PERILAKU ANARKIS DALAM CERPEN JAKARTA, SUATU KETIKA KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA

A. PENDAHULUAN
1. Latar belakang

Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium yang menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Selain itu, peristiwa-peristiwa dalam batin seseorang sering menjadi bahan sastra karena hal itu merupakan pantulan hubungan seseorang dengan orang lain dan masyarakat. Masyarakat, budaya, politik, kemiskinan, kekuasaan dan jabatan merupakan cerminan kehidupan yang ada di dunia ini.

Cerita yang terdapat dalam cerpen Jakarta, Suatu Ketika karya Seno Gumira Ajidarma merupakan gambaran perilaku masyarakat yang terjadi pada masa peralihan orde baru ke masa reformasi yang terjadi pada tahun 1998. Karena kondisi negara yang carut marut masyarakat melakukan aksi-aksi anarkis untuk menentang pemerintah pada masa itu. Cerpen ini perlu dikupas lebih dalam lagi untuk mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan anarkisme dan perilaku-perilaku yang berkaitan dengannya. Hal ini dimaksudkan agar memberi pencerahan kepada masyarakat tentang anarkisme dan perilaku-perilaku anarkis.

Cerpen ini ditelaah melalui pendekatan sosiologi sastra karena pada dasarnya cerpen ini bercerita tentang keadaan masyarakat pada saat itu. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa sosiologi adalah telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat; telaah tentang lembaga dan proses sosial (Damono: 1979: 7). Sementara sastra merupakan suatu karya yang dibuat melalui realita pada masyarakat yang ada. Sosiologi dan sastra bukanlah dua bidang yang sama sekali berbeda garapan, melainkan dapat dikatakan saling melengkapi. Senada dengan pernyataan Levin (Elizabeth dan burns, 1973:31) dalam Endaswara (2008: 79) “Literature is not only the effect of social causes but also the cause of social effect”. Hal ini memberikan arah bahwa sosiologi sastra mempunyai pengaruh hubungan yang timbale balik antara sosiologi dan sastra.

Hal penting dalam sosiologi sastra adalah konsep cermin yang dalam kaitan ini sastra dianggap sebagai mimesis (tiruan) masyarakat. Sastra bukan sekedar copy kenyataan, melainkan kenyataan yang telah ditafsirkan. Kenyataan tersebut bukanlah jiplakan yang kasar, melainkan sebuah refleksi halus dan estetis. Itulah sebabnya Hall menatakan bahwa “The concept of literature a social referent is, however, perfectly visible since it takes into account the writer’s active concern to understand hid society” (Endaswara: 2008: 78).

Karya sastra yang akan dibahas dalam makalah dalam cerpen ini menggunakan konsep cermin seperti yang ada pada sosiologi sastra. Istilah cermin sendiri merujuk pada berbagai perubahan dalam masyarakat. Menurut Lowenthal (Laurenson dan Swingewood, 1972: 16-17) dalam Endaswara (2008:88) sastra sebagai cermin nilai dan perasaan, akan merujuk pada tingkatan perubahan yang terjadi dalam masyarakat yang berbeda dan juga cara individu menyosialisasikan diri melalui structure sosial.

Konsep cermin telah dikembangkan oleh Abrams dalam bukunya The Mirror and The Lamp bahwa karya sastra adalah cermin kehidupan. Senada dengan ini, Ian Watt (1964: 300-313) dalam artikelnya yang berjudul Literature and Society mengemukakan tiga pendekatan, yaitu: (a) pendekatan cermin, yang mencoba meniliti karya sastra dapat mencerminkan keadaan masyarakat pada waktu karya ditulis, (b) pendekatan konteks sosial pengarang dan (c) pendekatan fungsional sastra (Endaswara: 2008: 89).
Untuk memahami karya sastra ini akan dilakukan melalui konsep pendekatan cermin agar dapat diketahui lebih dalam lagi apa saja perilaku yang terjadi, khususnya menyoroti perilaku anarkis yang terjadi dalam cerpen ini.

