Analisis Puisi Melalui Pendekatan Hermeneutika

I. PENDAHULUAN
Karya sastra merupakan hal yang indah dan tak kan habis dimakan usia.
Setiap karya sastra memiliki ciri dan keunikan masing-masing. kata-kata indah yang terdapat dalam karya sastra berasal dari gaya bahasa yang diramu secara apik.
Pada makalah ini akan membahas bebrapa karya sastra yang dihasilkan oleh para sastrawan terkemuka yakni Radhar Panca Dahana dan Afrizal Malana. Adapun karya yang akan dianalisis adalah Puisi Sajakku, Cinta dan cerpen Benarkah duri bisa melukai oleh Radhar Panca Dahana dan puisi Gadis Kita oleh Afrizal Malna.
Analisis yang digunakan dalam menganalisis karya sastra yaitu pendekatan Hermeneutika yakni mencari makna dibalik kata dari karya sastra. Dalam pendekatan ini dapat dilakukan dengan menganalisis stilistika atau gaya bahasa dan semiotika atau lambing.

II.ISI
Puisi Karya Afrizal Malna

Penulis memilih puisi berjudul ‘Gadis Kita’ untuk dianalisis. Puisi ini merupakan salah satu puisi yang dibukukan dalam kumpulan puisi karya Afrizal Malna yang berjudul ‘Arsitektur Hujan’, Empat Kumpulan Sajak Afrizal Malna (1995).

Puisi Gadis Kita oleh Afrizal Malna

O gadisku ke mana gadisku. Kau telah pergi ke kota lipstik gadisku. Kau pergi ke kota parfum gadisku. Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku. Tubuhmu keramaian pasar gadisku. Jangan buat pantai sepanjang bibirmu merah gadisku. Nanti engkau dibawa laut, nanti engkau dibawa sabun. Jangan tempel tanda-tanda jalan pada lalulintas dadamu gadisku. Nanti polisi marah. Nanti polisi marah. Nanti kucing menggigit kuning pita rambutmu. Jangan mau tubuhmu adalah plastik warna-warni gadisku. Tubuhmu madu, tubuhmu candu. Nanti kita semua tidak punya tuhan, nanti kita semua dibawa hantu gadisku. Kita semua cinta padamu. Kita semua cinta padamu. Jangan terbang terlalu jauh ke pita-pita rambutmu gadisku, ke renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati.

1985

Analisis Puisi Gadis Kita
Penulis menganalisi puisi Gadis Kita dengan pendekatan stilistika dan semiotika dengan analisis berdasarkan empat hakikat puisi, yaitu: tema, perasaan, nada, dan pesan.

1. Tema
Tema yang terdapat dalam puisi diatas adalah pelukisan dunia modern dan kehidupan urban. Dikaji dari segi semiotik, puisi ini didominasi oleh kata-kata yang mencerminkan kehidupan masyarakat urban dan dunia modern sekarang.
kota lipstik
kota parfum
kemilau neon
Kata-kata diatas mengacu pada kehidupan modern yang serba kemilau seperti yang ada sekarang yang terdapat pada tema puisi. Selain itu, stilistika atau gaya bahasa yang terdapat pada puisi menambah kaya akan bahasa yang disampaikan oleh penulis yang tentunya mendukung pada tema tersebut. adapun gaya bahasa yang terdapat dalamm puisi ini adalah:
Repetisi
Gaya bahasa repetisi ini merupakan pengulangan kata sebagai penegasan, Afrizal Malana dalam puisinya ini ingin menegaskan obyek gadis sehingga pengulangan kata gadisku banyak ditemukan di dalamnya.
O gadisku ke mana gadisku. Kau telah pergi ke kota lipstik gadisku. Kau pergi ke kota parfum gadisku. Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku. Tubuhmu keramaian pasar gadisku. Jangan buat pantai sepanjang bibirmu merah gadisku. Nanti engkau dibawa laut, nanti engkau dibawa sabun. Jangan tempel tanda-tanda jalan pada lalulintas dadamu gadisku. Nanti polisi marah. Nanti polisi marah. Nanti kucing menggigit kuning pita rambutmu. Jangan mau tubuhmu adalah plastik warna-warni gadisku. Tubuhmu madu, tubuhmu candu. Nanti kita semua tidak punya tuhan, nanti kita semua dibawa hantu gadisku. Kita semua cinta padamu. Kita semua cinta padamu. Jangan terbang terlalu jauh ke pita-pita rambutmu gadisku, ke renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati.

