
3. Learnability (dapat dipelajari) : bahwa pokok-pokok gramatika termasuk dalam silabus. Gramatika silabus dapat dipelajari dalam pembelajaran bahasa kedua. Misalnya, Dulay dan Burt (1973, 1974) menjabarkan pembentukan kata menjadi sebuah gramatika, berdasarkan data yang diperoleh dari wawancara yang telah dilakukan pada seorang pembelajar bahasa kedua dalam tahap level pendidikan yang berbeda, yaitu:
1. Nouns 11. Wh-Questions
2. Verbs 12. Present Continous
3. Adjectives 13. Directions
4. Verb be 14. Possesive Adjectives
5. Possesive Pronoun 15. Comparatives
6. Personal Pronoun 16. Offers
7. Adverbs of time 17. Simple Future
8. Requests 18. Simple Past
9. Simple present 19. Infinitives/gerunds
10. Futures 20. First Conditional
Meskipun validitas yang menjadi bahan untuk dipertanyakan, terdapat gagasan bahwa struktur gramatikal diperoleh dalam tatanan alam dan informasi yang tepat bahwa bisa menjadi manfaat praktis dalam perencanaan silabus tata bahasa.
Pendekatan gradasi terdiri dari : Arah linguistik, unsur-unsur intrinsik, kebutuhan berkomunikasi, dan frekuensi. Di samping faktor-faktor, dalam merancang pembelajaran dihadapkan dengan pilihan antara dua pendekatan dalam urutan item setiap pembelajaran, yaitu linear atau cyctical atau spiral gradation. Dengan gradasi linear, item diperkenalkan satu per satu waktu dan berlatih secara intensif sebelum item berikutnya muncul. Berdasarkan siklus gradasi, item yang diperkenalkan kembali pada bagian dari keseluruhan pembelajaran.

III. PENUTUP

Kurikulum merupakan sebuah dokumen yang berisi tentang perencanaan pembelajaran yang disusun sebagai pedoman guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Kurikulum terdiri dari komponen – komponen yang saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain. Komponen yang membentuk sistem kurikulum akan melahirkan sistem pengajaran, dan sistem pengajaran itulah yang akan menjadi pedoman guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar di dalam kelas.
Kurikulum sebagai dokumen tidak berarti bila tidak diimplementasikan. Implementasi kurikulum terjadi pada proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran guru memegang peranan penting dalam mengimplementasikan kurikulum. Dengan kata lain, guru adalah salah satu kunci utama keberhasilan penerapan kurikulum. Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah. Adapun peranan guru dalam pengembangan kurikulum antara lain: implementers, adopters, developers, dan researchers.
Pengembangan kurikulum merupakan proses yang sangat penting karena harus dikaji secara mendalam dan komprehensif agar tidak terjadi kesalahan. Kesalahan pada pengembangan kurikulum akan berakibat pada praktik kurikulum di lapangan. Untuk itu, pengembang kurikulum perlu mengetahui prinsip prinsip dan landasan pengembana kurikulum agar dapat menyusun kurikulum yang efisien dan efektif serta menjawab tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang dinamis.
Sampai saat ini, kurikulum di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan. Hal tersebut tentu saja akibat dari sifat masyarakat yang dinamis. Karena hal itu juga, kurikulum bahasa mengalami pengembangan dari waktu ke waktu. Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus adalah upaya penyesuaian kurikulum dengan perkembangan IPTEK dan tuntutan kebutuhan masyarakat.

Oleh: Elriani, Heni Yusnidar Sinaga, Rabithah Sari Siregar (PB NONREG ’12)

DAFTAR PUSTAKA

Brown, James Dean. 1995. The Elements of Language Curriculum. Boston USA: An International Thomson Publishing Company.

Hamalik, Oemar.2005. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Nation, I.S.P and Macalister, J. 2010. Languace Curiculum Design. New York: Routlegde.

Richards, Jack C.2005. Curriculum Develelopment in Language Teaching. New York: Cambridge University Press.

Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Prinsip-prinsip Pengajaran Bahasa

A. PENDAHULUAN
Mengajar adalah sebuah proses yang dilakukan seseorang (dalam hal ini adalah guru) yang memungkinkan terjadinya pembelajaran pada siswa. Pengajaran tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran. Oleh karena itu, guru dituntut untuk dapat memfasilitasi siswa secara efektif agar terjadi pembelajaran dimana siswa berperan aktif dalam mengembangkan dirinya untuk mencapai berbagai kecakapan.
Namun, sering kali seorang guru, khususnya yang belum memiliki banyak pengalaman mengajar, memilih metode pengajaran secara acak tanpa mengetahui teori yang mendasarinya dan tanpa mempertimbangkan karakteristik siswa. Padahal, apabila guru mengetahui prinsip prinsip pengajaran bahasa dan menerapkannya dalam pengajarannya, maka proses belajar mengajar akan menjadi lebih baik.
Makalah ini berisi dua belas prinsip pengajaran bahasa yang dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu: kognitif, afektif, dan linguistik. Prinsip prinsip ini diambil dari pendekatan pengajaran bahasa.

B. ISI
Menurut Brown (2001) ada dua belas prinsip pengajaran bahasa dan keduabelas prinsip tersebut dipetakan menjadi tiga bagian, yaitu: Kognitif, Afektif, dan Linguistik

Prinsip Prinsip Kognitif

Dikatakan prinsip kognitif karena pada umumnya berkaitan dengan fungsi mental dan intelektual. Menurut pandangan kognitif proses belajar yang terjadi dalam diri individu adalah suatu proses penerimaan informasi. Belajar dimulai dari input yang datang dari lingkungan diterima oleh panca indera, kemudian diproses dan disimpan di dalam memori dan output dari pembelajaran adalah berbagai kemampuan atau competencies. (Jamaris: 2010)
Ada lima prinsip kognitif, yaitu: Otomatisasi, Pembelajaran Bermakna, Antisipasi Penghargaan, Motivasi Intrinsik, dan Strategi Investasi. Berikut adalah uraian lebih detail tentang kelima prinsip kognitif tersebut.

Prinsip 1: Otomatisasi
Anak biasanya memperoleh bahasa dari lingkungan. Pada awalnya anak anak mendengarkan dan mengamati orang lain yang menggunakan suatu bahasa dan tanpa disengaja apa yang didengar dan diamatinya tersebut akan masuk ke alam bawah sadarnya. Ketika akhirnya dia siap menggunakan bahasa maka dia akan mempraktekkan apa yang didengar atau diamatinya tersebut. Anak anak sering kali tidak memikirkan apa yang diucapkannya, dalam artian, mereka menggunakan bahasa secara otomatis tanpa takut membuat kesalahan.
Pembelajar bahasa, baik anak anak maupun orang dewasa, diharapkan dapat mengadaptasi cara seorang anak memperoleh bahasa dari lingkungan. Artinya, mereka harus mampu memproduksi bahasa tanpa memikirkan kata per kata, atau berfokus pada struktur dan bentuk kalimat. Dimulai dari memproses bahasa yang sepatah demi sepatah lambat laun menjadi lebih lancar dan otomatis. Dengan begitu bahasa yang dipelajari tidak hanya berupa pengetahuan tetapi merupakan kompetensi.
Yang perlu diperhatikan pada prinsip otomatisasi antara lain:
• Penyerapan bahasa secara tak sadar melalui komunikasi langsung di dalam kelas.
Pembelajar perlu difasilitasi dengan bahasa target dalam berbagai kesempatan. Belajar bahasa dimulai dengan mendengar, maka guru disini berperan sebagai Language Model. Guru menyampaikan pelajaran dengan bahasa target sekaligus menunjukkan bahasa yang benar pada siswa. Apabila terjadi pengulangan beberapa kata atau kalimat dalam pembelajaran, misalnya guru mengatakan, ”Clean the white board, please!”, ”Open your book page 21”, ”Be quiet, please!” pada awalnya mungkin siswa tidak mengetahui artinya, namun, apabila guru sering mengulang kalimat tadi, secara tidak sadar kalimat tadi akan masuk ke ingatan jangka panjangnya dan bertahan disana. Siswa juga akan menggunakan kalimat kalimat tersebut ketika berada pada situasi yang mirip atau serupa. Hal ini juga berlaku pada pembelajaran bahasa Indonesia.
• Penggunaan bahasa yang efisien dan lancar difokuskan pada maksud daripada bentuk.
Jane Willis dalam Hammer () mengatakan, ”Terkadang kami mempelajari bentuk kalimat setelah siswa menyelesaikan tugas mereka, hal ini dilakukan untuk memperbaiki kesalahan struktur yang dilakukan siswa dalam penggunaan bahasa ketika melakukan tugas, atau ketika dirasa siswa akan lebih leluasa menggunakan bahasa apabila tidak mengetahui struktur bahasa tertentu”. Dapat disimpulkan mengapa Jane Willis memberi penjelasan tentang struktur atau bentuk (grammar) adalah agar siswa lebih fokus pada penyampaian maksud daripada hanya berdiam diri karena takut membuat kesalahan.
• Menghindari analisis bentuk bahasa ketika memproduksi ujaran.
Prinsip otomatisasi tidak mengatakan bahwa berfokus pada bentuk bahasa akan berbahaya atau menghambat kelancaran penggunaan bahasa namun prinsip ini lebih menganjurkan pada pembelajaran yang bermakna dengan lebih menggunakan bahasa sebagaimana fungsinya (menyampaikan maksud, berkomunikasi) pada konteks otentik.