2. Landasan Teori
Seperti yang sudah dikemukakan di atas bahwa sastra merupakan cerminan masyarakat yang disampaikan dengan penuh nilai estetika. Karya sastra cenderung memantulkan keadaan masyarakat, mau tidak mau akan menjadi saksi zaman. Dalam kaitan ini, pengarang ingin berupaya untuk mendokumentasikan zaman dan sekaligus alat komunikasi antara pengarang dan pembacanya. Hal ini juga diakui olehBert van Heste bahwa karya sastra merupakan alat komunikasi kelompok dan juga individu (Endaswara: 2008: 89).

Hal itulah yang dilakukan oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya Jakarta, Suatu Ketika. Seno mencerminkan keadaan negeri ini yang sedang kacau balau dan penuh dengan aksi-aksi anarkis yang terjadi di setiap sudut kota. Dalam cerpen ini akan kita lihat perilaku anarkis seperti apasaja yang dilakukan oleh massa pada saat itu.

Sebelum mengetahui makna perilaku anarkis kita perlu mengetahui makna dari perilaku dan juga makna anarkisme. Perilaku merupakan aktifitas yang di lakukan manusia dengan motif dan tujuan tertentu. Dalam sosiologi, perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak ditujukan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang sangat mendasar (Wikipedia.org). Perilaku yang dilakukan oleh manusia bisa dipengaruhi faktor dari dalam serta faktor dari luar diri manusia. Baik buruknya perilaku ditentukan oleh baik atau buruknya faktor yang mempegaruhinya. Baik buruknya perilaku juga di pengaruhi kondisi fikiran seseorang ketika dia sedang menampilkan prilaku tersebut. Jadi prilaku manusia akan muncul sebagai hasil atau realisasi dari apa yang ada dalam fikiran manusia dengan motif dan tujuan tertentu.
Sedangkan kata ‘anarki’ berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti tidak adanya pimpinan, tidak adanya pemerintahan. Anarkisme juga berarti kacau balau, huru hara dan kekacauan. Etimologi kata ini menandai hal yang khas dari anarkisme: penolakan terhadap akan otoritas tersentral atau negara tunggal (Sheehan: 2003: 23). Menurut Peter Kropotkin, anarki berarti “melawan penguasa” dan “Anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. ia dimulai diantara manusia, dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan manusia (Kropotkin dalam http:/ /anarkisme/Berux_xXx Anarkisme.htm).

Secara politik, anarkisme bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (politik, ekonomi, maupun sosial). Para anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Para anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Seperti yang dikatakan Bakunin :

“Bahwa kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidak adilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan”

Perilaku anarkis adalah wujud paham yang memandang bahwa pemerintahan dan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menindas masyarakat sehingga harus dihancurkan (Wikipedia.org). Dalam sejarahnya, para anarkis dalam berbagai gerakannya kerap kali menggunakan kekerasan sebagai metode yang cukup ampuh dalam memperjuangkan ide-idenya, seperti para anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz, grup N17 di Yunani.

Perusakan atas aset negara, melukai individu lainnya merupakan perbuatan yang dibenarkan oleh pelaku anarkis sebagai cara metode propaganda by the deed yaitu untuk menggerakkan massa untuk memberontak (Bakunin dalam http:/ /anarkisme/Strategi Pelembagaan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Mencegah Sikap Anarkis Pada Budaya Demokrasi _ Offisial Website Kongres Pancasila.htm). Penggunaan kekerasan dalam anarkisme sebagai aksi langsung (perbuatan yang nyata) sebagai jalan yang ditempuh, yang berarti juga melegalkan pengrusakan, kekerasan, maupun penyerangan (https://sites.google.com/site/nimusinstitut/cinta-dalam-anarkisme-kontemporer).

Adapun beberapa jenis anarkis adalah sebagai berikut:
• Anarkisme- kolektif : diasosiasikan sebagai anti otoritarian (penghapusan bentuk negara)
• Anarkisme komunis : menekankan pada persamaan, penghapusan kelas, distribusi kesejahteraan, serta produksi kolektif.
• Anarko sindikalisme : menekankan pada kebebasan individual
• Anarkisme Instruksioner : menentang segala bentuk organisasi formal

Sikap anarkis ini muncul dikarenakan beberapa faktor, yaitu faktor internal maupun faktor eksternal dari individu suatu masyarakat. Secara internal dikarenakan ketidakmampuan seseorang dalam mengelola emosinya pada saat mengalami masalah ataupun ketidakberdayaan, sehingga tidak dapat memisahkan emosi dan logika pada saat berfikir, menganggap pendapat paling benar, karakteristik masyarakat yang mudah terprovokrasi. Faktor eksternal dikarenakan tidak adanya respon dari stakeholder/ pemerintah ketika demonstrasi terjadi, terdapat provokator yang memiliki kepentingan tersembunyi, tatacara demonstrasi yang tidak kondusif memicu emosi, solidaritas menyimpang, serta pengaruh media (http://anarkisme/Strategi Pelembagaan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Mencegah Sikap Anarkis Pada Budaya Demokrasi _ Offisial Website Kongres Pancasila.htm).