Selain itu, pengulangan kata nanti polisi marah juga menegaskan bahwasanya aka nada yang marah melihat tingkah laku yang diperbuat si gadis. kemudian ada juga repetisi kita semua cinta padamu yang dapat ditaksir bahwa semua orang sangat menghargai gadis-gadis yang baik dan tidak ingin melihat mereka terjerumus. Repetisi terakhir yaitu nanti ibu kita mati disebutkan sampai tiga kali, ini mengemukakan bahwa jangan sampai ada penyesalan nantinya.
Metafora
Disamping gaya bahasa repetisi, gaya bahasa lain yang banyak terdapat dalam puisi ini yaitu metafora, yaitu majas yang mengungkapkan ungkapan secara langsung berupa perbandingan analogis.
Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku
Tubuhmu keramaian pasar gadisku
Jangan buat pantai sepanjang bibirmu merah gadisku
Jangan tempel tanda-tanda jalan pada lalulintas dadamu gadisku
Jangan mau tubuhmu adalah plastik warna-warni gadisku
Tubuhmu madu, tubuhmu candu
Jangan terbang terlalu jauh ke pita-pita rambutmu gadisku, ke renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu

Kalimat-kalimat diatas menggambarkan bahwa si gadis telah berubah menjadi gadis yang sangat mengikuti modernisasi baik dari segi penampilan seperti gaya berpakaian, membuat tato bahkan operasi plastik, dalam berperilaku dan bergaul juga sudah sangat bebas dan berlebihan sehingga melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan.

Personifikasi
Ada juga gaya bahasa personifikasi, yaitu majas yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia.
Nanti engkau dibawa laut, nanti engkau dibawa sabun
Kalimat ini mengambarkan bahwa perilaku si gadis dapat membawanya ke jalan yang tidak baik, jalan yang hanya akan membawa kenikmatan sesaat namun menghayutkan pada akhirnya.
Dari penafsiran berbagai gaya bahasa dapat dilihat bahwa tema untuk puisi Gadis kita adalah gambaran kehidupan modern dan urban.

2. Perasaan
Perasaan dalam sebuah puisi adalah suatu ekspresi dari perasaan penyair yang dituangkan dalam puisi tersebut. Perasaan pengarang yang tergambar dari puisi di atas adalah gambaran dari kekhawatiran penyair tentang kehidupan urban dan kehidupan modern yang menarik orang-orang terutama para gadis menjadi lebih bebas dan glamor serta tidak mengindahkan lagi mana aturan dan mana larangan yang harusnya tidak dilakukan.
Kekhawatiran ini tampak jelas dalam keseluruhan puisi yang dibuka oleh bait O gadisku ke mana gadisku yang mengisyaratkan bahwa gadis jaman urban sudah sangat berubah tampilannya.

3. Nada dan Suasana
Nada yang menjadi cara dalam menyampaikan inti cerita, dalam puisi ini penyair mencoba membuka kesadaran manusia tentang efek dari kehidupan modernisasi dan kehidupan urban yang mulai merasuk dalam kehidupan sederhana masyarakat sebelumnya. Penyair tidak menggurui, hanya saja mencoba memberikan nasihat atas gambaran mengenai kehidupan masyarakat modern. Hal ini terbukti dari cara penyair dalam memberikan pengertian dengan mempertanyakan kemana gadisnya yang dulu ada.
Suasana yang ditimbulkan oleh puisi tersebut adalah menyadarkan bahwa kehidupan modern tidak selamanya membawa dampak positif, dampak negatif ternyata jauh lebih besar, khususnya bagi para gadis yang masih lugu yang dengan mudahnya tergiur oleh kehidupan yang gemerlap. Oleh karena itu kita harus memperhatikan pergaulan bukan hanya pergaulan para gadis saja seperti yang difokuskan pada puisis ini, tetapi juga pergaulansiapa saja agar tidak terjerumus dan semakin memperparah keadaan ibu pertiwi.
4. Pesan (Amanat)
Gaya bahasa merupakan hal yang dapat membangkitkan rasa bahasa pada setiap karya sastra. Begitu juga dalam karya Afrizal Malna dalam puisi Gadis Kita. terdapat beberapa jenis gaya bahasa yang memeperindah bait-bait puisinya. Dibalik indahnya bait-bait puisi tentunya ada tersirat pesan yang harus dipahami. Puisi ini menggambarkan kehidupan para gadis jaman sekarang yang mulai berkiblat pada gemerlap dunia.
Puisi ini juga memiliki pesan yang harus diresapi oleh para gadis yang ada di Indonesia mengingat banyaknya perubahan yang dilakukan para gadis pada era modern ini, terutama pada sikap dan perilaku. Jika gadis-gadis berkelakuan tidak pantas, maka ibu pertiwi akan menangis bahkan mati. Karena para gadis sangat berpengaruh dalam segala bidang.