Beberapa implikasi dari prinsip otomatisasi pada pembelajaran, antara lain:
1. Biasanya pembelajaran bahasa dimulai dengan pengenalan pada sistem bahasa (struktur, fonologi, wacana, dll.) karena tidak ada peraturan yang melarang pembelajaran yang demikian. Namun, jangan sampai karena mempelajari bentuk siswa menjadi tidak otomatis dalam menggunakan bahasa. Beri penekanan lebih pada penyampaian maksud agar dapat menggunakan bahasa dengan lancar.
2. Pastikan pembelajaran bahasa berfokus pada penggunaan bahasa. Gunakan bahasa yang otentik pada setiap kesempatan (Hadley: 2001). Hadley juga menuliskan, ”Siswa harus terus didorong untuk mengekspresikan maksud mereka seawal mungkin setelah keterampilan produktif (berbicara, menulis) dipelajari”. Dengan menggunakan bahasa sesuai konteks (seperti berbicara tentang hobi, cita cita, harapan, dll.), siswa akan lebih leluasa menyampaikan pendapat dan maksud. Pembelajaran yang demikian juga akan bertahan di memori jangka panjang.
3. Otomatisasi tidak dapat dicapai dalam semalam, maka, guru perlu melatih siswa dengan sabar dan terus membantu mereka mencapai kefasihan.

Prinsip 2: Pembelajaran Bermakna
Brown (2007) mengatakan bahwa situasi pembelajaran bisa bermakna jika (1) pembelajar memiliki perangkat pembelajaran bermakna, yaitu sebuah kecenderungan untuk mengaitkan kegiatan pembelajaran baru dengan apa yang telah mereka ketahui, dan (2) kegiatan pembelajaran itu sendiri punya kemungkinan bermakna bagi pembelajar, yaitu bisa dihubungkan dengan struktur pengetahuan pembelajar. Proses pada pembelajaran bermakna mirip dengan pendekatan pemrosesan informasi yang menyatakan bahwa murid mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut. Inti dari pendekatan ini adalah proses berpikir. (Santrock: 2007).
Pembelajaran bermakna merupakan tantangan bagi pembelajaran hafalan yang merupakan proses penguasaan materi secara terpisah pisah dan acak, yang tidak memungkinkan pembentukan makna. Pembelajaran bermakna akan bertahan lebih lama di ingatan siswa.

Beberapa implikasi dari prinsip pembelajaran bermakna pada pembelajaran, antara lain:
1. Ajak siswa berbicara tentang bakat, minat, harapan, dan pandangan mereka tentang sesuatu agar mereka terdorong untuk berbicara.
2. memberikan scaffolding, menjembatani siswa dengan pengetahuan sebelumnya sebelum memperkenalkan pengetahuan selanjutnya, agar siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan mudah.
3. Hindari teknik yang sering dipakai pada pembelajaran hapalan, seperti:
a. Terlalu banyak penjelasan tentang struktur atau bentuk bahasa.
b. Terlalu banyak teori dan prinsip bahasa.
c. Terlalu banyak latihan (drilling) dan hafalan.
d. Kegiatan pembelajaran yang tidak jelas.
e. Kegiatan pembelajaran yang hanya merupakan kumpulan pengetahuan dan tidak bermakna.

Prinsip 3: Antisipasi Penghargaan
Manusia secara umum dikendalikan oleh ”reward” tertentu dalam melakukan sesuatu. Manusia melakukan sesuatu karena memiliki maksud dan tujuan. Hal itu adalah hasil dari perilaku seperti teori Skinner tentang operant conditioning. Dalam pembelajaran, penghargaan (reward) seringkali membuat siswa semangat untuk belajar, hanya saja ketika guru tidak lagi memberi suatu reward, maka siswa akan kurang termotivasi. Apabila siswa tidak memiliki motivasi untuk belajar tentu saja tujuan pembelajaran tidak akan tercapai.