Anarkis dalam bentuk apapun merupakan ancaman sosial yang apabila meluas menjadi ancaman nasional terhadap pertahanan keamanan negara sehingga diperlukan cegah awal, tangkal awal, dan tanggap awal. Selain itu, dampak dari perilaku anarkis tentu akan menjadi traumatik bagi penderitanya. Perilaku anarkis juga menimbulkan kerugian materil yang sangat besar. Besar harapan untuk menghapuskan atau setidaknya mengurasi perilaku-perilaku anarkis yang dilakukan sekelompok orang untuk kepentingan pribadi.

B. PEMBAHASAN
Dalam cerpen Jakarta, Suatu Ketika karya Seno Gumiro Ajidarma diceritakan tentang gambaran keadaan kota Jakarta melalui bidikan kamera seorang jurnalis. pada shoot yang diambilnya banyak tergambar perilaku-perilaku anarkis. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, perilaku anarkis dapat berupa penjarahan, tindak kerusuhan dan huru-hara, pembakaran dan pengerusakan fasilitas umum. Berikut ini merupakan analisis perilaku-perilaku anarkis yang terdapat dalam cerpen.
(a) Orang-orang berteriak dan berlari dengan wajah ketakutan. Mobil-mobil berbalik ke selatan dengan panik… “Kembali! Mereka membakar mobil! mereka membakar apa saja”.
(b) …. Belum sempat saling memaki, massa tiba. Para pengemudinya disuruh keluar. Ketiga mobil itu di bakar.
(c) Aku berlari keluar. Kulihat orang-orang mulai membakar toko-toko di sepanjang jalan. Para pemilik toko tidak bisa berbuat apa-apa…
(d) Aku berlari dengan sisa tenaga. Sepanjang jalan semua toko dibakar tanpa sisa. …
(e) …, dibantingnya boneka itu, di injak-injaknya, lantas ia menyulut korek api, mengangkat boneka itu dari lantai dan membakarnya di depan wajah Sari.
(f) …Sayup-sayup kudengar juga jeritan orang-orang yang terbakar.
Dalam cuplikan teks di atas perilaku anarkis yang dilakukan yaitu membuat kerusuhan dengan cara membakar mobil, toko, gedung-gedung dan membakar apa saja yang bisa mereka bakar. Pelaku aksi anarkis ini adalah sekelompok massa yang tak dikenal yang sedang dalam keadaan emosi yang tak terkontrol.
(g) TELE SHOOT. Seorang pemuda mulutnya menganga dan mengepalkan tinjunya. ….
(h) TELE SHOOT. Para pelajar SMA menyandera sebuah bis kota. Sopirnya disuruh turun, lantas seseorang menggantikannya. …. Mereka naik keatap dan meneriakkan yel-yel….
(i) Orang-orang berlari di jalanan. “Bakar! Bakar! Bakar!”
Diberbagai pojok terlihat kerumunan dan orang-orang meneriakkan yel-yel
Dalam cuplikan di atas terlihat seseorang yang mungkin adalah seorang orator yang mendukung aksi anarkis yang terjadi. Jadi, dalam suatu aksi anarkis pastinya ada orang-orang yang dikhususkan untuk menjadi provokatornya. Sementara para pelajar SMA merupakan pengikut yang telah terprovokasi. Perilaku anarkis yang mereka lakukan adalah menimbulkan kekacauan dan huru-hara dengan meneriakkan yel-yel untuk memprovokasi.
(j) CLOSE UP. Dinding-dinding kaca pecah.
(k) LONG SHOOT. Gedung terbakar. Mengapa ia menuang bensin, menyalakan korek api dan membakar gedung itu?
Cuplikan diatas memperlihatkan akibat dari perilaku anarkis yaitu gedung-gedung yang kacanya pecah dan rusak serta aksi anarkis seseorang dengan tanpa berdosanya membakar gedung itu dengan tujuan yang tidak tahu pasti untuk apa.