BIOGRAFI

Afrizal Malna lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Sejak menamatkan SLA pada tahun 1976, Afrizal Malna tidak melanjutkan sekolah. Pada tahun 1981, ia belajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, sebagai mahasiswa khusus hingga pertengahan dikeluarkan pada tahun 1983. Pada usia 27 tahun, Afrizal Malna menikah. Selama kurang lebih sepuluh tahun ia pernah bekerja di perusahaan kontraktor bangunan, ekspedisi muatan kapal laut, dan asuransi jiwa. Sekarang lebih banyak berkiprah di bidang seni, sebagai sutradara pertunjukan seni, kurator seni instalasi, penyair dan penulis. Bukunya antara lain: Abad Yang Berlari (1984), Perdebatan Sastra kontekstual (1986), Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990), Arsitektur Hujan (1995), Biography of Reading (1995), Kalung Dari Teman (1998), Sesuatu Indonesia, Esei-esei dari pembaca yang tak bersih (2000), Seperti Sebuah Novel yang Malas Mengisahkan Manusia, kumpulan prosa (2003), Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2003), Novel Yang Malas Menceritakan Manusia (2004), Lubang dari Separuh Langit (2005). Penghargaan yang pernah diterima:
– Kincir Perunggu untuk naskah monolog dari Radio Nederland Wereldomroep (1981)
– Republika Award untuk esei dalam Senimania Republika, harian Republika (1994)
– Esei majalah Sastra Horison (1997)
– Dewan Kesenian Jakarta (1984).

Puisi Karya Radhar Paca Dahana
Penulis memilih puisi berjudul ‘Sajakku, Cinta’ untuk dianalisis. Puisi ‘Sajakku, Cinta’ adalah salah satu puisi yang dibukukan dalam antologi puisi karya Radhar Panca Dahana yang berjudul ‘Lalu Waktu’, sajak dalam tiga kumpulan (1985 1994).
Sajakku, Cinta
: rianti
jika sungai ini cairan waktu
cinta hanyut di dalamnya, hanya,
lebih panjang jarak alirnya
lebih luas batas tepinya
lebih deras kuat arusnya
lebih bening corak warnanya
lebih tak mungkin merumuskannya
tapi, tentang itu
telah terlanjut kita bicara,
“hei kekasih, mana kau senang
tenggelam atau berenang?”