Beberapa implikasi dari prinsip ini pada pembelajaran, antara lain:
1. memberikan reinforcement dalam bentuk verbal (pujian) atau nonverbal (acungan jempol) daripada materi. Tapi hindari pujian yang berlebihan karena akan membuatnya menjadi tidak bermakna. Pemberian reinforcement cukup ditujukan untuk membuat siswa tetap termotivasi.
2. Beri dorongan pada siswa untuk saling memuji atau memberikan motivasi.
3. Pada kelas dengan tingkat motivasi yang sangat rendah, guru dapat memberikan reward berupa gambar atau sticker lucu agar siswa lebih termotivasi.
4. Jadilah guru yang dapat menarik perhatian siswa. Menciptakan suasa kelas yang menyenangkan dengan memvariasikan metode pengajaran dan memfasilitasi pengajaran dengan alat bantu belajar yang menimbulkan semangat belajar siswa.
5. Memberitahu siswa kegunaan jangka panjang penguasaan bahasa yang mereka pelajari dengan menunjukkan apa apa saja yang bisa mereka raih dan dapatkan di masa mendatang apabila mereka dapat menggunakan bahasa tersebut dengan baik.

Prinsip 4: Motivasi Intrinsik
Motivasi Intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya, murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu. (Santrok: 2007). Reward yang paling kuat adalah yang berasal dari diri sendiri. Apabila siswa memiliki motivasi intrinsik, maka tanpa ada penghargaan dari guru pun siswa akan tetap belajar. Mereka bahkan tidak butuh guru lagi!.
Untuk itu, peran guru dalam menangani siswa dengan motivasi intrinsik yang tinggi adalah dengan pertama tama mencari tahu apa yang mendasari motivasi intrinsik siswa. Dengan mengetahui alasannya, maka guru akan dapat memilih kegiatan pembelajaran atau metode pengajaran yang merespon kebutuhan siswa sekaligus memupuk motivasi mereka.

Prinsip 5: Investasi Strategi
Beberapa dekade lalu, pembelajaran bahasa sebagian besar menekankan pada penyampaian bahasa pada siswa. Pembelajaran yang berhasil bergantung pada guru, buku teks, bahkan struktur bahasa. namun, beberapa tahun terakhir, telah banyak penelitian tentang pembelajar yang berhasil dan tidak berhasil dan guru sekarang lebih berfokus pada peran murid dalam pembelajaran. Proses pembelajaran bergeser dari teacher centered menjadi learner centered.
Metode yang digunakan pembelajar dalam usahanya untuk memahami dan menampilkan suatu bahasa sama pentingnya dengan metode yang digunakan guru dalam mengajar. Dapat dikatakan, kesuksesan penguasaan bahasa kedua atau bahasa asing terletak pada “investasi” pembelajar bahasa pada waktu, usaha, dan perhatiannya pada bahasa yang dipelajari. Setiap siswa memiliki atau menggunakan metode atau strategi yang berbeda beda dalam mengirimkan dan menerima suatu bahasa, untuk itu guru perlu memberi perhatian yang sama pada semua siswa agar dapat menyesuaikan kegiatan belajar dengan kebutuhan siswa. Prinsip investasi strategi ini merupakan pengingat bagi guru untuk memberi sebanyak banyaknya perhatian pada tiap tiap siswa.
Beberapa implikasi dari prinsip strategi investasi pada pembelajaran, antara lain:
1. Memberikan perhatian yang sama pada semua siswa.
2. Mengetahui gaya belajar masing masing siswa.
3. Menggunakan teknik pengajaran yang bervariasi disesuaikan dengan gaya belajar para siswa. Teknik yang bervariasi akan ”menggapai” sebagian besar siswa.