(l) … Pembakaran dirayakan seperti sebuah pesta tahunan. Asap hitam mengepul dimana-mana membuat langit menjadi gelap…. Api menghanguskan setiap benda hasil kerja manusia selama ini. Aku berada di tengah para penjarah. Mereka memasuki gedung-gedung yang terbakar. Mereka masuk menembus api dan keluar lagi dengan barang-barang jarahan….
(m) Tolong saya terjebak api! tolong!
Orang-orang mendengar tapi seperti tidak mendengarnya. Mereka mengangkat pesawat TV, menyeret kulkas, ….. Seorang anak kecil menyeret kasur spring bed. Aku memotret.
(n) …Orang-orang berlari keluar mengangkut barang jarahan. Dari lantai atas orang-orang melempar kardus ke bawah. Di bawah orang-orang menangkap dengan sigap,…
(o) …Semua orang tidak ingin ketinggalan melakukan penjarahan.
Cuplikan teks di atas menggambarkan perilaku anarkis orang-orang yang melakukan penjarahan di toko-toko. Mereka bahkan tidak memperhatikan keselamatan sendiri apalagi memperhatikan orang lain yang butuh pertolongan. Semua toko dijarah tanpa ampun oleh para penjarah. Sementara pemilik toko hanya pasrah menyaksikan tokonya dijarah massa. Akibat dari perilaku anarkis ini adalah kerugian materil pada para pemilik toko.
(p) Disana-sini terdengar jeritan campur aduk dengan raung kemarahan dan teriak kegembiraan. Antara yang membakar dan merusak campur aduk dengan yang menjarah dengan kebahagian habis-habisan.
Cuplikan teks di atas menggambarkan keseluruhan perilaku anarkis yang terjadi pada cerpen Jakarta, Suatu Ketika.Yakni, kerusuhan dan huru hara dengan melakukan aksi pembakaran, penjarahan dan pengerusakan.
Perilaku anarkis yang tergambar pada cerpen ini dilakukan untuk melawan pemerintahan pada masa itu. Hal ini dapat dilihat dari tahun dimana karya ini lahir dan juga melihat sejarah bangsa yang pada saat itu terjadi demonstrasi besar-besaran hampir di seluruh kota besar di Indonesia. Faktor terjadinya perilaku anarkis ini disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal perilaku ini terjadi karena mereka tidak dapat mengontrol emosi diri mereka sendiri, hal ini terlihat pada cuplikan teks (e), (g) dan (k). Sedangkan faktor eksternal terjadi karena adanya provokator, tampak pada cuplikan teks (h), (i) dan (n). Sedangkan dampak dari dari perilaku anarkis ini dapat dilihat pada cuplikan teks (a), (j) dan (p), ada yang menjadi trauma, menderita kerugian materil karena toko yang dibakar dan dijarah. Sementara dari keseluruhan cerita tampk bahwa perilaku anarkisme yang terjadi adalah untuk melawan pemerintah yang otoriter sehingga dinamakan anarkisme kolektif.

C. KESIMPULAN

Perilaku anarkis yaitu perilaku yang menimbulkan kekacauan dan huru-hara. Perilaku ini sangat identik dengan tindak kekerasa. Perilaku anarkis yang dapat dilihat dari cerpen Jakarta, Suatu Ketika karya Seno Gumira Ajidarma adalah perilaku penjarahan toko-toko, pengerusakan fasilitas pemerintah dan umum, dan melumpuhkan segala kegiatan dengan melakukan kerusuhan dimana-mana. Lebih kurang ada 16 cuplikan yang menggambarkan perilaku anarkis yang terjadi pada cerpen ini. Sedangkan jenis anarkisme yang paling menonjol secara tersirat terdapat pada cerpen ini adalah anarkisme kolektif, yaitu sikap yang anti terhadap otoritarian pemerintah. Sebagaimana diketahui bahwa pada saat itu pemerintah sangat keras dan otoriter terhadap aturannya yang sangat baku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s