1985
Analisis
Penulis menganalisi puisi Sajakku, Cinta dengan pendekatan stilistika dan semiotika dengan analisis berdasarkan empat hakikat puisi, yaitu: tema, perasaan, nada, dan pesan.
1. Sense (tema, arti)
Salah satu cara untuk mengetahui tema puisi adalah dengan melihat judul puisi. Dari judulnya, puisi ’Sajakku, Cinta’ dapat dikatakan bertemakan cinta. Selain dari judulnya, dapat dilihat juga kata kata yang ada dalam puisi.
: rianti
Jika sungai ini cairan waktu
Cinta hanyut di dalamnya, hanya,
Kutipan puisi di atas semakin menunjukkan kepada pembaca bahwa puisi tersebut bertemakan cinta dan tertuju kepada Rianti. Apabila dikaitkan dengan penulisnya, istri Radhar Panca Dahana bernama Evi Aprianti. Jadi, kemungkinan Rianti pada puisi ini adalah istrinya sendiri. Jadi, puisi ini ditujukan penyair kepada kekasihnya.
2. Feling (perasaan)
Untuk menjelaskan perasaan penyair tentang cinta, penulis mengutip sebagian puisi ‘Sajakku, Cinta’ dan menganalisisnya dengan pendekatan stilistika dan semiotika seperti berikut:
jika sungai ini cairan waktu
Pertama tama penulis menggunakan majas metafora yang mengibaratkan waktu dengan sungai.
cinta hanyut di dalamnya, hanya,
penulis juga menggunakan majas personifikasi, karena cinta tidak dapat hanyut.
lebih panjang jarak alirnya
aliran disini diibaratkan sebagai rasa cinta. Rasa cinta terjalin seiring berjalannya waktu dan dapat bertahan dalam waktu yang lama.
lebih luas batas tepinya
cinta itu tak terbatas, tidak ada yang tau dengan tepat kapan cinta datang dan pergi.
lebih deras kuat arusnya
arus diibaratkan halangan dan rintangan serta gejolak yang timbul dalam menjalin hubungan percintaan.
lebih bening corak warnanya
bening disini diartikan suci. Artinya cinta itu suci.
lebih tak mungkin merumuskannya
cinta itu tidak mudah untuk dijelaskan dengan rumus dan alasan tertentu.

Dari analisis di atas, penulis menyimpulkan bahwa perasaan penyair terhadap cinta adalah bahwa cinta merupakan suatu perasaan yang dapat berlangsung dalam waktu yang panjang, tak tahu pasti kapan bermula dan berakhirnya, perlu perjuangan dalam menghadapi rintangan yang ada didalamnya, namun juga adalah suatu yang suci dan terlalu rumit untuk didefinisikan dengan kata kata.
3. Tone (nada)
Penyair seolah seorang teman yang ingin memberi tahu pembaca tentang cinta menurut pendapatnya, seperti yang telah disebutan di atas, dan secara tidak langsung bertanya kepada pembaca apakah dengan kerumitan cinta tadi, pembaca akan menyerah atau malah berusaha mempertahankannya. Hal tersebut merupakan kesimpulan dari dua baris terakhir puisinya,