Prinsip-prinsip Afektif

Belajar merupakan upaya sadar untuk mencapai perubahan perilaku secara keseluruhan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek afektif memegang peranan yang penting dalam menentukan tingkat kesuksesan dalam belajar, bekerja, ataupun kegiatan yang lainnya.
Afeksi mengacu kepada emosi atau perasaan. Ranah afektif adalah sisi emosional dalam perilaku manusia, dan dapat disandingkan dengan sisi kognitif. Emosi atau perasaan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor kepribadian, perasaan tentang diri sendiri maupun tentang orang lain yang berhubungan dengan dirinya. Banyak variabel yang terlibat dalam mengkaji sisi emosional perilaku manusia dalam proses pembelajaran bahasa seperti rasa harga diri, rasa percaya diri, kenal akan diri sendiri, dan percaya akan kemampuan diri sendiri (Brown, 2008:166-167)
Dalam belajar bahasa, seseorang harus yakin pada dirinya sendiri agar berhasil dengan baik. Jika seseorang merasa dirinya mampu melaksanakan suatu tugas atau memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, ia akan berupaya secara optimal demi mencapai keberhasilan. Sebaliknya, seseorang dengan kepercayaan diri yang rendah cenderung membayangkan kegagalan karena kurangnya kemampuan sejak awal.
Siapapun yang belajar bahasa kedua harus benar-benar menyadari bahwa dalam belajar bahasa tidak boleh takut salah. Karena seperti anak-anak yang sedang belajar bahasa pertama yang mengalami peningkatan kemampuan bahasa atau bahasanya akan menjadi lebih baik dengan belajar dari kesalahan.
Ada empat prinsip yang termasuk ke dalam kelompok prinsip pengajaran bahasa afektif ini. Keempatnya ditandai dengan adanya keterlibatan emosional, baik secara pribadi sebagai pelajar atau yang berhubungan dengan orang lain sebagai makhluk sosial.

Prinsip 6: Ego Bahasa (Language Ego)
Menurut prinsip ini, apabila seseorang belajar untuk menggunakan bahasa kedua, maka ia juga mengembangkan identitas kedua (cara berpikir, merasa, dan bertindak) terkait dengan bahasa kedua yang dia gunakan. Jika siswa belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, mereka akan mengalami krisis identitas karena mereka sedang mengembangkan identitas kedua. Kadang kala siswa merasa bingung karena mereka kurang memahami budaya dan cara hidup penutur asli bahasa kedua tersebut. Misalnya, siswa merasa dirinya konyol atau dipermalukan ketika dia membuat kesalahan dalam pemilihan kata atau tata bahasa dalam berkomunikasi. Dalam hal ini siswa akan merasa rapuh, defensif dan menimbulkan berbagai hambatan.

Implikasi dalam pengajaran:
1. Guru selalu bersikap mendorong siswa untuk tidak cemas dalam menggunakan bahasa target. Salah satu upaya untuk mengurangi kecemasan siswa yaitu dengan mencoba mengemas materi pelajaran mulai dari yang mudah secara bertahap sampai pada tahap yang sulit ataupun menantang.
2. Brown (2001: 62) menegaskan bahwa karena adanya unsur kerapuhan pada diri siswa dalam belajar bahasa, maka guru seharusnya memperlakukan mereka dengan penuh kelembutan dan sikap yang bijak. Dalam hal ini, kesabaran dan pengertian diperlukan untuk menahan emosi mereka sehingga dapat mempermudah proses penguasaan bahasa kedua tersebut.

Prinsip 7: Percaya Diri (Self Confidence)
Prinsip ini sangat penting dikembangkan dalam diri pembelajar bahasa karena akhir dari keberhasilan yang dicapai siswa tergantung pada prinsip percaya diri sehingga siswa bisa memahami pelajaran tersebut. Dengan kata lain, keyakinan pembelajar akan kemampuannya akan menjadi faktor berhasilnya dalam mencapai tujuan.
Dalam hal ini disampaikan bahwa sangat penting bagi para pembelajar untuk yakin pada diri sendiri agar berhasil mengerjakan serangkaian tugas yang diberikan. Pembelajaran bahasa kedua bisa sangat melelahkan hingga para pembelajar bisa dan sering kehilangan momentum karena dikepung banyaknya keraguan diri. Salah satu peran terpenting dari guru yang baik adalah memudahkan siswa-siswanya meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Implikasinya terhadap pengajaran yaitu:
1. Guru sebaiknya mencoba menemukan apa yang siswa bisa dan apa yang siswa tidak bisa. Ini penting untuk mengembangkan sikap percaya diri pada diri siswa. Salah satu caranya adalah mengajukan pertanyaan yang kira-kira siswa mampu menjawabnya.
2. Materi pelajaran sebaiknya ditata mulai dari yang mudah ke yang sulit agar siswa merasa mampu mengerjakan tugasnya. Guru memulai pelajaran dengan hal-hal yang mudah dan memberikan contoh-contoh yang akrab dengan kehidupan siswa.
Prinsip 8: Pengambilan Resiko (Risk-Taking)
Prinsip ini bermanfaat untuk menumbuhkan keberanian siswa agar tidak takut menggunakan bahasa target. Prinsip ini menyarankan agar siswa dibiasakan untuk berani mengambil resiko dalam menggunakan bahasanya dengan tidak takut berbut salah. Seperti yang dikemukakan oleh Brown (2008: 174) bahwa para pembeljar harus mampu sedikit berjudi, harus bersedia menguji coba firasat tentang kemampuan berbahasa dan mengambil resiko salah. Prinsip ini sering digunakan siswa-siswa yang berhasil dalam belajar bahasa.
Implikasinya dalam pengajaran:
1. Guru harus kreatif dalam menciptakan atmosfir kelas yang kondusif untuk mendorong siswa agar secara tidak sadar memaksa dirinya untuk menggunakan bahasa target. Seperti mengajukan pertanyaan sederhana dalam bahasa target tentang hal-hal yang akrab dengan siswa.
2. Guru juga dapat menyediakan tantangan yang masuk akal yang tidak mudah dan tidak terlalu sulit. Seperti menantang siswa membuat teka-teki menggunakan bahasa target.
3. Guru juga harus memberi penguatan kepada siswa dengan memberikan pujian pada siswa yang berani menggunakan bahasanya.

Prinsip 9: Hubungan Bahasa dan Budaya (The Language-Culture Connection)
Prinsip ini berfokus pada hubungan kompleks antara bahasa dan budaya. Dalam kehidupan manusia, bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tak terpisahkan karena bahasa termasuk bagian dari budaya, sehingga menjadi sangat penting dalam pembelajaran bahasa kedua. Sebaliknya, bahasa juga merupakan faktor penting dalam pengembangan dan pemertahanan budaya.
Budaya mengacu kepada gagasan, kebiasaan, keterampilan, seni, dan piranti yang mencirikan sekelompok orang dalam sebuah periode waktu tertentu. Budaya melibatkan sikap, nilai, keyakinan, norma, dan perilaku yang dianut bersama oleh sebuah kelompok tetapi dijaga secara berbeda oleh setiap unit spesifik di dalam kelompok yang bersangkutan, dikomunikasikan lintas generasi, relatif stabil tetapi mempunyai peluang untuk berubah seiring waktu (Matsumoto, 2000 dalam Brown, 2007:206-207).
Pendidikan bahasa kedua masih didominasi oleh pandangan esensialis budaya di mana sikap dan kemampuan bahasa siswa sangat dipengaruhi oleh stereotip, budaya, etnis, regional, atau agama mereka. Untuk mengatasi ini, diperlukan pendekatan desentralisasi dan lokalitas, di mana guru dan siswa mengenali dan memahami keragaman dan kompleksitas budaya mereka.
Apabila seseorang guru mengajarkan suatu bahasa, maka guru juga mengajarkan sistem yang kompleks dari adat, budaya, nilai, dan cara berpikir, merasa, dan bertindak penutur asli bahasa tersebut. Bahasa dan budaya saling terkait, oleh karena itu, jika seseorang berhasil belajar suatu bahasa, dia juga belajar sesuatu dari budaya si penutur asli bahasa itu. Dengan kata lain, pemahaman lintas-budaya merupakan aspek penting dalam belajar bahasa.

Implikasinya dalam pengajaran:
1. Guru bahasa dapat membahas perbedaan lintas-budaya dengan siswa dengan menekankan bahwa tidak ada budaya yang lebih baik daripada budaya yang lain dan menekankan bahwa mempelajari budaya bahasa target adalah penting untuk praktiknya nanti.
2. Guru juga dapat menggunakan bahan-bahan tertentu yang menggambarkan hubungan antara bahasa dan budaya serta membahas aspek sosiolinguistik bahasa. Seperti mengambil bahan untuk materi ajar tentang kebudayaan dari majalah ataupun media lainnya.
3. Untuk membuat pengajaran lebih hidup guru juga dapat menampilkan tayangan yang berkenaan dengan aspek budaya, dan sebagainya. Seperti menampilkan video tentang kebiasaan atau hal-hal yang lazim yang sering dilakukan oleh pengguna bahasa target.
4. Selain memperkenalkan budaya bahasa target guru juga memperkenalkan budaya bahasa sendiri dan membandingkan perbedaan-perbedaannya.