“hei kekasih, mana kau senang
tenggelam atau berenang?”
penulis beranggapan bahwa tenggelam disini adalah menyerah dan berenang adalah berjuang mempertahankan cinta.
4. Intention (tujuan, pesan)
Tujuan atau pesan yang penulis tangkap dari puisi dia atas adalah bahawasanya cinta adalah sesuatu yang kompleks dan tidak mudah, butuh perjuangan untuk mendapatkan cinta yang sejati. Untuk itu, kita sendiri yang harus memutuskan untuk menyerah atau berjuang mempertahankannya.
BIOGRAFI
Radhar Panca Dahana merupakan sastrawan Indonesia. Pria kelahiran Jakarta, 26 Maret 1965 ini mengawali karirnya dalam bidang sastra sejak kecil. Sedari dulu ia gemar menulis, cerpen pertamanya “Tamu Tak Diundang” dimuat di Kompas saat usianya menginjak 10 tahun. Sebenarnya ia tak hanya mendapatkan julukan sebagai sastrawan, karena kerap kali ia mendapatkan julukan sebagai esais, kritikus sastra, dan jurnalis.
Minatnya dalam bidang menulis terlihat sejak umur 5 tahun, saat dirinya sering tidak pulang ke rumah dan ditemukan di kawasan Bulungan sedang melihat teater. Kepiawaiannya dalam bidang sastra dan tulis menulis kemudian membawanya menjadi seorang cerpenis dan reporter lepas di sebuah majalah remaja, Zaman. Saat itu, ia sangat giat mengirimkan karya-karyanya di berbagai rubrik majalah. Ia juga sering diminta mengisi kolom di rubrik olahraga, kebudayaan, pendidikan, berita kriminalitas, dan hukum.
Radhar merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Semasa kecil, ia sering memberontak dan tak mengikuti aturan yang ada. Baik itu di sekolah maupun di rumah. Didikan orang tuanya yang otoriter dan kerap memukul membuatnya ingin mengekspresikan diri melalui sendiri dan ia memilih menyalurkan bakat di bidang kesenian meski orang tuanya tak setuju dengan pilihannya, karena orang tuanya menginginkan Radhar untuk menekuni bidang seni lukis.
Radhar yang memberontak rupanya saat itu juga mempunyai rasa takut terhadap ayahnya. Saat ia sering mengirimkan karya di berbagai media, ia takut ketahuan ayahnya dan akhirnya memakai nama samaran, Reza Mortafilini, yang mengibarkan namanya melalui dunia jurnalistik. Namun, tak lama berselang, Radhar kembali menggunakan nama aslinya. Hal inilah yang membuat kemarahan sang ayah semakin menjadi dan akhirnya membuatnya tidak pulang ke rumah dengan mulut berdarah dan teriakan “Tidak ada demokrasi di sini.” Saat itu ia duduk di kelas 2 SMP. Saat ia bekerja sebagai wartawan lepas di majalah Hai.
Perjuangan Suami dari Evi Apriani dalam menunjukkan ‘eksistensinya’ dalam dunia tulis menulis dan sastra pada orang tuanya banyak menemui jalan terjal. Sampai akhirnya, namanya banyak dikenal orang dan membuatnya meraih penghargaan Paramadina Award pada tahun 2005. Tak hanya itu, faktor kesehatan yang nyatanya sangat mengganggu kegiatan ayah dari Cahaya Prima Putra Dahana rupanya tak mampu membendung semangat berkaryanya. Radhar yang dinyatakan terkena penyakit komplikasi ini nyatanya masih asik dan menikmati dunia sastra bagai kulit yang melekat pada tulang. Ia tak gentar dan menyerah dengan penyakit yang mengharuskannya untuk cuci darah setiap bulannya. Ia menikmati hidupnya sebagai orang yang merdeka, karena jika ia dilarang melakukan sesuatu, maka ia akan semakin menjadi untuk melakukan sesuatu tersebut.
Saat ini, Radhar aktif sebagai dosen jurusan Sosiologi Universitas Indonesia di samping sebagai sastrawan sekaligus kritikus dan budayawan.
PENDIDIKAN
• Sosiologi Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Perancis, 2001
• Sosiologi FISIP Universitas Indonesia, 1993
KARIR
• Dosen Sosiologi Universitas Indonesia
• Penulis
• Reporter lepas
• Redaktur tamu
PENGHARGAAN
• Frix de le Francophonie, 2007
• Paramadina Award, 2005
• Duta Terbaik Pusaka Bangsa, Duta Lingkungan Hidup sejak tahun 2004
• Terpilih sebagai satu di antara lima seniman muda masa depan Asia versi NHK, 1996
Buku:
• Kabut Manusia, 2009
• Dalam Sebotol Coklat Cair (esai sastra, 2007)
• Metamorfosa Kosong (kumpulan drama, 2007)
• Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia (esai humaniora, 2006)
• Riwayat Negeri yang Haru, 2006
• Cerita-cerita dari Negeri Asap (kumpulan cerpen, 2005)
• Jejak Posmodernisme (2004)
• Jakarta City Tour: Tragedi, Ironi, dan Teror, 2003
• Lalu Waktu (kumpulan sajak, 2003)
• Menjadi Manusia Indonesia (esai humaniora, 2002)
• Ideologi Politik dan Teater Modern Indonesia, 2001
• Masa Depan Kesunyian, 1997
• Pelajaran Mengarang: Cerpen Pilihan Kompas, 1993
• Lalu Batu (antologi puisi)
http://profil.merdeka.com/indonesia/r/radhar-panca-dahana/

III.PENUTUP
Karya sastra sarat dengan makna yang sangat berguna bagi kehidupan. Makna yang ada dibalik karya sastra juga dapat diambil secara tersurat dan tersirat. Namun untuk mengambil pesan dan makna yang ada dalam karya sastra tidak semudah yang diperkirakan karna banyak sastrawan menggunakan bahasa-bahasa figuratif seperti lambing-lambang dalam menciptakan karya sastra.
Oleh karena itu, menganalisis karyasastra melalui pendekatan semiotika dan stilistika memudahkan kita untuk menganalisis makna dibalik kata-kata yang dirangkai oleh penyair.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s