Prinsip-prinsip Linguistik

Kategori ini berpusat pada bahasa itu sendiri dan bagaimana peserta didik memahami sistem linguistik yang kompleks. Berdasarkan teori-teori kebahasaan, dirumuskan prinsip-prinsip mengenai pengajaran bahasa, antara lain kemampuan berbahasa adalah sebuah proses kreatif, maka siswa harus diberi kesempatan yang luas untuk mengkreasi ujaran-ujaran dalam situasi komunikatif yang sebenarnya, bukan sekedar menirukan dan menghafalkan, pemilihan materi pelajaran pada kebutuhan komunikasi dan penguasaan fungsi-fungsi bahasa, dan kaidah-kaidah dapat diberikan sepanjang hal itu diperlukan oleh siswa sebagai landasan untuk dapat mengkreasi ujaran-ujaran sesuai dengan kebutuhan komunikasi.
Ada tiga prinsip pengajaran bahasa yang termasuk ke dalam kelompok linguistik ini, yaitu prinsip pengaruh bahasa ibu, prinsip antarbahasa, dan prinsip kompetensi komunikatif.

Prinsip 10: Pengaruh Bahasa Ibu
Prinsip ini menekankan pentingnya bahasa ibu siswa dalam upaya mempelajari bahasa kedua karena bahasa ibu siswa memberikan pengaruh yang kuat terhadap akuisisi sistem bahasa target. Pengaruh ini dapat bersifat mendukung atau mengganggu proses produksi dan pemahaman bahasa yang baru, dan ternyata efek mengganggu cenderung lebih menonjol.
Ada dua bentuk pengaruh bahasa ibu yaitu interfering and facilitating. Dalam hal ini dimisalkan bahasa ibu yaitu bahasa Indonesia dan bahasa target adalah bahasa Inggris. kesamaan pola kalimat bahasa Indonesia dan bahasa Inggris membantu siswa dalam menganalisis kalimat-kalimat pada bahasa target. Sebaliknya, perbedaan pola frase nomina yang diterangkan oleh adjektiva yang berlawanan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sering kali menyulitkan bagi siswa yang berbahasa Indonesia mempelajari bahasa Inggris. Misalnya pada kata rumah besar dalam bahasa Indonesia dan big house dalam bahasa Inggris. dengan mengetahui dua bentuk pengaruh ini guru dapat mengidentifikasi kesalah siswa dalam menggunakan bahasa target yang disebabkan oleh pengaruh bahasa ibu.

Implikasi dalam pengajaran:
1. Guru seharusnya mengagap kesalahan siswa sebagai jendela yang menjadi dasar dalam memberikan umpan balik yang tepat kepada siswa. Setiap kesalahan yang dilakukan oleh siswa harus dikomentari oleh guru dan diberi penjelasan tentang hal yang benarnya.
2. Memberi pemahaman kepada siswa bahwa tidak semua sistem bahasa ibu mereka akan menyebabkan kesalahan pada bahasa target. Memberi pemahaman juga bahwa bahasa ibu dapat memfasilitasi mereka menggunakan bahasa target dan mengurangi interferensinya.
3. Mengajak siswa untuk berpikir dalam bahasa kedua, bukan mencari terjemahan kata atau frase, tetapi lebih baik menggunakan langsung dari bahasa kedua.

Prinsip 11: Antar Bahasa (Interlanguage)
Prinsip antarbahasa ini menekankan adanya pengaruh bentuk-bentuk bahasa terhadap bahasa yang lain. Pembelajar bahasa kedua cenderung mendapatkan pengaruh dari bentuk-bentuk bahasa terdahulu saat mereka berusaha untuk menguasai bahasa kedua. Terkadang bahasa asli ditransfer secara negatif, maka terjadilah interferensi. Akan tetapi, penting juga untuk diingat bahwa bahasa asli pembelajar bahasa kedua sering juga ditransfer secara positif sehingga memudahkan dalam belajar bahasa kedua.
Interferensi bahasa merupakan sumber kesalahan yang paling mencolok di kalangan pembelajar bahasa kedua. Sering kali, siswa beranggapan apa yang mereka pahami atau katakan adalah benar, tetapi dari sudut pandang penutur asli, belum tentu benar. Misalnya, seorang pelajar mengatakan “Does John can sing?” Mungkin pelajar ini yakin bahwa dia sudah menggunakan gramatika yang benar karena berdasarkan pemahaman bahwa pertanyaan dalam bahasa Inggris memerlukan auxiliary do. kajian antarbahasa memang sering menghasilkan analisis kesalahan, untuk itu guru harus mampu membedakan setiap kesalahan agar mudah untuk memberikan penjelasan untuk perbaikan nantinya.

Implikasi dalam pengajaran:
1. Guru membedakan antara kesalahan interlanguage dan kesalahan lainnya.
2. Memberi toleransi untuk bentuk kesalahan interlanguage tertentu yang mungkin timbul dari proses perkembangan logis siswa.
3. Tidak membuat siswa merasa bodoh karena kesalahan interlanguage; misalnya dengan mengatakan “I can understand why you said ‘I go to the doctor yesterday’, but try to remember that in English we have to say the verb in the past tense. Okay?”
4. Memberikan umpan balik kepada siswa dan member pesan bahwa melakukan kesalahan bukanlah sesuatu yang buruk. Karena dari kesalahan dapat membuat pemahaman yang kuat pada bahasa target.
5. Menciptakan kegiatan dimana siswa dapat mengoreksi kesalahannya sendiri.
6. Guru sebagai penilai harus mampu menyeleksi tiap kesalahan dan memaparkan kesalahan dengan bijak dan tidak menyudutkan siswa.

Prinsip 12: Kompetensi Komunikatif
Prinsip ini menekankan bahwa kompetensi komunikatif merupakan tujuan dari kelas bahasa. Mengingat bahwa kompetensi komunikatif adalah tujuan dari kelas bahasa, pembelajaran perlu menunjuk ke arah semua komponennya: organisasi, pragmatis, strategis. dan psikomotor. Tujuan komunikatif akan tercapai dengan baik melalui penggunaan bahasa yang tidak hanya untuk tujuan akurasi tetapi juga untuk kefasihan atau kelancaran dan kegunaannya di dunia nyata.

Beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan dalam menerapkan prinsip ini dalam kelas bahasa:
1. Penjelasan tata bahasa hanya bagian dari sebuah pelajaran atau kurikulum, sehingga jangan mengabaikan komponen penting lainnya (misalnya, fungsional, sosiolinguistik, psikomotor, dan strategis) dari kompetensi komunikatif.
2. Jangan lupa mengajarkan kemampuan psikomotor (pengucapan) karena terlalu antusias mengajar aspek fungsional dan sosiolinguistik. Misalnya, melatih pronunciation dan intonasi berbicara dalam bahasa target.
3. Pengajaran bahasa menekankan pada autentisitas, interaksi, dan komunikasi untuk kepentingan sehari-hari. Contohnya mengajarkan bagaimana cara menanyakan informasi dalam bahasa target dan lain sebagainya.
4. Siswa harus memiliki kesempatan untuk mendapatkan kefasihan dalam bahasa Inggris tanpa harus terus waspada terhadap kesalahan-kesalahan kecil karena sesungguhnya mereka belajar dari kesalahan-kesalahan itu.
5. Mempersiapkan siswa menjadi pembelajar mandiri nantinya ketika sudah selesai dari kelas yang guru ajarkan.

III. PENUTUP

Pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulis dalam berbagai konteks komunikasi. Oleh karena itu, pengajaran bahasa memperhatikan prinsi-prinsip belajar bahasa dan kemudian mengimplementasikannya ke dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Prinsip-prinsip yang telah dijelaskan di atas merupakan fondasi utama dalam praktik pengajaran bahasa.

Implementasi prinsip-prinsip pengajaran bahasa dapat disimpulkan sebagai berikut. Siswa akan belajar bahasa dengan baik bila memiliki tujuan dan minat, diberi kesempatan berpartisipasi dalam penggunaan bahasa secara komunikatif dalam berbagai macam aktivitas, bila ia secara sengaja memfokuskan pembelajarannya kepada bentuk, keterampilan, dan strategi untuk mendukung proses pemerolehan bahasa, ia disebarkan dalam data sosiokultural dan pengalaman langsung dengan budaya yang menjadi bagian dari bahasa target, menyadari akan peran dan hakikat bahasa dan budaya, diberi umpan balik yang tepat menyangkut kemajuan mereka, dan diberi kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka sendiri.
Dengan diimplementasikannya prinsip-prinsip ini dalam pengajaran bahasa, maka akan memudahkan guru dalam mengajar siswa belajar bahasa, khususnya bahasa target yang ingin dicapai.